Sifilis Sekunder pada Pasien Lelaki Seks dengan Lelaki yang Terinfeksi HIV

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh alodokter com

Sifilis  merupakan penyakit infeksi sistemik kronis yang disebabkan oleh Treponema pallidum subspesies pallidum. Spesies ini telah dikenal sebagai “great imitator” dalam referensi karena kemampuannya dalam menyebabkan manifestasi yang besar pada hampir setiap sistem organ. Sifilis didapatkan melalui kontak langsung, biasanya seksual. Sebesar 16-30% dari individu yang pernah kontak seksual dengan orang yang terinfeksi sifilis terinfeksi dalam 30 hari, dan pada beberapa kasus, angka penularan dapat lebih tinggi.

Sifilis dan HIV memainkan peranan penting dalam kesehatan masyarakat. Dua penyakit tersebut saling tumpang tindih, berinteraksi, dan berbagi karakteristik yang signifikan. Koinfeksi HIV-sifilis sering dijadikan sebagai penyebab utama dibalik kebangkitan pada prevalensi sifilis diantara lelaki seks dengan lelaki (LSL).

Perjalanan klinis dari sifilis yang tidak diobati dapat diklasifikasi menjadi sifilis primer, sifilis sekunder, sifilis laten, dan sifilis tersier. Bentuk umum tersebut dapat terganggu pada pasien dengan penurunan imunitas seperti infeksi HIV. Hal itu dapat memodifikasi atau mengubah waktu munculnya gejala sifilis, karakteristik dari gejala dan tanda, perkembangan dari penyakit, dan risiko perkembangan penyakit ke tahap tersier.

Seorang pria usia 24 tahun mengeluhkan bercak kemerahan selama 1 bulan terakhir. Pada awalnya bercak muncul di perut, kemudian menyebar ke dada, punggung, paha, telapak tangan, dan telapak kaki. Bercak tidak nyeri maupun gatal. Pasien juga mengeluhkan rambut rontok pada seluruh kulit kepala yang terjadi secara simultan dengan bercak kemerahan di badannya. Satu bulan sebelum bercak muncul, pasien memiliki luka yang tidak nyeri pada organ genital yang sembuh tanpa pengobatan. Pasien telah terdiagnosis HIV 2 tahun sebelumnya dan mendapat terapi antiretroviral (ART) yang dikonsumsi secara rutin sejak 2 tahun terakhir.

Pasien belum menikah, namun mengaku telah berhubungan seksual secara aktif dengan partner homoseksual tanpa kondom sejak tahun 2010. Pasien mengaku berhubungan seksual tanpa perlindungan 3 bulan sebelum muncul luka di kemaluan. Kadang-kadang berkenalan dengan partnernya di media sosial. Ia menyangkal bahwa pasangannya memiliki gejala yang sama.

Pemeriksaan kulit pasien menunjukkan gejala sifilis sekunder, selanjutnya dilakukan pemeriksaan titer serologi sifilis dan didapatkan hasil reaktif dengan titer yang tinggi. Pasien diobati dengan benzatin penisilin dosis tunggal 2,4 juta intramuskular. Pemeriksaan serologis dievaluasi ulang pada setiap 3 bulan setelah pengobatan komplit untuk memastikan penurunan pada antibodi nontreponemal dan untuk mengkonfirmasi respons pengobatan. Enam bulan setelah pengobatan, titer VDRL turun 4 kali lipat. 

Infeksi sifilis telah meningkat secara global dalam beberapa tahun terakhir, terutama diantara LSL. Peningkatan sifilis diantara LSL adalah sebuah masalah, dengan mempertimbangkan bahwa morbiditas berhubungan dengan sifilis yang tidak diobati, termasuk neurosifilis dan sekuele kardiovaskular. Lebih lanjut lagi, sifilis berhubungan dengan transmisi HIV, dan meningkatnya angka kejadian sifilis terjadi pada LSL yang terinfeksi HIV.

Istilah LSL menjelaskan kelompok heterogen sejumlah laki-laki dengan tingkah laku bervariasi, identitas, dan kebutuhan kesehatan. Beberapa LSL berisiko tinggi terinfeksi HIV dan virus serta infeksi menular seksual (IMS) lainnya dikarenakan LSL berhubungan sek melalui anus, dan mukosa rektum rentan terhadap patogen IMS tertentu. Sebagai tambahan, faktor yang meningkatkan risiko infeksi HIV pada LSL termasuk penerima maupun pemberi seks anal tanpa kondom, memiliki IMS lainnya, berhubungan seks dengan mitra lainnya tanpa kondom, dan menggunakan methamphetamine yang mengurangi inhibisi, meningkatkan kenikmatan seksual dan meningkatkan kemungkinan terlibat dalam seks tanpa kondom atau obat yang meningkatkan performa seksual.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan sifilis pada LSL termasuk penyalahgunaan obat, memiliki partner seksual yang tidak diketahui asal-usulnya yang lebih dari satu, dan berjumpa dengan partner seksual di internet atau aplikasi jaringan geososial, infeksi HIV, penyalahgunaan zat, dan obat disfungsi ereksi merupakan faktor risiko yang diidentifikasi terjadinya sifilis atau infeksi menular seksual diantara LSL. 

Penisilin adalah antibiotik pilihan dan direkomendasikan pada populasi yang terinfeksi HIV. Penisilin tidak hanya paling efektif sebagai treponemisid, namun juga mudah digunakan, memiliki sedikit efek samping, dan relatif tidak mahal. Kegagalan serologi diartikan sebagai penurunan 4 kali lipat titer VDRL pada 6-12 bulan setelah pengobatan untuk sifilis primer atau sekunder, gejala dan tanda yang menetap atau berulang atau pasien dengan titer yang meningkat hingga empat kali lipat atau lebih selama lebih dari dua minggu. Risiko yang meningkat dari kegagalan serologi telah dilaporkan lebih umum terjadi pada mereka yang terinfeksi sifilis pada stadium akhir dan pasien HIV. 

Penulis : dr.Evy Ervianti,Sp.KK(K)
Informasi detail dari laporan kasus ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/5176

Ade Fernandes dan Evy Ervianti (2020). Secondary Syphilis In Human Immunodeficiency Virus (HIV)-Infected Men Who Have Sex With Men (MSM): A Case Report. Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, 32(1): 75-84; http://dx.doi.org/10.20473/bikk.V32.1.2020.75-84

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu