Secangkir Kopi, Secercah Harapan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh AnteroAceh

Penikmat kopi makin hari kian bertambah. Kaum muda hingga kalangan perofesional terbiasa menikmatinya bersama kawan-kawannya di kafe. Semerbak harum bau kopi juga hampir selalu menemani canda tawa keluarga di rumah. Tapi adakah yang mencoba berangan-angan tentang manfaat yang terkandung dalam biji-biji kopi? Ada apa dengan kafein yang terkandung di dalamnya? 

Meski judulnya memakai kata “kopi” tapi artikel ini sejatinya tidak akan membahas kopi dengan detil. Tulisan singkat berikut akan membahas sedikit tentang adenosine dan peran adenosine reseptor di dunia medis. Dan perlu diketahui bahwa ternyata kafein mempunyai kaitan yang erat dengan adenosine.

Adenosine dan adenosine reseptor 

Apakah adenosine itu? Adenosine adalah molekul nukleosida yang kadarnya cukup banyak di dalam tubuh. Zat ini tersusun atas kumpulan basa adenine dan yang tersambung melalui ikatan glikosidik (glicosidic linkage) dengan ribose. Adensine diproduksi baik secara intra- dan ekstraseluler. Kadarnya akan semakin meningkat jika terjadi stress jaringan dan hipoksia. Adenosine berperan dalam banyak proses fisiologi dan patofisiologi melalui reseptor-reseptor adenosine yang tersebar di berbagai permukaan sel dan sistem organ.

Reseptor adenosine menurut jenisnya dibedakan berdasarkan efeknya terhadap cAMP dan adenilat siklase (adenylate cyclase/AC). Secara umum, dikenal empat reseptor adenosine (adenosine receptors/AR) yaitu A1AR, A2AAR, A2BAR, dan A3AR. Reseptor A1AR dan A3AR menurunkan kadar cAMP dan menghambat kerja AC sedangkan kedua reseptor lainnya justru meningkatkan fungsi cAMP dan AC. Yang menarik, A1AR dan A2AAR mempunyai afinitas yang sangat kuat (high affinity) dengan adenosine. Sebaliknya, adenosine berikatan dengan afinitas yang lemah (low affinity) dengan A2BAR dan A3AR. Semua AR termasuk dalam kelompok protein (G protein)-coupled receptor (GPCR) yang merupakan kelompok besar reseptor di permukaan sel yang bisa diaktifkan oleh berbagai ligan termasuk hormone dan neurotransmitter. 

Adenosine reseptor dan penyakit

Molekul adenosine pertama kali diungkapkan oleh Drury dan Szent-Gyorgyi ketika terjadi perubahan irama jantung dan pembuluh darah saat dirangsang dengan cairan yang diekstrak dari jantung. Berikutnya diketahui bahwa zat yang terkandung dalam ekstrak ini adalah adenosine. Konsep ini dikembangkan lebih lanjut dan terbukti bahwa banyak patofisiologi penyakit melibatkan adenosine dan AR.

Para ahli menyatakan bahwa AR berperan dalam proses fisiologis dan patofisiologis di banyak organ seperti sistem respirasi, jantung dan pembuluh darah, sistem saraf pusat, dan juga pencernaan. Selain itu, AR juga terlibat dalam patogenesis kanker. Berdasarkan hal tersebut maka banyak dilakukan penelitian tentang AR sebagai salah satu target terapi potensial untuk berbagai penyakit.

Adenosine melalui AR juga menentukan respons inflamasi, baik bersifat sebagai anti dan atau antiinflamasi. A1AR dan A2AAR bersifat anti dan proinflamasi sehingga diperkirakan bisa dimanfaatkan untuk mengatasi inflammatory diseases seperti rheumatoid arthritis (RA), sepsis, inflammatory bowel diseases (IBL) dan sejenisnya. Dunia farmasi pun telah berhasil mensintesis obat-obatan berdasarkan prinsip kerja AR.

AR di dalam sistem respirasi bisa menimbulkan bronkodilatasi. Oleh karena itu dkembangkan agonist A2AAR dan A2BAR yang digunakan untuk terapi asma dan PPOK, masing-masing yaitu Regadenoson dan BAY 60-6853. Kemampuan adenosine dalam memperkuat fungsi jantung (inotropic, dromoropik, dan kronotropik) juga dimanfaatkan produsen obat menciptakan terapi untuk penyakit gagal jantung, hipertensi, dan gangguan irama jantung.

Secara umum, prinsip terapi berdasarkan AR tidak selalu bersifat agonis tetapi juga bersifat antagonis. Hal ini disebabkan oleh karena ada pengaruh adenosine dan AR dalam memperparah penyakit, seperti penyakit Parkinson’s diseases (PD), depresi, Huntington’s diseases (HD), schizophrenia, dan kanker payudara. Istradefylline dan ZM242385 merupakan contoh antagonis A2AAR yang masing-masing digunakan untuk pengobatan PD dan HD. Begitupun juga dengan pemakaian antagonis A2BAR, ATL801, untuk terapi kanker melanoma dan payudara.

Kembali pada judul artikel di atas, bahwa sesungguhnya kopi merupakan bahan alami yang bersifat antagonis adenosine. Oleh karena itu para ahli banyak yang melakukan eksperimen tentang adenosine dan AR menggunakan kafein yang terkandung dalam kopi sebagai obat kontrol atau obat utama. Tidak mengherankan ada sebagian praktisi kesehatan yang menganjurkan minum kopi dalam batas tertentu untuk mengurangi stress atau meredakan serangan asma. Saat Anda meneguk secangkir kopi maka kafein akan memblok adenosine. Kafein akan menempati tempat adenosine di AR sehingga adenosine tidak akan berikatan dengan AR. 

Selamat menikmati secangkir kopi hitam!

Penulis: Wiwin Is Effendi

Pembahasan detil tentang adenosine dan adenosine reseptor bisa disimak dalam review artikel kami dengan mengakses

https://www.mdpi.com/2073-4409/9/3/785

Review Focusing on Adenosine Receptors as a Potential

Targeted Therapy in Human Diseases

Wiwin Is Effendi 1,2, Tatsuya Nagano 1,* , Kazuyuki Kobayashi 1 and Yoshihiro Nishimura 1 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu