Kurangi Risiko Infeksi dengan Konsumsi Teh Hijau Secara Rutin

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh JPNN.com
Ilustrasi oleh JPNN.com

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus, seperti HIV/AIDS masih menjadi masalah di berbagai belahan dunia. Indonesia merupakan negara dengan tingkat penularan HIV tertinggi di benua Asia, karena terdapat peningkatan jumlah kasus baru yang signifikan setiap tahunnya. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dan tenaga kesehatan karena terdapat fenomena gunung es yang menyertai infeksi HIV/AIDS, yaitu masih terdapat banyak kasus yang belum terdeteksi. Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, terdapat lebih dari 16.000 orang Indonesia menderita HIV/AIDS. Lebih dari 50% penderita tersebut merupakan kelompok usia produktif, yaitu antara 20-29 tahun. 

Penambahan jumlah kasus baru belum dapat dikontrol secara maksimal karena hingga saat ini belum terdapat vaksin pencegah virus HIV/AIDS, sehingga terapi penderita HIV/AIDS sangat bergantung kepada obat antivirus di pasaran. Telah banyak penelitian dilakukan sebagai upaya untuk menemukan terapi tambahan (adjunctive) berbahan dasar herbal untuk meningkatkan harapan hidup penderita HIV/AIDS dan kelompok masyarakat beresiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS. Salah satu terapi tambahan tersebut dengan menggunakan teh hijau (Camellia sinensis) dipercaya sebagai salah satu bahan alami yang mampu menangkal infeksi virus. 

Infeksi HIV/AIDS menyebabkan gangguan sistem kekebalan tubuh yang dikenal dengan istilah immunodeficiency, yang ditandai dengan penurunan jumlah CD4 secara signifkan. Pada kondisi tersebut, penderita HIV/AIDS lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit lainnya. Kandungan bahan aktif flavonoid dan epigallocatechin gallate (EGCG) pada teh hijau terbukti mampu mengurangi dampak infeksi HIV dengan cara menghambat virus berikatan dengan sel tubuh. Dosis teh hijau yang dianjurkan untuk menghambat infeksi HIV adalah sebesar 10mg/ml. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk pengembangan terapi HIV/AIDS, yang tidak hanya mampu bertindak sebagai antivirus, tetapi juga menstimulasi sistem kekebalan tubuh penderita. 

.Penulis: Retno Pudji Rahayu

Informasi detail dari tulisan ilmiah ini dapat dilihat pada tulisan kami di, 

http://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2019/12/70.M-D18_700_Prihartini_Widiyanti1.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu