Model Matematika Popularitas Media Sosial dengan Tingkat Insidensi Tipe Standar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh merdeka.com

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia, termasuk kemudahan komunikasi antar individu. Biaya komunikasi di masa lalu mahal. Namun, biaya komunikasi saat ini relatif murah karena keberadaan berbagai media sosial. Media sosial adalah aplikasi online yang memungkinkan pengguna memposting informasi tentang profil mereka, termasuk nama, foto, dan materi lainnya untuk dilihat oleh pengguna media sosial. Selain itu, pengguna media sosial juga dapat berkomunikasi satu sama lain dengan cara yang inovatif.

Salah satu media sosial populer adalah Facebook. Facebook mulai ada pada Februari 2004, Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa di Universitas Harvard, meluncurkan situs ini. Facebook adalah situs pertemanan dari Amerika Serikat. Diperkirakan 80% pengguna internet di seluruh dunia memiliki akun Facebook pada tahun 2014, dan 40% dari mereka adalah pengguna Facebook aktif atau mengakses Facebook sebulan sekali sepanjang tahun. Pada Oktober 2018, diperkirakan 2,235 miliar pengguna Facebook aktif di seluruh dunia. Popularitas Facebook mengingatkan pengguna media sosial tentang popularitas media sosial sebelumnya, yaitu Myspace. Myspace diluncurkan pada Agustus 2003, tetapi fitur yang tidak lengkap di Myspace memperingatkan Facebook untuk mengembangkan fitur yang lebih baik. Facebook memiliki fitur yang lebih baik daripada Myspace, di mana Facebook menawarkan pilihan halaman profil yang disesuaikan, berbagi foto, berbagi musik dan game online. Fitur yang tidak lengkap menyebabkan penurunan popularitas Myspace yang cepat. Akibatnya, NewsCrop, pemilik Myspace, menjual Myspace. Penurunan Myspace yang cepat juga dapat terjadi di media sosial lain seperti Facebook.

Pemodelan matematika memiliki peran penting dalam memahami banyak masalah nyata, termasuk dinamika pengguna media sosial. Para peneliti membangun dan menganalisis banyak model matematika untuk menggambarkan dinamika pengguna media sosial. Cannarella dan Spechler menggunakan model epidemiologi seperti SIR untuk menggambarkan penerimaan pengguna dan penolakan pengguna terhadap jejaring sosial online. Dari model mereka, Cannarella dan Spechler memperkirakan penurunan cepat aktivitas Facebook dalam beberapa tahun setelah 2014. Zhu et al. menerapkan model matematika epidemi untuk menjelaskan proses adopsi dan proses meninggalkan media  pada populasi pengguna jaringan sosial online. Dari model mereka, Zhu et al. prediksi evolusi demografi pada pengguna jejaring sosial online. Tanaka et al. juga menerapkan model epidemiologi seperti SIR untuk menjelaskan pertumbuhan dan penurunan pengguna layanan jejaring sosial. Tanaka et al. menemukan bahwa pertumbuhan pengguna layanan jejaring sosial dapat dipercepat dengan mengundang pengguna layanan baru. Proskurnikov dan Tempo membahas model dinamik yang berkelanjutan dan diskrit untuk menggambarkan dinamika jejaring sosial. DeLegge dan Wangler menerapkan model seperti SIR untuk mempelajari dinamika pengguna Facebook. DeLegge dan Wangler menemukan bahwa Facebook belum berakhir pada 2017.

Dalam model mereka, DeLegge dan Wangler menyelidiki dinamika populasi yang rentan (populasi individu saat ini bukan pengguna media sosial, tetapi terbuka untuk bergabung sebagai media sosial pengguna), populasi yang terinfeksi (populasi pengguna media sosial) dan populasi yang meninggalkan media sosial. DeLegge dan Wangler menggunakan tingkat insidensi bilinear untuk memodelkan laju peningkatan populasi pengguna media sosial. Tingkat insidensi bilinear hanya akurat pada fase awal epidemi pada populasi berukuran sedang. Peulis telah mengembangkan model matematika DeLegge dan Wangler dengan mempertimbangkan tingkat insidensi tipe standar. Model yang disajikan memiliki tiga solusi keseimbangan (titik setimbang) yaitu titik setimbang “tanpa pengguna media sosial”, titik setimbang “media sosial sangat populer” dan titik setimbang “media sosial populer”.  Ketiga titik setimbang tersebut bersifat stabil asimptotik bersayarat. Hasil simulasi numerik bersesuaian dengan hasil kajian analitik model. 

Penulis: Dr. Windarto, S.Si., M.Si.
Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga
Artikel lengkap (open access) dapat diakses melalui laman:  https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1757-899X/546/5/052086

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu