Penuaan Kulit Akibat Sinar Matahari

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh liputan6 com

Penuaan akibat sinar matahari atau dalam istilah medis disebut sebagai photoaging merupakan proses biologis kompleks yang dipengaruhi oleh kombinasi faktor intrinsik dan ekstrinsik, namun lebih didominasi oleh faktor ekstrinsik berupa pajanan cahaya kronis, polusi, radiasi pengion, bahan kimia, toksin. Kulit seseorang mencerminkan kesehatan umum, dan mengkomunikasikan etnis, gaya hidup, dan usia. Fitur-fitur ini sangat ditentukan oleh warna kulit, tekstur, kekencangan, dan kehalusan.  Kulit wajah yang halus berkorelasi dengan daya tarik dan kesehatan.

Sejauh ini, sumber kerusakan lingkungan yang paling umum adalah radiasi ultraviolet (UV) matahari. Kerusakan disebabkan oleh radiasi UV matahari, yang disebut photoaging, ditumpangkan pada penuaan kronologis. Photoaging menghasilkan kerutan, lentigen, keratosis, dispigmentasi, telangiektasia, penurunan elastisitas, kekasaran tekstur, dan warna pucat. Kerutan wajah dan kulit berbintik-bintik dapat secara negatif memengaruhi daya tarik yang dirasakan, harga diri, kepribadian, dan memengaruhi tingkat penerimaan oleh orang lain. Indonesia merupakan negara tropis dengan pajanan sinar matahari sepanjang tahun, sehingga penduduk Indonesia sangat rentan terhadap terjadinya photoaging

Stem cell adalah sel-sel yang penting di kulit, karena merupakan sumber untuk regenerasi berkelanjutan dari epidermis. Stem cell memiliki potensi pembaruan diri dan diferensiasi. Terapi stem cell telah mencegah penyakit dan reparasi jaringan. Stem cell manusia mengeluarkan berbagai faktor pertumbuhan, sitokin dan beberapa bahan pengatur extracelluler matrix (ECM) lainnya termasuk kolagen tipe 1 dan 3, elastin dan fibronektin dalam Human Dermal Fibroblasts (HDF).  Selain stem cell,  pada beberapa penelitian menunjukkan potensi produk metabolit amniotic membrane stem cell (PM AMSC) yang telah dibudidayakan jangka panjang di media tertentu tanpa kerusakan parahpada terapi penuaan kulit, karena juga mengandung berbagai faktor pertumbuhan dan sitokin yang berperan sebagai antiaging. 

Laser Assisted Drug Delivery (LADD) meliputi penghancuran selektif dari lapisan epidermis dan dermis untuk memungkinkan penetrasi dan penyerapan obat topikal dan juga obat dengan berat molekul yang besar menggunakan sinar laser.

Sebelum melakukan penelitian evaluasi ini, seluruh subjek sudah dilakukan pemberian PM-AMSC dan tindakan laser fraksional CO2 sebagai LADD sebanyak 3 kali selama 3 bulan sebelum penelitian, setelahnya pasien diikuti untuk evaluasi analisis wajah dengan menggunakan skin analyzer selama 12 minggu untuk mengetahui efek jangka panjang dari pemberian campuran topikal PM-AMSC setelah laser fraksional CO2 sebagai LADD. 

Penelitian ini menggunakan penilaian yang bersifat objektif menggunakan skin analyzer. Terdapat 4 penilaian yang diukur pada penelitian ini, yaitu kerutan, bintik hitam, pori-pori, dan skin tone. Penelitian ini menunjukkan beberapa parameter pada evaluasi Janus ke-3, 4, dan 5 terdapat perbedaan yang bermakna, antara bintik hitam (polarized) dan pori-pori. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Prakoeswa dan kawan-kawan dalam Metabolite Product Amniotic Membrane Stem Cell for Antiaging, bahwa terdapat perbaikan klinis photoaging yang signifikan pada subjek yang diteliti.

Klinis photoaging berupa pori menunjukkan perbaikan yang lebih signifikan dibandingkan klinis photoaging kerutan dan spot (UV). Terdapat tren peningkatan pada beberapa parameter yang dianalisis. Hal ini mungkin  dikarenakan efek topikal produk metabolit AMSC mengandung berbagai macam faktor pertumbuhan yang dapat merangsang proliferasi dan migrasi sel fibroblast di dermis, keratinosit di epidermal, serta meningkatkan sintesis kolagen dari fibroblas dan Laser CO2 sebagai LADD.

Serta pemakaian tretinoin 0,025% dan tabir surya SPF 30 untuk mengoptimalkan perlindungan UV. Belum didapatkan data penelitian mengenai efek jangka panjang PM-AMSC di jaringan kulit hingga saat ini. Tidak didapatkan adanya efek samping pada subjek penelitian selama 3 bulan evaluasi, berupa kulit merah, gatal, bercak hitam setelah radang, bercak putih, bekas luka, maupun infeksi, hal ini diduga karena menggunakan produk metabolit dari stem cell tanpa adanya stem cell tersebut. Penggunaan produk metabolit ini lebih mudah dan aman karena tanpa sel sehingga lebih mudah untuk dikontrol serta dapat menghindari reaksi penolakan jaringan di penerima daripada produk yang menggunakan sel ketika diaplikasikan pada luka.

Tindakan laser fraksional CO2 yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan teknik LADD dengan energi yang rendah sehingga tidak ada efek bekas luka dan setelah dilakukan tindakan laser kulit wajah pasien mengalami bekas luka sangat kecil, dilakukan perawatan luka dengan baik menggunakan salep gentamisin untuk menghindari terjadinya infeksi. 

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ada perbaikan derajat kerutan, bintik hitam (polarized) bintik hitam (UV), pori pori berdasarkan penilaian skin analyzer pada pasien photoaging yang telah diberikan PM AMS dan laser fraksional CO2 dalam waktu 12 minggu. Tidak terdapat efek samping pada penelitian ini.

Penulis: Dr. M. Yulianto Listiawan,dr.,Sp.KK(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/15291/pdf

LONG – TERM EFFECTS OF TOPICAL AMNIOTIC MEMBRANE STEM CELL METABOLITE PRODUCT (AMSC-MP) AND FRACTIONAL CO2 LASER IN PHOTOAGING
Dyah Ayu Pitasari, Afif Nurul Hidayati, Muhammad Yulianto Listiawan, Sawitri Sawitri, Damayanti Damayanti, Cita Rosita Sigit Prakoeswa
Department of Dermatology and Venereology, Faculty of Medicine, Universitas Airlangga / Dr. Soetomo General Hospital, Surabaya, Indonesia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu