Potensi Kayu Secang sebagai Obat Kumur

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilsutrasi oleh dokter sehat

Penyakit periodontal merupakan penyakit gigi dan mulut tertinggi kedua yang banyak diderita masyarakat dunia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi penduduk dengan masalah gigi dan mulut di Indonesia mencapai 25,9% dan 28,6% di Jawa Timur. Menurut survey WHO, penyakit periodontal terjadi pada 10-15% dari seluruh populasi orang dewasa di dunia dengan rentang usia diatas 35 tahun. Kasus penyakit periodontal terjadi sebanyak 6% pada usia 18 tahun, meningkat tajam pada usia 30 tahun ke atas yakni 63%.

Penanganan penyakit periodontal tidaklah sesederhana hanya melalui obat, pembersihan karang gigi, bahkan kadang pula harus melalui tindakan pembedahan jaringan periodontal jika sudah cukup parah. Oleh karena itu pencegahan terjadinya penyakit tersebut perlu diupayakan dengan menjaga kesehatan gigi dan mulut terhadap infeksi bakteri penyebab.

Bakteri yang berperan pada periodontitis adalah bakteri anaerob Gram-negatif antara lain, P. gingivalis, A. actinomycetemcomitans, P. intermedia T. forsythia dan T. denticola yang terdapat pada subgingiva. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada subjek populasi 128 orang dengan periodontitis kronis, bakteri yang dominan adalah P. gingivalis dengan persentase hingga 80,5% dan A. actnomycetemcomitans sejumlah 21%.

Perawatan periodontitis dapat melalui terapi mekanis, terapi penunjang dan terapi bedah. Terapi penunjang dilakukan dengan pemberian obat kumur dan antibiotik. Obat kumur merupakan antibakteri yang berfungsi untuk mengurangi plak. Chlorhexidine adalah salah satu obat kumur yang seringkali direkomendasikan untuk terapi penunjang pada perawatan penyakit periodontal karena bersifat antibakteri dan antiplak.

Penggunaan Chlorhexidine jangka panjang dapat mengubah warna pada gigi dan dorsum lidah, meningkatan pembentukan kalkulus, mengubah kecap rasa dan mukosa rongga mulut menjadi kering. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu obat yang berasal dari tanaman Indonesia, yang diyakini berkhasiat.

Untuk menuju sebagai tanaman yang berkhasiat, tentunya diperlukan bukti-bukti tentang penelitian kemanfaatan dan keamanannya. Diharapkan dengan adanya bukti penelitian secara ilmiah, maka dapat menjadikan suatu obat yang terstandar.

Potensi kayu secang sebagai antiseptik bakteri rongga mulut

Memasuki era industri 4.0 serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tentunya menuntu segala sesuatu serba instan. Begitupula dengan kesehatan, diharapkan banyak ditemukan obat baru yang dapat mengatasi penyakit tanpa menimbulkan efek samping serta murah. Kemajuan teknologi pembuatan obat, menyebabkan semakin tinggi pula harga obatnya. Masyarakat yang notobene mempunyai penghasilan rendah, tentunya berharap mendapatkan obat yang baik dengan harga murah.

Indonesia sebagai negara tropis tentunya memiliki beraneka ragam tanaman, mulai dari tanaman hias, tanaman rempah maupun tanaman obat. Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan dasar dalam pengobatanya itu adalah tanaman secang.

Secang (Caesalpinia sappan L.) adalah salah satu tanaman famili Febaceae yang tumbuh di daerah tropis dan batangnya sejak dulu telah digunakan sebagai obat tradisional. Kayu secang memiliki kandungan senyawa aktif berupa flavonoid yaitu brazilin, protosappanin dan chalcone, saponin, terpenoid dan tanin. Brazilin memiliki aktivitas farmakologis seperti vasorelaksasi, hepatoprotective, anti-inflamasi, antibakteri, antioksidan, antivirus serta antiacne. Brazilin sebagai antibakteri dapat menghambat sintesis asam amino dan protein sel pada bakteri. Brazilin memiliki aktivitas antibakteri yang tinggi terhadap bakteri penyebab karies yaitu S. mutans dan bakteri Gram-negatif  penyebab penyakit periodontal yaitu P. intermediate. Pada penelitian sebelumnya, kayu secangdapat menghambat pertumbuhan bakteri seperti S. typhi, K. pneumonia, E. coli, B. subtilis, P. aerogenosa dan S. aureus. Penelitian yang dilakukan oleh Keramat dkk (2014), menyebutkan bahwa ekstrak kayu secang berpotensi sebagai antibakteri terhadap E. faecalis, S. salivarius, S. sanguinis dan A. viscosus.

Penelitian ini menggunakkan penelitianlaboratories in vitro yang dilakukan di Research Center Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga pada bulan Agustus-September 2018. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kayu secang (Caesalpinia sappan L.), stok bakteri A. actinomycetemcomitans dan P. gingivalis, media agar Mueller Hinton, media Brain Heart Infusion Broth (BHIB), Larutan Mc Farland 0,5 dan pelarut etanol 96%.

Kulit batang kayu secang yang telah dihancurkan menjadi serbuk diambil 1650 gram kemudian di maserasi 2 kali dengan etanol 96%, kemudian dimasukkan ke dalam shaker digital dengan kecepatan 50 rpm selama 24 jam dan di saring dengan penyaring kain untuk mendapatkan filtrat. Filtrat dievaporasi menggunakan alatRotary Vacum Evaporatordengan suhu 40ºC selama 13 jam sampai didapatkan ekstrak kental 100%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi 1,56% ekstrak etanol kayu secang mampu menghambat pertumbuhan bakteri A. actiomycetemcomitans hingga 90,887% terhadap kontrol positif. Hal ini menunjukkan bahwa nilai MIC pada konsentrasi 1,56%, yang sesuai dengan pernyataan Akram et al (2016), bahwa Minimum Inhibitory Concentration (MIC) adalah konsentrasi terendah dari antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri hingga 90%. Nilai MIC ekstrak etanol kayu secang terhadap P. gingivalis didapatkan pada konsentrasi 1,56% karena dapat menghambat pertumbuhan P. gingivalis hingga 91,587% terhadap kontrol positif.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia sappan L.) berpotensi sebagai antibakteri terhadap pertumbuhan A. actinomycetemcomitans dan P. Gingivalis.

Penulis: Dr. Hendrik Setia Budi, drg., M.Kes
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.sysrevpharm.org/fulltext/196-1584525938.pdf

Hendrik Setia Budi, Pratiwi Soesilowati, Mitha Jati Wirasti (2020). Antibacterial Activity of Sappan Wood (Caesalpinia sappan L.) against Aggregatibacter actinomycetemcomitans and Porphyromonas gingivalis. Sys Rev Pharm 2020; 11(3): 349 353.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu