Migrasi dan Prolaps Kateter Vp Shunt Secara Transanal pada Pasien Dengan Vegetative State

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Klikdokter

Pemasangan ventriculoperitoneal (VP) shunt adalah prosedur yang paling banyak digunakan dalam pengobatan hidrosefalus sejak 1950-an. Banyak komplikasi yang telah dijelaskan dalam berbagai literatur terkait dengan pemasangan VP shunt. Komplikasi yang umum terjadi adalah infeksi, malfungsi shunt karena penyumbatan, shunt yang terputus, migrasi dan keruskan mekanik. Insiden komplikasi yang terjadi pada bagian abdomen/perut yang telah dilaporkan adalah sebanyak 5% – 47%. Komplikasi prolaps transanal setelah perforasi usus juga telah diketahui meskipun angka kejadiannya masih jarang. Insiden perforasi usus oleh kateter peritoneal telah diperkirakan berkisar antara 0,1 hingga 0,7%. Perforasi usus adalah komplikasi yang jarang terjadi, dan sebagian besar kasus hanya terjadi pada pasien anak. Migrasi dan prolaps transanal pada orang dewasa jarang dilaporkan.

Patogenesis pasti dari perforasi organ yang terkait shunt dan keluar melalui anus tidaklah jelas. Kesalahan teknis, reaksi benda asing, nekrosis tekanan dan kondisi umum yang buruk yang digambarkan dengan melemahnya dinding usus dan kakunya ujung dari tabung shunt, adalah beberapa mekanisme yang diperkirakan menjadi penyebab terjadinya perforasi. Mekanisme lain yang diperkirakan adalah karena infeksi shunt dan peradangan kronis yang disebabkan oleh kontaminasi intraoperatif. Sebagian besar kasus dalam literatur mengalami presentasi yang tertunda setelah operasi, yang merepresentasikan sebuah proses kronis daripada sebab traumatis atau teknis saat operasi.

Faktor risiko perforasi usus adalah usia, jenis kelamin laki-laki, kondisi umum yang buruk, kurangnya gizi, infeksi dan operasi perut yang pernah dialami sebelumnya. Di antara faktor-faktor ini, usia adalah faktor yang menonjol untuk perforasi usus. Karena otot-otot usus yang lemah dan aktivitas peristaltik yang lebih kuat, anak-anak lebih rentan terhadap perforasi usus daripada pasien dewasa. Mayoritas laporan ilmiah melaporkan bahwa anak-anak lebih banyak mengidap perforasi usus dibandingkan dengan orang dewasa. Tujuh puluh delapan persen dari kasus yang telah dilaporkan terjadi pada anak-anak.

Untuk memberikan kontribusi dalam bidang tersebut, sebuah laporan kasus dilakukan oleh Al Fauzi dkk., (2019) dari Universitas Airlangga – RSUD Dr. Soetomo Surabaya, laporan kasus yang telah diterbitkan dalam Folia Medica Indonesiana (The Center for Medical Science Community, Faculty Medicine, Universitas Airlangga) ini bertujuan untuk memberikan referensi/sumbangsih baru di bidang kedokteran, khususnya tentang komplikasi migrasi dan prolaps transanal dari kateter VP shunt yang terjadi pada seorang pasien dewasa.

Penulis melaporkan sebuah kasus perforasi usus dan prolaps transanal dari VP shunt yang terjadi pada seorang pasien dewasa berusia 51 tahun. Pasien tersebut memiliki riwayat kraniotomi hematoma subdural akut setelah cedera kepala satu tahun sebelumnya, dilanjutkan dengan VP shunt karena hidrosefalus pasca trauma. Perawatan dengan kondisi bed ridden dilakukan di rumah, sampai akhirnya keluarga mendapatkan adanya kateter yang keluar dari lubang anus. Ketika dilakukan pemeriksaan, terdapat ujung kateter peritoneum yang keluar sepanjang lima sentimeter dari anus dan tidak ada tetesan cairan serebrospinal yang terdeteksi. Tidak ada tanda meninggal atau peningkatan tekanan intrakranial, tidak ada distensi atau nyeri tekan perut. Pasien dalam keadaan Persistent Vegetative State (PVS) dengan buka mata spontan tetapi tidak ada kontak verbal. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa tidak ada proses infeksi, tetapi dengan hipoalbuminemia dan anemia. Film rontgen abdomen menunjukkan bahwa kateter peritoneum memasuki kolon desenden dan keluar melalui anus.

Pasien menjalani pengangkatan shunt darurat. Analisis cairan serebrospinal tidak mengungkapkan tanda-tanda adanya infeksi. Seluruh kateter diambil dan pasien diobservasi ketat selama dua hari. Drainase eksternal tidak dilakukan. Selama observasi, tidak didapatkan tanda dan gejala peningkatan tekanan intrakranial. Tidak ada tanda-tanda meningitis atau peritonitis. Setelah lima hari perawatan, pasien dipulangkan ke rumah dengan hasil yang memuaskan, namun juga dengan kondisi permanen yang sama.

Perforasi usus dan prolaps transanal dari kateter VP shunt adalah masalah yang cukup jarang namun perlu pehatian serius. Pada pasien dewasa yang menggunakan shunt, salah satu faktor risikonya adalah berhubungan dengan keadaan PVS dan imobilisasi kronis seperti yang dijelaskan dalam kasus ini. PVS dan imobilisasi kronis dapat menyebabkan iritasi terus-menerus dari posisi tetap ujung shunt yang akan mengikis dan akhirnya melubangi organ. Pada kasus ini, setelah perforasi usus, kateter terdorong kearah distal oleh peristaltik sampai ujungnya keluar melalui lubang anus. Laporan kasus ini mengungkapkan bahwa faktor risiko perforasi usus pada orang dewasa cukup berbeda dari anak-anak. Pengangkatan shunt sedini mungkin penting untuk dilakukan. Sedangkan PVS dengan imobilisasi kronis adalah salah satu faktor risiko yang harus diperhatikan.

Penulis: Dr. dr. Asra Al Fauzi, SE, MM, Sp.BS(K), FICS, FACS, IFAANS

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

https://e-journal.unair.ac.id/FMI/article/view/17336/9402

Asra Al Fauzi, Muhammad Arifin Parenrengi, Joni Wahyuhadi, Eko Agus Subagio, Agus Turchan. 2019. Ventriculoperitoneal Shunt Catheter Migration and Transanal Extrusion in Persistent Vegetative State Adult Patient. Fol Med Indones, Vol. 55 No. 4 December 2019 : 322-325

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu