Tiga Kesalahan Umum dalam Penggunaan Antibiotik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Kompasiana.com

UNAIR NEWS – Antibiotik merupakan salah satu jenis obat yang digunakan untuk mengatasi dan mencegah infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik tidak bisa dilakukan sembarangan, artinya harus dengan resep dokter. Namun, pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang menggunakan antibiotik secara luas dan tidak sesuai dengan indikasi. Melihat hal itu, salah satu dosen Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Isnaeni, M.S., Apt memberikan tanggapannya.

“Antibiotik itu mengandung bahan aktif yang dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroba tertentu tergantung jenis antibiotika dan mikrobanya. Oleh karena itu, pasien yang menerima obat antibiotik harus sudah dipastikan melalui diagnosa dokter bahwa ada gejala infeksi,” jelasnya.

Meski begitu, dosen kelahiran 13 Januari 1956 itu menerangkan bahwa terdapat tiga kesalahan umum yang sering dilakukan masyarakat terkait dengan antibiotik. Kesalahan pertama adalah antibiotik digunakan tidak tepat indikasi yang sesuai dengan tujuan pengobatan. Artinya, masih banyak pasien mengonsumsi antibiotik tanpa arahan dokter, bahkan menurutnya tidak jarang pula pasien membeli antibiotik karena keluhan capek atau luka segar. Kesalahan selanjutnya yaitu tidak tepat dosis dan tidak sesuai aturan pemakaian.

“Banyak pasien yang tidak patuh dosis. Misalnya disuruh minum sehari tiga kali tapi hanya diminum sekali, dll,” tambahnya.

Lebih lanjut, dosen mata kuliah Analisis Mikrobiologi itu menjelaskan bahwa penggunaan antibiotik yang tidak sesuai anjuran dapat menyebabkan resistensi, yaitu kondisi dimana mikroorganisme penyebab infeksi menjadi kebal terhadap antibiotika. Kondisi tersebut sangat menghawatirkan, karena selama ini antibiotik merupakan obat andalan dalam mengobati berbagai jenis penyakit yang disebabkan bakteri, sehingga pasien akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan komposisi obat apabila sakit. Bahkan, dilansir dari cnnindonesia.com, World Health Organization (WHO) menggolongkan resistensi antibiotik sebagai ancaman global karena dapat menyebabkan keparahan penyakit, kecacatan, hingga kematian.

“Intinya adalah gunakan obat tepat indikasi, tepat dosis, dan sesuai aturan pakai menurut petunjuk dokter atau apoteker. Jangan melakukan pengobatan sendiri atau swamedikasi menggunakan antibiotic,” tutupnya.

Penulis: Nikmatus Sholikhah

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu