Kolaborasi FKG UNAIR-IPKESGIMI-Kelola.Net Luncurkan Alat Deteksi Stres Akibat Covid-19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Tim Kelola.net di acara Indonesia Startup Summit 2019. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Tahun 2019-2020 ini akan menjadi tahun yang selalu diingat oleh penduduk dunia, tak terkecuali warga Indonesia. Hal ini dikarenakan pada tahun 2019 inilah ditemukannya penyakit yang disebabkan oleh virus dan akhirnya tercatat pada bulan Maret 2020 sudah menyerang di lebih dari 200 negara di dunia.

Organisasi kesehatan dunia WHO merilis Coronavirus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis Coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran napas pada manusia, mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit yang kita kenal sebagai corona virus disease 2019 atau COVID-19. COVID-19 ini pertama kali di temukan ketika terjadi wabah di Wuhan, Tiongkok, pada bulan Desember 2019. Hanya dalam waktu empat bulan saja penyakit ini sudah menyebar luas menyebabkan WHO menyatakan kondisi pandemi dunia. Cara utama penyebaran penyakit ini adalah melalui percikan saluran pernapasan yang dihasilkan saat batuk.

Risiko penularan COVID-19 dari orang yang tidak ada gejala sama sekali sangatlah rendah. Namun, banyak orang yang terjangkit COVID-19 hanya mengalami gejala-gejala ringan, terutama pada tahap-tahap awal. Gejala-gejala COVID-19 yang paling umum adalah demam, rasa lelah, dan batuk kering.

Beberapa pasien mungkin mengalami rasa nyeri dan sakit, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan atau diare. Gejala-gejala yang dialami biasanya bersifat ringan dan muncul secara bertahap.

Beberapa orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apa pun dan tetap merasa sehat. Sebagian besar, yakni sekitar 80 persen, orang yang terinfeksi berhasil pulih tanpa perlu perawatan khusus. Sekitar 1 dari 6 orang yang terjangkit COVID-19 menderita sakit parah dan kesulitan bernapas, terutama pada orang-orang lanjut usia (lansia) dan orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya. Orang dengan tekanan darah tinggi, gangguan jantung atau diabetes, punya kemungkinan lebih besar mengalami sakit lebih serius.

Hingga bulan April 2020, COVID-19 telah menyerang lebih dari 2,7 juta jiwa di seluruh dunia, dengan 8.211 kasus terkonfirmasi di Indonesia, dan 690 kasus terkonfirmasi di Jawa Timur. Data dunia menyebutkan bahwa perbandingan kejadian kesembuhan dengan meninggal sebanyak 4 berbanding 1, sedangkan di Indonesia sebesar 1 berbanding 2 kasus.

Dengan kecepatan penyebaran virus ini dan juga tingginya jumlah kematian yang disebabkan oleh coronavirus ini menjadi issue pemberitaan yang ‘sexy’ dan akan menarik banyak pembaca, tak jarang pula menyebabkan banyaknya pemberitaan yang kurang bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya atau hoaks, terlebih di Indonesia yang tingkat literasinya masih cukup rendah untuk mencari klarifikasi kebenaran mengenai suatu pemberitaan.

Ketakutan terhadap COVID-19 ini ditambah dengan tingginya pemberitaan yang entah itu benar atau tidak menyebabkan tingginya risiko menyebabkan seseorang untuk menjadi stres dan rentan. Hal itu sejalan dengan pendapat Abdurachman, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang dimuat di Harian Tempo edisi 27 Maret 2020 berjudul Corona, Pernapasan, dan Ancaman Kecemasan.

Dalam artikel itu, disampaikan bahwa COVID-19 dapat menyebabkan kecemasan yang dapat memperburuk kondisi di masyarakat dan juga memiliki efek yang kurang bagus terhadap kesehatan. Di antaranya dapat menekan sistem imun yang mana sampai saat ini sistem imun adalah senjata utama pertahanan tubuh manusia melawan coronavirus.

Dalam artikelnya tersebut, Prof Abdurachman juga mengajak pembaca untuk meniru semangat ‘Jiao Wuhan’, dengan membangun semangat optimis melawan kecemasan dan merangkul keyakinan akan menang melawan pandemi ini.

Isu inilah yang ditangkap oleh Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat (IKGM) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga bekerja sama dengan tim dari kelola.net.

“COVID-19 ini sangat dapat memperburuk keadaan di masyarakat, hal ini bisa disebabkan karena munculnya kecemasan berlebih dikarenakan terlalu banyak paparan kabar maupun pemberitaan sehingga menyebabkan masyarakat menjadi lebih rapuh dan lebih stress. Ini malah menimbulkan dampak negatif ke tubuh,” papar Dr. Taufan Bramantoro, drg., M.Kes, Kepala Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat (IKGM) FKG UNAIR.

Menurut Taufan, yang menjadi masalah adalah ada stres yang terasa dan ada juga tidak terasa, tapi keduanya memiliki dampak negatif pada tubuh. “Terpikir untuk mengembangkan alat bantu untuk mengukur level stres sekaligus memberi solusi yang ternyata juga sudah dirilis oleh badan kesehatan dunia atau WHO,” lanjutnya.

Alat ukur itu merupakan alat ukur web-based sehingga sangat praktis dan dapat diakses kapanpun dan dimanapun hanya dengan mengakses https://kelola.net/kelola-stres/dari gadget atau laptop.

“Kondisi stres juga bisa berpotensi memperburuk kondisi orang yang sebenarnya sehat-sehat saja sehingga perlu dikendalikan,” ucap Taufan.

Tampilan depan aplikasi Kelola.Net untuk mendeteksi stres seseorang. (Dok. Pribadi)

CEO kelola.net Farkhan Azmi, drg., M.Kes mengatakan bahwa dengan mengidentifikasi tingkat stres dan mengetahui solusi sesuai arahan WHO, tingkat kecemasan di masyarakat pada umumnya dapat berkurang. Sementara bagi masyarakat yang berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dengan Pengawasan (PDP), dan juga pasien terkonfirmasi, diharapkan dapat meningkatkan harapan kesembuhan.

“Alat ukur ini merupakan hasil kolaborasi kami kelola.net dengan Departemen Ilmu kesehatan Gigi Masyarakat FKG UNAIR dan Ikatan Peminatan Kesehatan Gigi Masyarakat Indonesia (IPKESGIMI),” lanjut alumnus FKG UNAIR angkatan 2006 itu. (*)

Penulis: Aryo D Kusumo, drg

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu