IKA FKM UNAIR Beri Rekomendasi Kebijakan PSBB Surabaya Raya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Diskusi melalui Zoom oleh IKA FKM UNAIR. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Ikatan Alumni (IKA) Universitas Airlangga (UNAIR) Komisariat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) menyelenggarakan diskusi daring bertajuk “Menyikapi Kebijakan PSBB Surabaya Raya sebagai Strategi Pencegahan & Penanggulangan Covid-19”. Diskusi berlangsung pada Minggu (26/4/20) melalui aplikasi Zoom Meeting.

Diskusi yang diikuti 240 peserta Zoom dan 40 penonton live YouTube tersebut menampilkan narasumber alumni FKM UNAIR lintas angkatan. Mereka adalah Prof. Sri Sumarmi, S.K.M., M.Si (Guru Besar FKM Unair); Dr. Djazuly Chalidyanto, S.K.M.,MARS (Tim Penyusun Kebijakan PSBB Jawa Timur); Estiningtyas N., S.K.M., MARS (Ketua IKA Komisariat FKM UNAIR dan relawan tim tracing Covid-19 Jawa Timur); Agung Dwi Laksono, S.K.M., M.Kes (Peneliti Litbang Kemenkes RI); dan Moh. Yoto, S.K.M., M.Kes (Ketua Pengda Persakmi Jawa Timur dan Kabid Sumber Daya Kesehatan Dinkes Provinsi Jawa Timur).

Diskusi yang dimoderatori oleh Meytha Nurani, S.K.M., M.Sc.PH (Konsultan Bidang Kesehatan) itu berlangsung kurang lebih selama dua jam. Topik yang dibahas mulai dari peran masyarakat, sarjana kesehatan masyarakat (SKM), sinergitas organisasi profesi dalam menangani Covid-19, hingga perilaku abai masyarakat. Diskusi menghasilkan beberapa rekomendasi yang diharapkan menjadi perhatian.

“Beberapa rekomendasi diharapkan menjadi perhatian bagi para alumni FKM UNAIR, masyarakat luas dan stakeholder yang terkait dengan Covid-19,” ujar Estiningtyas selaku ketua IKA FKM UNAIR. Dari diskusi beberapa narasumber tersebut dihasilkan beberapa rekomendari sebagai berikut.

Peran Masyarakat

Peran masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19 adalah sejatinya sebagai garda depan, karena masyarakatlah yang menjadi sasaran Covid-19, mengingat Covid-19 sebagai problem di masyarakat. Dalam The five level of prevention, membagi tahapan upaya pengendalian sebuah masalah kesehatan ke dalam lima level. Level pertama sekaligus ujung tombak layanan adalah “Health Promotion”.

“Promosi kesehatan konsep dasarnya bagaimana menjaga status kesehatan seseorang atau masyarakat tetap dalam kondisi terbaik, bebas dari penyakit dan gangguan kesehatan serta hidup produktif,” paparnya.

Peran SKM

SKM sebagai agent of change turut mengkomunikasikan kepada masyarakat tentang Covid-19 dengan mendorong partisipasi RT/RW dalam pencegahan Covid-19 di lingkungan mereka. Hal ini dilakukan supaya masyarakat siap dan sadar akan bahaya Covid-19.

“Sehingga dengan sadar melakukan social/physical distancing, perilaku hidup bersih dan sehat, serta bagaimana meningkatkan aktifitas daya tahan tubuh  dalam bentuk penjagaan lingkungan dan pengendalian penyebaran,” ungkapnya.

SKM juga dapat membantu surveilans/tracking kepada individu dan masyarakat yang kontak erat dengan kasus konfirmasi Covid-19. Sebagaimana profil dan kompetensi Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM), mereka mampu melakukan kegiatan surveilan epidemiologi tanpa memandang apa peminatannya.

Esti menambahkan, lulusan SKM apapun peminatannya telah mendapatkan mata kuliah terkait. “Sehingga SKM dapat lebih dimanfaatkan memenuhi kebutuhan sebagai tenaga surveilan epidemilogi sebagaimana kebutuhan saat ini,” terangnya. (*)

Penulis : Ulfah Mu’amarotul Hikmah

Editor : Binti Q Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu