Sel Punca Pulpa Gigi Sulung dan Perancah Karbonat Apatit Tingkatkan Ekspresi BMP-2/7 dan Turunkan Ekspresi MMP-8

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI sel punca. Foto: Istimewa
ILUSTRASI sel punca. Foto: Istimewa

Berdasar hasil penelitian Departemen Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Departemen Kesehatan pada tahun 2018, sebanyak 57,6 persen populasi Indonesia mengalami masalah kesehatan mulut yang dapat mempengaruhi kualitas hidup. Sementara itu, prevalensi karies pada bagian populasi yang berusia antara 12 dan lebih dari 65 tahun berkisar antara 65,5 persen hingga 95 persen.

Masalah kesehatan mulut seperti karies gigi harus ditangani segera dan secara tepat untuk mencegah karies dari sedemikian parahnya sehingga gigi yang terkena harus dilakukan pencabutan gigi. Selain itu, di Indonesia, pencabutan gigi telah menjadi bentuk perawatan yang paling sering diterapkan pada karies gigi parah yang berpotensi menyebabkan kerusakan tulang alveolar.

Persentase prosedur yang melibatkan pencabutan gigi di Indonesia adalah sekitar 79,6 persen. Urutan normal penyembuhan tulang pencabutan gigi ekstraksi adalah resorptif, biasanya melibatkan cacat jaringan keras dan lunak di daerah tulang alveolar.

Hilangnya struktur jaringan periodontal di daerah yang terdampak setelah pencabutan gigi adalah masalah dan dapat mempengaruhi hasil estetika dan fungsional prostetik gigi guna rehabilitasi sistem pengunyahan. Perservasi soket pasca pencabutan gigi, yang melibatkan penggunaan cangkok tulang sebagai perancah biomaterial, diperlukan karena pola resorptif tulang alveolar.

Kedokteran gigi regeneratif yang melibatkan penerapan teknik-teknik rekayasa jaringan mulai muncul dan menjadi semakin populer. Trias rekayasa jaringan menggabungkan perancah yang biokompatibel, faktor pertumbuhan, dan sel punca yang kemudian dicangkokkan ke daerah yang terkena dampak untuk meningkatkan remodeling atau regenerasi jaringan yang rusak.

Regenerasi tulang dapat dicapai secara optimal dengan aplikasi sel punca mesenkimal (MSCs). Salah satu sumber MSC yang menjanjikan di bagian orofasial adalah sel punca pulpa gigi sulung (SHED) yang menunjukkan kemampuan diferensiasi osteogenik potensial yang mendukung regenerasi defek tulang. Namun demikian, perancah biokompatibel diperlukan untuk mendukung dan memfasilitasi proliferasi MSC secara optimal.

Perancah karbonat apatit (CAS) biomaterial relatif populer dan sering digunakan di Indonesia untuk merangsang regenerasi tulang sebagai cara mengatasi resorpsi tulang yang berlebihan. GAMA-CHA®, produk yang digunakan dalam penelitian ini, adalah perancah yang dibuat dan diformulasikan di Indonesia yang terdiri atas karbonat apatit dan gelatin.

SHED dapat menempel dan berkembang biak secara optimal karena CAS (GAMACHA®) daripada hidroksiapatit. Sementara itu, saat ini, belum ada penelitian yang menganalisis kemampuan SHED yang dikombinasikan dengan CAS (GAMA-CHA®) untuk memperbaiki resorpsi berlebih tulang alveolar pada hewan coba. Hipotesis dari penelitian ini adalah bahwa transplantasi CAS yang tergabung SHED meningkatkan remodeling tulang alveolar melalui ekspresi bone morphogenic protein 2 dan 7 (BMP-2 dan BMP-7) dan menurunkan ekspresi matrix metalloproteinase-8 (MMP-8) pada hewan coba. Karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki ekspresi BMP-2, BMP-7 dan MMP-8 setelah pencangkokan CAS yang dikombinasikan dengan SHED pada hewan coba.

Hasil penelitian ini menunjukkan ekspresi BMP-2 dan BMP-7 lebih tinggi pada CAS+SHED daripada pada kelompok CAS. Tingkat MMP-8 lebih rendah pada kelompok CAS+SHED daripada pada kelompok CAS. Ada lebih banyak peningkatan ekspresi BMP-2 dan BMP-7 pada kelompok CAS+SHED dibandingkan dengan kelompok CAS (p <0,01). Sementara itu, ada penurunan ekspresi MMP-8 yang signifikan pada kelompok CAS+SHED dibandingkan dengan kelompok CAS (p <0,01).

Berdasar hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa CAS yang dikombinasikan dengan SHED dapat meningkatkan ekspresi BMP-2 dan BMP-7 namun, menurunkan ekspresi MMP-8 selama remodeling tulang alveolar pada tikus wistar (R. norvegicus). (*)

Penulis: Prof. Dr. Chiquita Prahasanti, drg., Sp.Perio(K)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu