Skabies pada Anak

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh popmama.com

Skabies merupakan penyakit infestasi parasit yang umum terjadi, disebabkan tungau Sarcoptes scabiei var hominis. Infestasi terjadi saat tungau Sarcoptes scabiei membuat liang pada kulit. Manifestasi penyakit ini berupa lesi kulit yang sangat gatal.Siklushidup tungau seutuhnya terjadi pada kulit manusia. Tungau betina dapat mengunyah dan badannya bergerak untuk menggali liang dalam stratum korneum sampai batas dari stratum granulosum. Sepanjang jalur ini, dimana dapat sepanjang 1 cm, tungau betina meletakkan 3 telur sehari selama hidupnya yaitu 4 sampai 6 minggu. Bagaimanapun, kurng dari 1% telur berkembang menjadi tungau dewasa. Telur-telur ini menetas dalam 3 sampai 4 hari dan  akan meninggalkan liang untuk menjadi dewasa pada permukaan kulit.

Pruritus atau rasa gatal merupakan manifestasi yang paling nyata dari skabies. Pruritus semakin parah pada malam hari.Pada pemeriksaanfisik,terdapatlesi  papulovesikular ertematosa atau bintil  kemerahan, ekskoriasi atau lecet bekas garukan yang lebihseringterdapat pada kulit yang tipis yaitu pada selaput di daerahantara jari, sisijari-jari, pergelangantanganbagian dalam dan sisi samping telapaktangan, siku, ketiak, dan kemaluan. Kepala dan leherbiasanyatidakterkena pada orang dewasa yang sehat, akantetapi pada bayi, orang tua dan orang deman imunitas yang lemahdapatterkena pada seluruhpermukaankulit.

Tujuan penelitan ini ialah untuk mengevalusai profil pasien baru skabies di Divisi Dermatologi Anak URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 2012-2014. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan melihat status pasien baru yang didiagnosis skabies yang berusia 0 sampai 14 tahun di Divisi Dermatologi Anak URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 2012-2014. Dari catatan rekam medik tersebut dicatat data dasar, anamnesis, pemeriksaan, dan penatalaksanaan. Kemudian dari catatan tersebut dilakukan pengolahan data.

Dari penelitian ini didapatkan jumlahpenderita 545 penderitadan usia terbanyak 5-14 tahun (69%), jenis kelamin terbanyak ialah laki-laki (62,6%). Keluhan utama terbanyak ialah gatal (70,28%), terbanyakberobatsetelahmenderitakeluhanlebihdari 30 hari (51,7%), serta sebagian besar memiliki keluarga dengan sakit yang sama (66,4%). Lokasi terbanyak pada tangan (60,37%),papul atau bintil sebagai bentuk sakit kulit terbanyak (73,2%).Kombinasi terapi terbanyak ialah permetrin 5% dengan antihistamin oral (49,7%).

Pasien terbanyak pada kelompok usia 5 sampai 14 tahun, karena mungkinusia tersebut merupakan usia mulai berteman dan bermain di luar rumah serta bersekolah, sehingga lebih mudah terpapar penyakit skabies dari orang lain. Jumlah penderita kebanyakan laki-laki mungkin dikarenakan anak laki-laki lebih kurang peduli terhadap kebersihan dan anak laki-laki lebih sering beraktifitas di luar rumah. Sebuah penelitian epidemiologi mengindikasikan bahwa prevalensi skabies tidak dipengaruhi jenis kelamin, ras, usia, ataupun status ekonomi dan sosial.

Sebagian besar penderita skabies di Divisi Dermatologi Anak URJ Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 2012-2014 datang dengan keluhan utama berupa gatal dan terutama pada malam hari.Hal ini sesuai dengan teori bahwa pruritus merupakan manifestasi yang paling nyata dari skabies. Pruritus semakin pada dirasakan saat malam hari.Hal ini dikarenankan aktivitas skabies yang lebih aktif pada malam hari.

Lama menderita keluhan gejala skabies terbanyak ialah lebih dari 30 hari sebesar 282 penderita (51,7%). Hal ini berhubungan dengan kurangnya kesadaran penderita mengenai pentingnya memeriksakan diri dan berobat jika sudah mengalami gejala. Gejala skabies mungkin dianggap ringan sehingga pasien menunda untuk berobat ke dokter.

Penderita skabies di Divisi Dermatologi Anak URJ Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 2012-2014 sebagian besar memiliki keluarga dengan keluhan skabies atau dicurigai sebagai sumber penularan ialah sebesar  362 penderita (66,4%). Sesuai dengan teori bahwa penlaran skabies dimediasi oleh kontak erat penderita, jadi umum terjadi di antara anggota keluarga. Lesi terbanyak ditemukan pada tangan, yaitu 329 penderita (60,37%).Lokasi tersebut memiliki kulit yang titpis yang disukai oleh tungau skabies. Penderita terbanyak memiliki morfologi lesi berupa papul atau bintil, sebanyak 399 penderita (73,2%). Hal ini sesuai dengan teori bahwa bentuk penyakit kuit skabies berupa papul atau bintil, vesikel atau bintil berisi airan, nodul atau bintil yang berukuran besar, ekskoriasi atau lecet bekas garukan dan terowongan.

Kombinasi terapi banyak ialah permetrin dengan antihistamin oral yaitu sebanyak 271 penderita (49,7%). Sebuah kajian mengenai randomized control trials oleh kolaborasi Cochrane menyimpulkan bahwa permetrin merupakan agen yang paling efektif untuk pengobatan skabies. Pengobatan gatal pada skabies dapat diberikan antihistamin seperti khlorfeniramin, hidroksisin, difenhidramin, deksaklorfeniramin.Antibiotik sistemik atau topikal dapat diberikan jika ada infeksi sekunder.

Penulis :dr. Sawitri, SpKK(K)
Informasi detail daririsetinidapatdilihat pada tulisan kami di: https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/13374/pdf

Scabies in Children: A Retrospective Study Retha, Sawitri
Departement of Dermatology and Venereology Faculty of Medicine Universitas Airlangga/Dr. Soetomo General Academic Teaching Hospital Surabaya

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu