Konsumsi Makanan Asin dan Manis Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Merdeka.com

Penyakit jantung menjadi masalah yang menakutkan bagi semua orang, sebab komplikasi dari obesitas dapat berupa munculnya penyakit jantung yang dapat berupa jantung koroner, aterosklerosis, dan infark jantung, Diabetes Melitus tipe II (diabetes yang tidak bergantung sekresi hormon insulin sel β pankreas), penyakit ginjal, dan munculnya penyakit lain yang berhubungan dengan obesitas. Menurut data statistik, setidaknya terdapat sekitar 1,1 juta orang yang menderita penyakit yang berhubungan dengan obesitas di seluruh dunia.

Dalam jurnal ini ditulis bahwa terdapat hubungan antara indra rasa pengecap yang terdapat di dalam rongga mulut dengan keadaan obesitas yang diderita oleh seorang individu. Pada jaman ini banyak individu yang senang bekerja dengan cara mudah sehingga memicu terjadinya penyakit degeneratif terkait perubahan gaya hidup (life style) yang cenderung ke arah sedentary life style, alias mau makan apalagi dengan rasa enak tapi tidak mau melakukan aktivitas fisik.

Indra pengecap pada manusia terdiri dari dua kelompok besar. Yaitu indra pengecap utama (meliputi rasa manis, asin, pahit, umami atau gurih, dan asam), sedangkan indra ras pengecap tambahan (meliputi indera pengecap rasa pedas, air, lemak, kalsium dan logam). Indra pengecap yang berhubungan dengan keadaan obesitas adalah rasa asin dan manis. Seseorang dengan obesitas akan mengalami gangguan pada indra pengecap rasa manis. Sehingga menyebabkan konsumsi gula yang akan semakin berlebih. Selain itu, individu dengan keadaan obesitas rawan terhadap penyakit hipertensi yang disebabkan oleh reseptor rasa asin (ENaC) dan reseptor air yaitu: Aquaporin2 dengan cara kerja dari reseptor rasa asin akan menyerap banyak air, sehingga akan meningkatkan beban kerja jantung dan menimbulkan tekanan jantung semakin lama semakin meningkat.

Obesitas berkaitan dengan tingginya kadar lemak jahat (Low Density Lipoprotein) atau disebut dengan LDL yang menyebabkan tertimbunnya plak. Baik pada pembuluh darah utama jantung maupun pada pembuluh darah tepi. Hal ini akan  memicu pembentukan Reactive Oxygen Species (ROS) yang merupakan radikal bebas. Tubuh memang memiliki anti-oksidan yang dapat digunakan untuk melawan radikal bebas, namun bila terjadi peningkatan jumlah radikal bebas yang lebih tinggi dibandingkan dengan anti-oksidan, maka terjadi keadaan instabilitas yang justru berakibat negatif terhadap kehidupan sel, terutama sel otot jantung. Plak tersebut akan menumpuk dan terus menumpuk sehingga sewaktu-waktu dapat menghambat aliran darah yang dipompa keluar oleh jantung.

Kaitan ini terletak pada reseptor cluster of differentiation 36 (CD 36) yang ternyata terdapat pada lidah manusia yang berhubungan dengan indra pengecap lemak. Penumpukan plak-plak pada dinding pembuluh darah secara tidak terkontrol juga dapat mengakibatkan terjadi reaksi inflamasi karena plak dikenali sebagai benda asing (imunogen).  Imunogen setelah dikenali oleh sistem imunitas tubuh, akan terjadi reaksi inflamasi yang menyumbat pada pembuluh darah dan  memicu terjadinya aterosklerosis. Sumbatan tersebut juga dapat dikaitkan dengan terjadinya risiko stroke yang dapat timbul akibat pecahnya pembuluh darah tepi akibat pengurangan diameter pembuluh darah oleh karena tertutup oleh plak-plak kolesterol LDL.

Berdasarkan pernyataan tentang hubungan antara obesitas dengan indra pengecap rasa, maka para penderita obesitas hendaknya selalu meningkatkan aktivitas fisik mengingat kemajuan teknologi dapat menyebabkan orang cenderung untuk malas melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang pada zaman dahulu. Sangat ironis sekali dengan peningkatan dan kemajuan zaman yang sangat pesat tetapi penduduknya hampir semua mengalami penyakit degeneratif dan silent killer. Hal tersebut dapat dicegah dengan cara melakukan aktivitas fisik setiap hari secara teratur guna membantu proses metabolisme sel dalam menghancurkan plak-plak serta meningkatkan kadar kolesterol baik (High Density Lipoprotein) atau HDL.

Selain itu, untuk mencegah terjadinya kemungkinan munculnya keadaan diabetes pada individu obesitas, diharapkan individu mengurangi asupan bahan makanan yang mengandung olahan yang mengandung banyak gula/glukosa dan kembali pada kehidupan yang sehat, dan melakukan aktivitas fisik serta tidak dimanjakan oleh fasilitas pada kemajuan zaman modern pada saat ini. Anjuran yang diberikan adalah mengurangi konsumsi gula dan asin serta umami yang merupakan salah satu cara preventif untuk mencegah timbulnya kematian yang ditimbulkan kerusakan sel dan berakhir pada kematian akibat obesitas.

Penulis: Jenny Sunariani

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

https://www.scopus.com/record/display.uri?eid=2-s2.0-85081170570&doi=10.1088%2f1755-1315%2f441%2f1%2f012186&origin=inward&txGid=bebf07e6905d061b4cc304e1c3980f64

Jenny Sunariani. 2020. Cluster of differentiation 36 (CD 36), ENac, and AQP 2 effects on heart. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, Volume 441, Issue 1.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu