Profesor UNAIR Kembangkan Alat Deteksi Dini Diabetes Berbasis Spektroskopi Laser

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prototype alat deteksi glukosa non invasive. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS Dalam ilmu kedokteran, gula darah memiliki peran penting sebagai sumber utama energi untuk sel-sel tubuh. Umumnya tingkat gula darah normal pada rentang 70-150 mg/dl (milligram per deciliter, Red). Jika melebihi rentang tersebut maka dapat menyebabkan diabetes.

Dalam pemeriksaannya, sering dilakukan dengan cara invasive atau tes darah untuk mengukur kadar gula. Tetapi tidak semua orang berani dengan alat suntik maupun alat sejenisnya, dan tes dengan menggunakan jarum akan bermasalah untuk pasien yang kadar gula darahnya tinggi. Hal ini akan menyebabkan pendarahan pada pasien.

Keunggulan dari desain alat deteksi dini kadar glukosa urin non-invasive berbasis laser infrared untuk deteksi Diabetes Mellitus mampu menentukan hasil pengukuran kadar glukosa urin secara kuantitatif, kualitatif, dan dapat menentukan hasil deteksi berupa diabetes atau normal.

Berawal dari itu, Prof. Dr. Retna Apsari, M.Si., bersama dengan tim yang terdiri dari Prof. Dr. Moh. Yasin, Riky  Tri Yunardi  S.T, M.T, serta Winarno, S.Si, M.T, mengembangkan alat ukur kadar glukosa urin non invasive berbasis spektroskopi laser yang diberi nama Spektrolaser Glukosa Urin.

Prof. Retna menjelaskan bahwa pemilihan laser sebagai bassic penelitian, karena bidang yang ditekuni adalah laser. Selain itu karena keadaan non invasive hanya bisa dikondisikan dengan sumber bassic foton atau cahaya, khususnya laser yang mempunyai keunggulan yaitu monokromatis, sejajar, searah, sangat teliti dan untuk dispektrum di sekitar cahaya tampak dan infra merah mempunyai sifat yang non invasive.

Proses yang Dilakukan

Menurut Prof. Retna, penelitian yang telah berjalan selama satu tahun tersebut mula-mula dilakukan penentuan absorbs (penyerapan, Red) panjang gelombang urin. Panjang gelombang urin, lanjutnya, berada direntang 1064 nm (nanometer, Red).

Laser yang digunakan adalah laser diode dengan panjang gelombang direntang 830 nm. Oleh karena itu, ditambahkan reagen tertentu agar panjang gelombangnya mencapai 1064 nm.

“Jadi sebenarnya yang cocok itu adalah laser Nd YAG 1064, tapi itu mahal, padahal kita itu sebenarnya mau dipakai komersial. Kemudian kita turunkan ke laser diode,” terangnya.

Tahap Uji Coba

Pengujian yang dilakukan di antaranya uji in vitro dan dilanjutkan uji in vivo di tahun ini. Dalam uji in vitro atau uji lab, menurut Prof. Retna menggunakan urin yang dicampur air dengan konsentrasi tertentu. Selain itu, juga menggunakan urin orang yang sedang berpuasa maupun tidak.

Selanjutnya, setelah uji in vivo akan dilanjutkan dengan uji klinis bersama dengan tim yang memiliki laboratorium,  diujikan langsung kepada pasien-pasien yang telah terindikasi diabetes. Rencan penggunaan alat ini juga akan menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI).

“Uji coba sudah dilakukan, uji in vitro itu melalui urin. Uji coba alat secara lab, awalnya memang urin puasa atau tidak diberikan tambahan air untuk divariasikan konsentrasinya. Kemudian kita lanjutkan urin pasien yang sudah terdiagnosis diabet untuk uji coba lanjutan alat yang sudah didesain. Saya menggunakan pasien dari mereka sebagai sampel dalam penelitian ini. Dari hasil kalibarasi alat dengan reagen dipstick diperoleh akurasi alat yang didesain sebesar 90%,” jelasnya.

Prof Retna Apsari

Penelitian yang menghabiskan waktu 9 bulan untuk membuat prototype tersebut telah memasuki proses pengajuan HAKI agar ide yang ada aman dan dapat terlindungi. Setelah proses optimasi final, akan dilanjutkan dengan pengajuan paten, sebelum alat diproduksi masal.

“Diharapkan alat ini akan dioptimasi di tahun ini dan memenuhi persyaratan sebagai salah satu instrumen alternatif, sehingga akan dapat dihilirasi di masyarakat,” ujar Prof Retna yang menjabat sebagai Wakil Dekan I Fakultas Vokasi.

Hasil penelitian itu  sudah dipaparkan di kalangan peer group fotonika internasional pada International Laser Technology and Optics Symposium (ILATOS) yang dilaksanakan di Universiti Teknologi Malaysia pada September 2019 silam. Dalam forum itu, Prof. Retna bertindak sebagai keynote speaker.

Dengan adanya penelitian tersebut, Prof Retna berharap, kedepannya alat tersebut dapat digunakan untuk alat alternatif selain alat yang ada, setidaknya sebagai alat deteksi awal yang bersifat non invasive. Serta, dapat bermanfaat terutama bagi daerah pedalaman atau daerah yang jauh dari jangkauan laboratorium maupun dokter. (*)

Penulis : Asthesia Dhea Cantika

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu