Religiusitas Faktor Pencegah Perilaku Seks Pranikah pada Remaja

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh tirto.id

Perilaku seksual pranikah merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi pada masa remaja. Hal tersebut dapat dipicu oleh karakteristik remaja awal (15-18 tahun) yang berada pada masa pencarian identitas diri, tertarik dengan lawan jenis, timbul perasaan cinta dan mulai berkhayal mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksual. Sedangkan karakteristik remaja akhir (19-21 tahun) merupakan remaja yang mengungkapkan kebebasan diri dan mewujudkan perasaan cinta yang dirasakannya. 

Surabaya merupakan salah satu kota besar di Indonesia dan juga mempunyai reputasi sebagai kota besar prostitusi, dikarenakan banyak terdapat bekas kawasan lokalisasi. Bahkan salah satu dari lokalisasi tersebut menyandang predikat sebagai lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara yaitu gang Dolly Surabaya. Walaupun Pemerintah Kota Surabaya telah menutup kawasan lokalisasi tersebut pada tahun 2014, namun permasalahan terkait perilaku seks bebas di kawasan eks-lokalilasi tersebut belum sepenuhnya teratasi. 

Berdasarkan hasil wawancara kepada salah satu warga yang tinggal di lingkungan eks lokalisasi didapatkan bahwa anak-anak yang tinggal di lingkungan tersebut bebas bermain di antara para perempuan PSK sejak sore sampai malam hari. Menurut tokoh masyarakat di lingkungan eks lokalisasi, praktik pelacuran di gang Dolly dan Jarak sudah terjadi berpuluh-puluh tahun. Masyarakat yang tinggal di lingkungan eks lokalisasi menganggap sudah menjadi hal yang biasa dan tidak tabu lagi karena sudah terjadi turun temurun dan menjadi ladang ekonomi mereka. Namun sebagian masyarakat Surabaya menentang hal tersebut, karena praktik pelacuran itu menyalahi aturan dan moral agama dan dikhawatirkan berdampak buruk bagi masyarakat terutama bagi remaja yang tinggal di lingkungan lokalisasi. 

Berdasarkan fenomena tersebut, pada tahun 2018 dilakukan penelitian pada 109 remaja di sebuah sekolah yang terletak di kawasan eks-lokalisasi. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang melatarbelakangi perilaku remaja dalam melakukan perilaku seksual pranikah. Faktor-faktor yang diteliti diadaptasi dari teori transcultural nursing, yaitu sebuah teori yang menjelaskan perilaku seseorang berdasarkan pendekatan budaya. Teori ini dianggap cocok dikarenakan perilaku seks di kawasan eks-lokalisasi telah menjadi budaya yang telah berjalan turun-menurun selama bertahun-tahun. Berdasarkan teori transcultural nursing, faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang adalah pengetahuan, tingkat ekonomi, gaya hidup dan nilai budaya, dukungan keluarga dan social, religiusitas, peraturan dan kebijakan, serta teknologi. 

Hasil penelitian menunjukkan hal yang mengejutkan. Dari sekian banyak faktor yang diteliti, faktor religiusitas merupakan satu-satunya faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan perilaku seks pranikah remaja di kawasan eks-lokalisasi. Dalam penelitian ini, semakin rendah religiusitas, semakin tinggi perilaku seksual pranikah. Berdasarkan jawaban kuesioner, ditemukan bahwa mayoritas responden percaya bahwa Tuhan mengawasi setiap tindakan yang diambil. Ini menunjukkan bahwa keyakinan remaja  tentang ajaran agama sangat kuat. Dengan demikian, remaja akan cenderung melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh Tuhan dan menjauhi larangan Tuhan, termasuk perilaku seksual pranikah.

Mayoritas responden dari penelitian ini memiliki religiositas sedang meskipun mereka hidup di kawasan eks-lokalisasi. Hal ini mungkin disebabkan oleh budaya masyarakat Indonesia yang masih menjaga kuat nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Dukungan utama orang tua dengan memberikan pendidikan agama dapat membangun karakter yang baik pada anak. Perilaku religiusitas yang menjadi budaya dalam sebuah keluarga dapat membentengi remaja dari segala perilaku kenakalan remaja, termasuk perilaku seksual pranikah. 

Pengaruh agama telah sering dilihat sebagai kekuatan penghambat, di mana agama menjadi faktor penghambat dengan menunda, mengurangi atau bahkan membatasi perilaku seksual pranikah pada remaja. Agama sebagai kontrol sosial perilaku memiliki pengaruh langsung dan tidak langsung. Agama dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam tiga cara: (1) membuat individu sensitif dan sadar akan norma, masalah moral dan standar perilaku yang sesuai, (2) dengan mempertahankan perilaku konvensional seseorang dan menyadari sanksi sosial, dan (3) mempertahankan keyakinan Hukuman Tuhan karena melakukan perilaku berdosa.

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil peneltian ini adalah pentingnya pendidikan karakter dan agama sejak dini dalam pengasuhan anak. Penekananan nilai-nilai tersebut harus terus menerus diberikan selama masa tumbuh kembang anak, yaitu mulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat, baik melalui pendidikan formal, maupun non-formal.  

Penulis: Retnayu Pradanie, S.Kep., Ns., M.Kep

Sumber terkait tulisan di atas:  https://www.degruyter.com/view/journals/ijamh/ahead-of-print/article-10.1515-ijamh-2019-0203/article-10.1515-ijamh-2019-0203.xml

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu