Pakar UNAIR Inisiasi Pembuatan Anolyte Disinfektan yang Aman dan Ramah Lingkungan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

UNAIR NEWS – Beberapa waktu lalu, publik sempat ramai dengan kontroversi cairan yang digunakan dalam bilik disinfektan. Sebab beberapa kandungan dalam larutan disinfektan justru menyimpan risiko kesehatan. Menanggapi hal tersebut, Dr. Muji Harsini Dra., M.Si selaku Dosen Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR menginisiasi cairan antiseptik penyemprot pada bilik sanitasi yang aman dan ramah lingkungan.

Dr. Muji mengungkapkan, pembuatan cairan antiseptik ramah lingkungan pada bilik disinfektan merupakan upaya untuk mencegah COVID-19. Larutan antiseptik ion garam (yang dielektrolisis) dapat membunuh dan mensterilkan hidung dan tenggorokan pengguna selama inhalasi tanpa menyebabkan kesulitan bernapas, tanpa iritasi pada kulit.

“Selama ini kita dapat dengan mudah menemui disinfektan di pasaran. Seperti, minyak pinus, fenol, NaOCl, H2O2, dan Etanol.  Namun bahan-bahan tersebut memiliki efek samping bagi tubuh dan kesehatan. Untuk itu kami menggunakan bahan anloyte sebagai bahan cairan disinfektan yang aman dan ramah lingkungan,” ungkapnya

Anolyte, sambungnya, merupakan hasil elektrolisis dari larutan garam (NaCl). Ia berfungsi sebagai cairan disinfektan yang dapat membersihkan dan memiliki keuntungan dibanding senyawa klorin lainnya. Selain itu cairan ini tidak memiliki efek samping bagi manusia dan hewan, menjamin tidak ada racun dan dapat terurai dengan sendirinya tanpa harus mencemarkan lingkungan.

“Disinfektan anolyte ini terbukti secara klinis 100 kali lebih efektif dibanding pembersihan dengan pemutih dan membunuh lebih banyak 99% bakteri, virus, kuman dan pembawa penyakit berbahaya lainnya,” paparnya.

Dr. Muji juga mengungkapkan bahwa anolyte juga seringkali digunakan dalam pengolahan air minum, peternakan ayam, budidaya udang, pengolahan makanan, limbah, sanitasi rumah sakit, dll. Sementara itu dalam penerepannya di rumah sakit, anolyte digunakan untuk mencuci tangan, alat merendam dan mencuci, dekontaminasi penyimpanan air dan pipa kerja, alat mencuci dan merendam kaki, membersihkan permukaan kasar dan dekontaminasi perlengkapan ultrasound, mencuci kasur dan kursi roda, dan banyak lagi lainnya.

Anolyte dibuat melalui aktivasi elektrokimia (Electro-Chemical Activation = ECA) yang dipatenkan pertama kali di Rusia dan dikembangkan lebih dari 40 tahun. Proses aktivasinya menggunakan air, garam dan listrik. Sehingga dapat menghasilkan kandungan disinfektan yang kuat dan alami.

“Anolyte dengan bahan aktif HOCl mempunyai pH antara 2.5-5 atau pH < 5 dan baik untuk kesehatan. Sehingga kedepannya kami akan terus memproduksi dan sejauh ini kami bisa menghasilkan 80 liter setiap jamnya,” tutupnya.

Penulis: Khefti Al MawalIa

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).