Ekstrak Teh Hijau Efektif Menyembuhkan Luka Borok pada Telapak Kaki pasien Kusta

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh merdeka.com

Luka borok di telapak kaki yang lama pada pasien kusta disebabkan oleh gangguan saraf  tepi yang menyebabkan kurangnya aliran darah sehingga penyembuhan luka menjadi lebih lama dan sering kali menyebabkan infeksi. Gangguan saraf otonom menyebabkan bengkak pada jaringan saat berdiri dan hal ini dapat memperlambat penyembuhan luka, tidak hanya sampai di situ saja namun luka borok yang sukar sembuh ini memberikan dampak dalam kehidupan sosial ekonomi pasien. Perawatan luka standar seperti debridement (pembersihan luka), penutupan luka, dan kontrol infeksi mengguankan antibiotik oles seringkali tidak memberikan hasil yang memuaskan. Oleh sebab itu dipandang perlu untuk menemukan sesuatu yang dapat mempercepat penyembuhan luka dan tanpa efek samping. Salah satu kandidatnya yaitu Epigallocatechin Gallate (EGCG) atau ektrak teh hijau.

Epigallocatechin Gallate adalah ekstrak teh hijau yang paling banyak dan sebagai sumber utama bioaktif teh hijau. Epigallocatechin Gallate mengandung antioksidan yang lebih banyak dari vitamin C dan mempunyai beberapa efek positif terhadap kesehatan seperti anti peradangan, anti-infeksi, pembentukan pembuluh darah baru, mempercepat proses penyembuhan luka. Epigallocatechin Gallate akan mempercepat penyembuhan luka dengan cara mempercepat fase inflamasi, membantu fase proliferasi, membuat deposisi kolagen lebih cepat, serta efek antibakteri yang mencegah infeksi. Atas dasar manfaat EGCG ini maka membuka peluang EGCG sebagai ‘obat’ untuk luka.

Manfaat EGCG telah dibuktikan pada tikus yang sengaja diberi luka bakar kemudian diberi krim yang mengandung ekstrak daun teh sebagai kelompok perlakuan dan diberi krim serta normal saline sebagai kelompok kontrol. Hasilnya tikus yang diberi ekstrak daun teh dapat menurunkan luas area luka lebih cepat daripada kelompok kontrol. Pemeriksaan histopatologi juga menunjukkan terjadinya peningkatan proses epitelisasi, angiogenesis, dan penurunan jumlah sel radang pada luka yang diberi ekstrak daun teh    

Penelitian ini ingin membandingkan efikasi salep EGCG 1% dengan framycetin gauze dressing (FGD) pada pasien kusta dengan luka borok telapak kaki. framycetin gauze dressing ini merupakan penatalaksanaan standar dimana ia mengandung antibiotik spektrum luas dari kelas aminoglycoside. Guna menyamakan fase penyembuhan maka sebelum diberi EGCG 1% atau FDG maka dilakukan pembersihan dengan normal saline steril, selain itu subjek juga diminta untuk mengurangi aktivitas berdiri yang lama atau jalan karena hal ini dapat memberi tekanan pada kaki dan membuat proses penyembuhan luka lebih lama. Selama delapan minggu subjek yang memenuhi kriteria akan diberi EGCD atau FDG setiap tiga hari sekali. Luka akan dievaluasi dalam hal ukuran, kedalaman, dan efek samping yang muncul. Efek samping ini misalnya dermatitis kontak alergi karena reaksi hipersensitivitas pada bahan EGCG 1% atau pada FDG.

Hasil penelitian yang dilakukan di Departemen Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo ini yaitu kelompok yang diberi salep EGCG 1% mengalami kesembuhan 2-3 kali lebih cepat dari pada kelompok kontrol. Penelitian ini tidak ada efek samping namun ada satu  kompikasi yang dialami subjek dari kelompok FDG dari empat puluh empat subjek yang terlibat dalam penelitian ini. Pasien ini disebut mengalami komplikasi karena tidak adanya tanda radang seperti kemerahan, bengkak, serta tidak ada tanda infeksi seperti bau atau nanah. Perburukan pasien ini tidak secara langsung karena diberi FDG namun disebabkan oleh claw foot atau kaki cakar.

Teori menunjukkan bahwa seiring bertambahnya usia akan menyebabkan proses peradangan yang lebih lama, penurunan pembentukan pembuluh darah baru, penurunan pembentukan kolagen, jumlah antioksidan yang rendah, banyaknya reactive oxygen species (ROS) yang terbentuk karena disfungsi mitokondria yang semuanya itu dapat menghambat penyembuhan luka, akan tetapi pada penelitian ini usia kurang berpengaruh terhadap penyembuhan luka karena EGCG berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menghancurkan ROS yang menumpuk pada usia lanjut, selain itu EGCG juga memiliki aktivitas anti peradanagn dengan menghambat aktivasi NF-κB, menghambat produksi IL-8 sehingga mengambat agregasi neutrofil. Epigallocatechin Gallate juga dapat mempercepat proses penyembuhan luka dengan membentuk kolagen, angiogenesis, serta meregulasi faktor pertumbuhan endotel pembuluh darah.

Faktor lain yang juga berperan dalam penyembuhan luka pada pasien kusta dengan luka borok telapak kaki yaitu mengurangi beban pada kaki atau mengistirahatkan kaki karena telah terbukti ada hubungan antara insiden luka borok dengan jumlah beban pada kaki. Besarnya tekanan pada kaki dipengaruhi oleh berat badan, luas permukaan telapak kaki, pergerakam sendi dan jari kaki yang besar, amputasi, derajat mati rasa, keparahan neuropati, deformitas, dan hipomobilitas.

Penggunaan Epigallocatechin Gallate (EGCG) dapat mempercepat penyembuhan luka pada pasien kusta dengan luka borok telapak kaki dan tidak memberikan efek samping. Namun perlu diteliti lebih lanjut bila disertai dengan penurunan beban pada kaki sehingga memberikan efek yang lebih pada penyembuhan luka.

Penulis: Prof. Dr. dr. Cita Rosita SP, Sp.KK, FINS-DV, FAADV
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/32068454 

Efficacy of topical Epigallocatechin gallate (EGCG) 1% on the healing of
chronic plantar ulcers in leprosy

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu