Peluang Perempuan untuk Bekerja di Rumah pada Era Revolusi Industri 4.0

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh fimela com

Saat ini Indonesia telah memasuki era revolusi industri 4.0 yang telah menyentuh pada berbagai aspek kehidupan baik sosial maupun ekonomi. Pentingnya penggunaan teknologi terutama komunikasi dan informasi nampak dari hasil survei oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJI) tahun 2017 bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai lebih dari 50 persen atau sekitar 143 juta orang. Dari sisi penggunaan, sebagian besar internet digunakan untuk pekerjaan utama yaitu untuk berkomunikasi dengan konsumen (76,5%), dan untuk kepentingan pemasaran/promosi (60,3%).

Didukung dengan adanya teknologi konektivitas lainnya seperti laptop, perangkat lunak, ponsel pintar, maupun wifi, teknologi internet dapat memberikan peluang pekerjaan yang bersifat fleksibel, yaitu jenis pekerjaan yang bisa dilakukan jarak jauh ataupun jenis-jenis pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah (Wynarczyk & Graham, 2013). Pekerjaan yang sifatnya fleksibel ini dapat dimanfaatkan khususnya oleh perempuan yang selama ini seringkali dihadapkan pada dua problema yaitu antara memasuki pasar kerja atau mengurus rumah tangga.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi internet penting untuk menunjang perempuan bekerja di rumah. Peluang perempuan pengguna teknologi internet pada pekerjaan utama adalah sebesar 1,129 kali lebih besar dibandingkan perempuan bukan pengguna internet untuk bekerja di rumah. Teknologi internet memudahkan perempuan dalam melaksanakan pekerjaannya di rumah. Selain itu, peningkatan aktivitas berbasis digital menyebabkan munculnya bentuk-bentuk pekerjaan teleworking (dapat dilakukan dari jarak jauh), contohnya pekerja lepas/freelance yang tidak harus pergi ke kantor namun dapat menyelesaikan pekerjaan di rumah. Perubahan perilaku transaksi masyarakat berbasis digital juga memungkinkan bentuk usaha yang tidak memerlukan tempat khusus, seperti misalnya penjualan secara daring tidak harus memiliki toko secara fisik namun keberadaan toko ini bisa dialihkan di rumah. 

Pelatihan kerja juga penting untuk mendorong perempuan bekerjaa.. Mereka yang pernah mengikuti pelatihan berpeluang 1,051 kali lebih besar untuk bekerja di rumah daripada mereka yang tidak pernah mengikuti pelatihan kerja. Pelatihan bersertifikat memberikan keahlian kepada tenaga kerja, dan hal ini berpengaruh terhadap kompetensi mereka. 

Sebaliknya, pengalaman kerja menunjukkan hasil yang berbeda dengan pelatihan kerja, di mana perempuan dengan pengalaman kerja mempunyai peluang 0,854 kali lebih kecil dibanding perempuan dengan pengalamam kerja untuk bekerja di rumah. Hal ini didukung oleh hasil Sakernas Februari 2018, mayoritas tenaga kerja yang bekerja di rumah berada di sektor informal (66,3%). Sektor informal cenderung tidak memerlukan pengalaman kerja sebelumnya karena sifatnya yang mudah untuk dimasuki dan mudah untuk ditinggalkan. Selanjutnya, perempuan di perkotaan mempunyai peluang 0,623 kali lebih kecil untuk bekerja di rumah dibanding perempuan yang perdesaan. Hal ini terkait dengan peluang kerja di wilayah perkotaan secara umum lebih banyak dibanding di perdesaan, sehingga perempuan perkotaan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk bekerja di luar rumah. 

Dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor yang memberikan peluang lebih besar bagi seorang perempuan untuk bekerja di rumah pada era revolusi industri 4.0 antara lain: penggunaan internet untuk pekerjaan utama; berumur lebih muda; berstatus tidak kawin; berpendidikan tinggi; pernah mengikuti pelatihan kerja dan tinggal di perdesaan. Jika dilihat lebih lanjut, peran pendidikan tinggi berlaku secara umum terhadap peluang masuknya perempuan dalam pasar kerja, tidak memandang apakah bekerja di rumah maupun di luar rumah. Demikian juga dengan faktor pelatihan kerja yang menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk kompetensi tenaga kerja perempuan untuk dapat bekerja di rumah. Bagi pengambil kebijakan, pendidikan dan pelatihan kerja masih menjadi fokus yang penting untuk terus ditingkatkan,karena kedua aspek ini akan membentuk kualitas tenaga kerja perempuan di masa mendatang.

Problem dilematis antara bekerja dan mengurus rumah tangga bagi perempuan dapat dijembatani dengan adanya bentuk-bentuk pekerjaan yang dapat dilakukan dari rumah. Perempuan yang memilih bekerja di rumah dapat menjadi salah satu solusi untuk menanggulangi tingginya pengangguran. Namun demikian, peningkatan partisipasi perempuan dalam pasar kerja juga harus diiringi dengan kualitas pekerjaan mereka. dimana perempuan yang bekerja di rumah masih didominasi oleh pekerjaan informal. Sektor informal merupakan salah satu agenda yang dipromosikan menjadi pekerjaan layak (decent work) oleh International Labor Organization (ILO). 

Keberadaan internet akan memberikan peluang yang lebih besar bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam pasar kerja, terutama untuk tenaga kerja perempuan yang bekerja di rumah. Lebih lanjut, perempuan di perdesaan yang berpeluang lebih besar bekerja di rumah seharusnya juga mendapatkan layanan fasilitas koneksi internet yang memadahi. Tidak hanya infrastruktur penunjang koneksi internet yang lancar, namun juga perlu semacam pelatihan untuk perempuan agar lebih optimal dalam menggunakan teknologi ini, misal, pelatihan strategi pemasaran/promosi, branding, maupun pengenalan transaksi berbasis digital.

Penulis: Dr. Lilik Sugiharti, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga
Informasi secara detail tentang hasil penelitian ini dapat dilihat pada: https://journal.uny.ac.id/index.php/economia/article/view/24694/pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu