Hubungan Antara Kualitas Sedimen dengan Kepadatan Avicennia sp. di Pusat Mangrove Bengkak, Banyuwangi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh seputar perikanan

Hutan bakau adalah hutan pantai yang ditemukan di muara yang dilindungi di sepanjang sungai dan laguna di daerah tropis dan subtropis. Dengan fungsi menjaga keseimbangan ekosistem air pantai, mencegah abrasi dan gelombang, serta sebagai lahan pembibitan untuk beberapa spesies fauna darat dan air. Indonesia sendiri merupakan kontributor terbesar untuk area bakau di dunia, yaitu mencapai 45%. Terutama kabupaten di Banyuwangi, luas hutan bakaunya mencapai 1,9 juta hektar dan salah satu kawasan bakaunya yaitu Pusat Mangrove Bengkak (PMB) dengan luas total 7.150 hektar.

PMB merupakan ekosistem alami yang terdiri berbagai jenis spesies bakau, antara lain : Rhizophora sp, Avicennia sp, Nypah, Pempis acidula, dll. Namun Avicennia sp. tetap mendominasi di kawasan tersebut, sebab jenis tersebut mampu mentolerir kondisi lingkungan yang ekstrem sehingga lebih mampu untuk bersaing dengan spesies yang lain. Selain itu, kawasan ini juga telah digunakan sebagai wisata bahari, di mana terdapat juga kegiatan budidaya perikanan dan pemukiman warga.

Namun, dengan adanya berbagai aktivitas manusia di kawasan PMB ternyata dapat memicu permasalahan baru, yaitu meningkatnya tekanan antropogenik pada kawasan PMB. Antropogenik sendiri merupakan sumber pencemaran non-alami, atau pencemaran yang disebabkan oleh semakin tingginya aktivitas manusia. Oleh karena itu, evaluasi terkait hubungan antara kepadatan Avicennia sp. dengan karakteritik sedimen di kawasan PMB yang semakin tinggi aktivitas manusianya, perlu dilakukan.

Dengan menentukan 3 kawasan strategis sebagai titik pengambilan sampel, mulai dari area pemukiman warga (1), area budidaya perikanan (2), hingga area paling terpencil atau area yang dirasa masih baik ekosistemnya (3) di kawasan PMB. Kemudian sampel diambil menggunakan metode belt transect, mulai dari pengambilan sampel tanah untuk mengetahui kadar Nitrat dan Fosfat, hingga pengukuran sampel bakaunya.

Hasil menyatakan bahwa terdapat 3 jenis Avicennia sp. di kawasan PMB, yaitu Avicennia alba, Avicenni lanata, dan Avicennia marina. Namun, kepadatan tertinggi dari Avicennia sp. ditemukan pada stasiun 3, kemudian diikuti stasiun 2 dan 1. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup RI tahun 1998 nomor 02, bahwa kepadatan pada stasiun 1 termasuk kategori sedang, lalu untuk stasiun 2 dan 3 termasuk kategori tinggi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa komunitas vegetasi tidak terganggu, karena berdasarkan regulasi diatas kondisi bakau masih aman. Hanya saja, tekanan antropogenik seperti; Limbah domestik dari aktivitas populasi, mempengaruhi kerapatan vegetasi di stasiun 1, karena lokasinya yang sangat dekat dengan pemukiman warga, sehingga sangat mungkin terpapar limbah rumah tangga.

Kemudian, data menyatakan bahwa kandungan Nitrat dan Fosfat pada stasiun 3 dinyatakan tertinggi, sedangkan stasiun 1 dinyatakan terendah. Oleh karena itu, hubungan Nitrat dan Fosfat dengan kepadatan bakau memiliki hubungan berbanding lurus. Artinya, semakin tinggi kandungan Nitrat dan Fosfat, maka kepadatan spesies bakau akan semakin tinggi juga. Tingginya kandungan Nitrat dan Fosfat pada stasiun 3 disebabkan oleh lokasi yang berada di muara sungai, sebab nutrisi seperti fosfor anorganik, nitrogen, kalium, dan karbon organik tersedia di kawasan muara.

Nitrat adalah produk nitrifikasi yang memiliki fungsi untuk menyuburkan ekosistem mangrove dan merupakan nutrisi utama bagi pertumbuhan tanaman. Mirip dengan Nitrat, Fosfat juga dibutuhkan oleh tanaman untuk mentransfer energi ADP dan ATP, NAD dan NADH oleh tanaman. Di alam, Fosfat dalam bentuk organik dan anorganik berasal dari kegiatan budidaya seperti; bahan organik, ekskresi, dan sekresi.

Sehingga dapat disimpulkan, bahwa kandungan Nitrat dan Fosfat pada sedimen, berpengaruh terhadap tingkat kepadatan dari Avicennia sp. Dimana salah satu peyebabnya yaitu, meningkatnya aktivitas manusia di kawasan hutan bakau.

Penulis : Suciyono

Referensi : Suciyono, Rahardja B.S, Prayoga A.I, Kenconojati H, Ulkhaq M.F. 2020. The relation between quality of the sediment (nitrate, phosphate) and Avicennia sp density, case study; Mangrove Center Bengkak, Banyuwangi Regency, East Java. IOP Conf. Series: Earth dan Environmental Science 441 (2020) 012089. doi: 10.1088/1755-1315/441/1/012089

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu