Daya Tarik Fisik dan Sosial Bentuk Interaksi antara Beauty Vlogger dan Penonton

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Beauty vlogger Indonesia. (Sumber: brilio.net)

Media sosial Youtube merupakan salah satu jenis social media yang tumbuh pesat di era revolusi industri 4.0 saat ini. Media ini banyak dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk sarana kreativitas, komunikasi, hiburan, sosial, bisnis, dan penyampaian informasi, ide, gagasan, pemikiran tentang apapun yang dianggap akan bermanfaat bagai banyak orang.

Beauty vlogger adalah merupakan salah satu pihak yang memanfaatkan medsos Youtube. Beauty vlogger membuat video konten di Youtube yang berisi tentang segala informasi mengenai dunia kecantikan. Beauty vlogger pada umumnya memiliki basis pengkut (penonton) berusia milenial dengan jumlah yang sangat besar.

Generasi muda yang berusia antara 15 – 35 tahun ini, merupakan 2/3 pengguna utama dan paling sering mengunjungi Youtube, mereka menonton Youtube lebih banyak daripada menonton televisi. Adapun interaksi antara beauty vlogger dengan penontonnya disebut sebagai parasocial interaction (PSI). Oleh karena itu, menarik untuk dikaji anteseden dan konsekuensi interaksi parasosial antara Youtube beauty vlogger dan penontonnya, yakni para wanita milenial.

Parasocial Interaction (PSI)

PSI merupakan sebuah konsep yang umumnya dikaji dalam bidang ilmu psikologi dan komunikasi bisnis. Konsep ini mengacu pada hubungan yang dapat terbentuk dan berkembang antara media users (penonton) dan media figures (dalam hal ini adalah beauty vlogger). Pada prinsipnya, PSI merupakan hubungan sosial yang bersifat imajiner. Hubungan tersebut dianggap sebagai “persahabatan” antara media figures dan penonton, dimana penonton mencari dan mendengarkan nasihat dari beauty vlogger seolah-olah mereka adalah teman dekat.

PSI memiliki sifat hubungan satu arah, artinya pada setiap video di YouTube terdapat fasilitas berupa “suka”, “tidak suka”, “shared”, dan “komentar” sehingga memungkinkan hubungan yang bersifat satu arah antara beauty vlogger dengan penonton mereka. Melalui fasilitas yang disediakan YouTube, beauty vlogger dapat memahami apa yang diinginkan penonton mereka dan masih tetap dapat mengontrol hubungan tersebut, serta penonton juga dapat memberi umpan balik, masukan,  dukungan,  kritik  dan  saran  kepada  beauty  vlogger, meskipun tidak semua umpan balik yang mereka berikan akan dibaca atau dibalas oleh beauty vlogger.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan riset kuantitatif, yakni dengan melakukan survei melalui penyebaran kuesioner pada 181 wanita milinial. Adapun teknik analisis yang digunakan dalam studi ini adalah Structural Equation Modeling dengan software SmartPLS.

Hasil analisis menunjukkan bahwa varibel social attractiveness, physical attractiveness, attitude homophily, dan expertise berpengaruh terhadap pembentukan interaksi parasosial antara beauty vlogger dengan penonton. Bagi produsen kosmetika, adanya interaksi parasosial yang terjalin dengan baik antara beauty vlogger dan penonton adalah merupakan hal yang mereka inginkan, karena dengan interaksi sosial yang baik secara tidak langsung perhatian penonton pada produk kosmetik yang didemonstrasikan juga akan tinggi.

Dari hasil studi ini didapatkan temuan bahwa pembentuk interaksi sosial yang baik antara beauty vlogger dan penonton adalah daya tarik secara sosial dan daya tarik secara fisik dari beauty vlogger, rasa dekat atau kemiripan antara penonton dan beauty vlogger (homophily), dan keahlian yang dimiliki oleh beauty vlogger tersebut.

Sebagai hasil dari adanya interakti sosial yang baik antara beauty vlogger dan penonton adalah berupa keinginan dari generasi milenial untuk membagi informasi tentang beauty vlogger dan kosmetika yang didemokan atau di-reveiw oleh beauty vlogger ke teman, kerabat, dan saudara-saudaranya.

Selain melakukan getok tular (positive word of mouth), juga akan menimbulkan persepsi postitif dari penonton bahwa merek kosmetiktersebut merupakan merek yang  paling  sesuai  menggambarkan  dirinya (brand user imagery fit), serta dampaknya pada niat generasi milenial untuk membeli produk kosmetik yang didemonstrasikan oleh beauty vlogger tersebut.

Pada akhirnya, implikasi dari hasil riset ini diharapkan memberikan kontribusi bagi pengembangan literatur manajemen pemasaran, khususnya komunikasi pemasaran yang berbasis pada media sosial YouTube. Diharapkan juga hasil studi ini dapat dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis kosmetika yang menyasar wanita milenial sebagai taget market mereka. (*)

Penulis: Tanti Handriana

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.ijicc.net/images/vol9iss8/9813_Handriana_2019_E_R.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu