Sempat Tak Capai IPK 3,00, Kinanthi Lulus Jadi Wisudawan Berprestasi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Kinanthi Larasati Prabowo Putri Wisudawan Berprestasi Fakultas Psikologi. (Ilustrasi: Feri Fenoria Rifai)

“Boleh lelah, boleh sedikit menunda, tapi jangan pernah kalah dan memutuskan untuk berhenti. Jika berhenti, maka selesailah sudah, tidak ada yang bisa ditambahkan atau diperbaiki”

UNAIR NEWS – Kinanthi Larasati Prabowo Putri berhasil mengantongi penghargaan sebagai Wisudawan Berprestasi S1 Fakultas Psikologi UNAIR periode Maret 2020. Perolehan penghargaan tersebut bukanlah hal yang mudah, meski sempat tak mencapai IPK 3,00, Laras tak berhenti berjuang mengejar ketertinggalan.

Semasa kuliah, Laras aktif mengikuti beberapa kegiatan di kampus. Di antaranya adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) beladiri Ju-Jitsu.  Untuk kegiatan di Fakultas Psikologi, Laras sempat berpartisipasi pada kegiatan pengkaderan untuk mahasiswa baru pada tahun 2018.

Selain itu, Laras cukup aktif mengikuti pertandingan olahraga yang diselenggarakan di dalam negeri maupun di luar negeri. “Pertandingan olahraga yang paling sering aku ikuti yaitu pada cabang tenis lapangan dan beladiri Ju-Jitsu,” ungkapnya.

Perjalanan perkuliahan yang dilalui Laras tidaklah mudah. Dia bercerita bahwa akumulasi nilai IPK yang Laras dapatkan pada semester 1 bahkan tidak mencapai angka 3.00. Pengulangan beberapa mata kuliah tak segan Laras lakukan dengan tujuan memperbaiki kesalahan metode belajar yang dilakukannya di semester awal.

To be honest, Laras merasa sedikit terguncang karena hal itu sehingga bertekad untuk berjuang lebih keras pada semester-semester selanjutnya,” tuturnya.

Kendala paling besar yang dilalui Laras ada pada tugas akhir yang harus diselesaikan, yaitu skripsi. Mental Laras sangat diuji di sana karena mendapatkan tuntutan untuk segera menyelesaikan skripsi pada semester tujuh.

“Aku kan, orangnya cukup perfeksionis. Jadinya aku tidak mau menyelesaikannya (skripsi, Red) secara asal-asalan. Waktu istirahat dan kesenangan pribadi yang aku korbankan selama kurang lebih tiga bulan khusus untuk skripsi,” ungkapnya.

Hambatan yang dilalui Laras tak berhenti di situ. Setelah skripsi, terpatnya pada saat sidang akhir, Laras melakukan suatu kesalahan sehingga Laras harus mengikuti sidang perbaikan.

Laras berpesan bahwa sebagai mahasiswa tidak boleh merasa kalah dan memutuskan untuk berhenti berjuang. Jika berhenti berjuang, maka selesailah sudah. Tidak ada yang bisa ditambahkan atau diperbaiki.

“Berhenti tidak akan membuat kita melangkah kemana-mana. Selama kita hidup, maka kita akan terus belajar, terus berproses,” tutupnya. (*)

Penulis: Sandi Prabowo

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu