Ekstrak Propolis sebagai Bahan Pulpcapping

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh dentalproducts

Perforasi pulpa dapat diakibatkan karena tindakan preparasi kavitas saat pengambilan jaringan karies pada kavitas yang dalam. Trauma perforasi mekanik ini akibat dari pemakaian bur atau alat kedokteran gigi lainnya. Apabila pulpa sudah terbuka, maka perawatan yang dilakukan adalah direct pulpcapping.Tujuan dari pengobatan regenerative jaringan pulpa ini adalah untuk membentuk jaringan normal pada daerah pertemuan antara pulpa dan dentin. Jaringan ini merupakan jaringan yang meregulasi pembentukan dentin tersier.Jaringanpulpaterdiridarisel progenitor yang berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi odontoblas.Odontoblas yang rusak dapat diganti oleh sel yang menyerupai odontoblas (odontoblast like cell) yang berasal dari sel fibroblast pulpa. Differensiasi odontoblas melibatkan beberapa growth factor dan matrik ekstra selular. Pada tahap ini kolagen tipe 1 dan 3 juga ikut berperan. Kolagen tipe 1 berperan dalam proses differensiasi serta pembentukan struktur komponen dentin. Kolagen tipe 1 merupakan matriks dentin ekstraselular spesifik yang dihasilkan pada awal pembentukan dentin reparatif. Kolagen tipe 1 pada sel odontoblas dianggap sebagai marker awal proses pembentukan dentin reparatif.

Bahan yang paling sering digunakan untuk perawatan pulpcapping adalah kalsium hidroksida. Namun sebagai bahan direct pulp capping memiliki beberapa kelemahan. Kalsium hidroksida dapat menginduksi peradangan pulpa yang berlangsung hingga 3 bulan, respon jaringan yang tidak dapat diprediksi, dentin reparatif yang terbentuk di bawah kalsium hidroksida tidak teratur, dan kemungkinan terjadinya kerusakan yang berbentuk tunnel defect sehingga memungkinkan terjadinya invasi bakteri.

Pada bidang kedokteran gigi saat ini mulai dikembangkan bahan pulpcapping dari bahan alam salah satunya adalah propolis. Propolis telah dikenal dijadikan salah satu pengobatan karena memiliki spektrum yang luas dari aktifitas biologic seperti antikarinogenik, anti-oksidan, anti inflamasi,antibiotik, antifungal serta efek anti hepatotoksik. Salah satu komponen aktif yang terkandung adalah Caffeic Acid Phenethyl Ester (CAPE). CAPE telah menunjukan fungsinya yang efektif sebagai anti kanker, anti-inflamasi dan sebagai immunomodulator.

Pada perkembanganya efek CAPE pada jaringan gigi sangat kontroversial. Beberapa penulis mengungkapkan bahwa CAPE dapat menimbulkan toksisitas di jaringan fibroblast gigi pada 2 mg keatas, sedangkan penulis lain mengindikasikan bahwa CAPE menstimulasi kolagen pada  pulpagigi dan mengurangi inflamasi dan degenerasi pulpa. Pada penelitian yang lain disebutkan bahwa CAPE sangat efektif dalam menstimulasi kolagen dalam pulpa dan menghambat inflamasi pada pulpa serta degenerasi.

Karakteristik penyembuhan jaringan pulpa yang terbuka meliputi reorganisasi jaringan lunak yang rusak, diferensiasi sub odontoblas menjadi odontoblast-like cells dan adanya pembentukan jembatan dentin reparatif pada jaringan pulpa yang terbuka. Pada saatjaringanterkenajejas, makafibroblasakansegerabermigrasikearahluka, berproliferasi dan memproduksimatrikskolagen yang akanhard tissue barrier yang mengisolasi iritan dari jaringan pulpa yang tersisadan memperbaikijaringan yang rusak.

Ketebalan odontoblast-like cells pada kelompok CAPE lebih kecil daripada kelompok propolis disebabkan karena ekstrak propolis telah diketahui memiliki aktivitas antibakteri, anti inflamasi, antioksidan, dan imunomodulator sehingga proses penyembuhan pada pulpa gigi yang diawali dengan terbentuknya serabut kolagen dapat lebih mudah terjadi karena propolis dapat mencegah terjadinya infeksi dan meningkatkan regenerasi sel. Flavonoid dan caffeic acid pada ekstrak propolis diketahui berperan penting dalam mengurangi respon inflamasi dengan menghambat jalur lip oksigen aseasamar achidonat serta berperan dalam system imun dengan meningkatkan aktivitas fagosit dan menstimulasi imunitas selular. Ekstrak propolis juga sebagai anti bakteri dengan cara menghancurkan dinding sel bakteri dan mencegah pembelahan sel bakteri. Ekstrak propolis memberikan efek pembentukan dentin yang lebih baik.

TGFβ1 merangsang proliferasifibroblas, zat fibrogenik kuat yang merangsang kemotaksis fibroblas dan meningkatkan pembentukan kolagen, fibronektin, dan proteoglikan. Kemampuan menghambat inflamasi dan merangsang produksi TGFβ1 serta diferensiasi fibroblast inilah yang mengakibatkan ketebalan odontoblast-like cells pada pulpa gigi tikus perforasi yang diberi ekstrak propolis secara signifikan lebih tebal disbanding gigi tikus yang diberi CAPE.

Flavonoid pada ekstrak propolis mampu merangsang induksi TGFβ1 dan sintesis kolagen oleh fibroblas. Dalam penelitian ini jumlah ekspresi kolagen tipe 1 yang paling banyak adalah dengan aplikasi ekstrak propolis daripada aplikasi CAPE. Propolis dan CAPE memiliki kemampuan farmakologis yang serupa. Ekstrak propolis memiliki komposisi utama yaitu asam fenolat dan ester, flavonoid (flavon, flavonon, flavonol, dihydroflavonols, chalcones), terpene, β steroid, arde aldehida, alkohol, sesquiterpen, naphthalene, turunan stilbenzol, asam benzo turunan asam dan asam benzoat. Dalam penelitian ini ekstrak propolis digunakan bersama dengan pelarut etanol yang mengandung polifenol, proleinetin, flavonoid, tertepenoid, galangin, kuersetin, minecetin, oligotinperginetin, nikobaleen A dan B serta CAPE.Aktivitas anti-inflamasi propolis dikaitkan dengan flavonoid, terutama galangin dan quercetin. Flavonoid menghambat aktivitas siklooksigenase dan lipoksigenase. Hasil penelitian di atas disimpulkan bahwa pemberian ekstrak propolis dapat meningkatkan pembentukan odontoblast-like cells. dan mampu menstimulasi produksi TGFβ1.

Penulis: Dr. Ira Widjiastuti, drg.,M.Kes.,Sp.KG(K).

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://e-journal.unair.ac.id/MKG/article/view/17750

Ira Widjiastuti, Ari Subiyanto, Evri Kusumah Ningtyas, Rendy Popyandra, Michael Golden Kurniawan, Fauziah Diajeng Retnaningsih (2020). Ira Widjiastuti, Ari Subiyanto, Evri Kusumah Ningtyas, Rendy Popyandra, Michael Golden Kurniawan, Fauziah Diajeng Retnaningsih. Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi), 53(1): 1-15; 10.20473/j.djmkg.v53.i1.p1-5

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu