Hubungan Gratitude dan Psychological Well-Being pada Penduduk di Sekitar Lumpur Lapindo

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh CNN Indonesia

29 Mei 2006, adalah momen bersejarah bagi Sidoarjo, Jawa Timur. Pada hari itu, panasnya 100 ° C gas dan lumpur meletus dari tanah. Fenomena itu, atau lebih tepatnya, bencana alam, kemudian dikenal sebagai “Lumpur Lapindo” atau lumpur Lapindo. Desa-desa yang dilanda lumpur terletak di tiga kabupaten berbeda yaitu Tanggulangin, Porong, dan Jabon. Desa-desa yang terkena banjir adalah Renokenongo Siring (sisi timur), Jatirejo (sisi timur), Glagaharum (sisi barat), Kedungbendo Ketapang (sisi timur), dan Besuki (sisi barat). Pertumbuhan wilayah dari ketiga kabupaten tersebut dikategorikan sangat dinamis dan memiliki penduduk yang sangat padat oleh kawasan industri, permukiman, dan akses utama ke kota-kota besar di sisi selatan dan timur Sidoarjo.

Lumpur Lapindo telah menyebabkan beberapa masalah muncul. Titik letusan lumpur terletak di pemukiman padat penduduk. Sisi timur dari semburan lumpur Lapindo adalah area budidaya udang. Lumpur yang keluar menyebabkan polusi di daerah tersebut sehingga menurut perhitungan dari provinsi, petani mengalami kerugian lebih dari Rp. 13 miliar. Pasalnya, luapan area juga menggenangi kawasan industri, yang menjadi sumber pekerjaan bagi warga lokal dan warga di luar kota Sidoarjo. Diperkirakan total kerugian hingga Agustus 2007 mencapai Rp. 28,3 miliar untuk aset infrastruktur, sektor industri, dan dampak tidak langsungnya terhadap perekonomian Provinsi Jawa Timur. Selain itu, di bagian barat dari semburan lumpur Lapindo adalah rute utama yang menghubungkan kota-kota besar di selatan dan timur ke kota-kota di utara, seperti Surabaya sebagai pusat perdagangan di Jawa Timur. Ini menyebabkan puluhan ribu warga memikul beban sosial ekonomi.

Berbagai kerugian sosial ekonomi yang sama-sama dialami langsung oleh warga dan pemerintah daerah tentunya berdampak pada kesejahteraan psikologis korban bencana, yaitu warga di sekitar luapan lumpur Lapindo. Warga mengalami kehilangan rumah dan mata pencaharian, yang merupakan kebutuhan dasar manusia dan mengakibatkan sulitnya memenuhi kebutuhan dasar lainnya. Bencana semburan lumpur Lapindo menyebabkan perubahan kondisi sosial ekonomi penduduk yang terkena dampak yang berakibat pada perubahan kesejahteraan psikologis mereka.

Psychological well-being (PWB) adalah kondisi di mana seorang individu memiliki tujuan dalam hidup untuk menjadi lebih bermakna, menyadari potensi yang dimiliki, menciptakan dan mengelola kualitas hubungan mereka dengan orang lain, bertanggung jawab atas kehidupannya dan berusaha mengembangkan dan mengeksplorasi dirinya sendiri.

Salah satu faktor yang berkorelasi dengan kesejahteraan psikologis individu adalah rasa bersyukur. Syukur adalah perasaan yang terjadi ketika seseorang mengakui bahwa ia menerima manfaat berharga dari orang lain. Tujuan utama dari bersyukur adalah untuk mencerminkan kembali barang yang diterima. Penelitian menunjukkan bahwa rasa bersyukur memiliki hubungan positif dengan kesejahteraan psikologis. Rasa syukur menjadi faktor penting yang dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis individu. Namun hanya ada sedikit bukti yang membuktikan hubungan antara rasa syukur dan kesejahteraan psikologis. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan pada 80 penduduk yang tinggal di sekitar daerah semburan lumpur Lapindo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki hubungan antara rasa syukur dan kesejahteraan psikologis penduduk yang tinggal di sekitar lumpur Lapindo.

Berdasarkan hasil pengumpulan data, ditemukan bahwa rasa bersyukur adalah faktor penting yang berhubungan dengan kesejahteraan psikologis. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara penduduk yang tinggal dekat dan mereka yang tinggal jauh dari daerah semburan lumpur Lapindo.

Sebagai kesimpulan, rasa bersyukur memiliki hubungan positif dengan kesejahteraan psikologis masyarakat yang tinggal di sekitar daerah semburan lumpur Lapindo. Selain itu, perbedaan lokasi geografis juga mempengaruhi kuatnya hubungan antara syukur dan kesejahteraan psikologis warga yang tinggal di sekitar bencana aliran lumpur Lapindo.

Penulis: Dian Anggraini1 * dan Listyati Palupi1

Departemen Psikologi Kepribadian dan Sosial, Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia

Link terkait tulisan di atas: https://www.e3s-conferences.org/articles/e3sconf/ref/2020/13/e3sconf_corectijjss2020_03005/e3sconf_corectijjss2020_03005.html

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu