Arekfeminis Tekankan Pentingnya Kepemimpinan Perempuan dalam Diskusi BEM FH UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Rinta Yusna sedang menjelaskan materinya yang didampingi oleh Lailatul Komaria selaku moderator. (Foto: Pradnya Wicaksana)

UNAIR NEWS – Pekan Perempuan 2020 merupakan program kerja (proker) yang dicanangkan oleh Kementerian Sosial dan Politik BEM FH UNAIR yang diadakan selama sepekan pada tanggal 2-6 Maret 2020 untuk memperingati Hari Perempuan Internasional yang diadakan setiap tanggal 8 Maret. Acara keempat pada proker itu adalah sebuah diskusi yang mengundang Rinta Yusna, seorang anggota Arekfeminis, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bergerak dalam pemberdayaan perempuan, khususnya dalam bidang kepemimpinan perempuan. Kegiatan itu bertajuk “Diskusi Tuntutan Women’s March” yang dilangsungkan pada Kamis (6/3/2020) di R.305 Gedung B FH UNAIR.

Rinta, sapaan akrabnya, menjelaskan akar penyebab dari berbagai kekerasan dan diskriminasi yang seringkali dialami perempuan adalah sistem patriarki. Sistem itu membentuk mindset bahwa perempuan itu inferior daripada laki-laki sehingga kodrat perempuan itu direndahkan. Ia menambahkan bahwa dewasa ini, seringkali juga sistem patriarki dijadikan alat untuk politik identitas untuk suatu calon politik apabila lawan politiknya adalah perempuan.

“Seringkali perempuan juga mendapatkan berbagai perisakan seperti “sayang sekali kamu tidak berhijab” atau “Senakal-nakalnya laki-laki pasti akan memilih perempuan yang baik”. Hal ini walau kelihatannya sepele, ini sangat bahaya untuk psikis seorang wanita yang menjadi korban,” ujarnya.

Menurut Rinta, sistem patriarki juga berdampak buruk pada sisi laki-laki. Laki-laki diposisikan sebagai kepala keluarga diharapkan memiliki sikap yang maskulin, tangguh, dan sebagai tombak utama dalam perekonomian keluarga. Terkadang, tuntutan maskulinitas tersebut berlebihan (toxic masculinity), tanpa memerhatikan bahwa laki-laki juga manusia yang memiliki perasaan dan kelemahan. Ia menambahkan itu sangat berdampak pada fakta bahwa laki-laki melakukan tindakan bunuh diri lebih sering daripada perempuan.

Oleh karena itu, Rinta menekankan bahwa perempuan perlu menumbuhkan kepemimpinan perempuan. Kepemimpinan perempuan adalah keberanian dalam mengambil sikap/keputusan untuk dirinya yang akan memberikan dampak positif bagi perempuan itu sendiri tanpa merugikan orang lain.

“Agar tidak ada kebingungan, pemimpin perempuan dan kepemimpinan perempuan adalah dua hal yang berbeda. Pemimpin perempuan belum tentu memiliki jiwa kepemimpinan perempuan. Sudah banyak contoh pemimpin perempuan yang dari kebijakan-kebijakannya malah merugikan perempuan. Lihat saja RUU Ketahanan Keluarga,” tutur Rinta.

“Diharapkan dengan kepemimpinan perempuan ini, perempuan jadi memiliki kemerdekaan untuk menentukan pilihannya masing-masing. Kami tidak harus menuruti orang apabila tidak ingin menikah dini, dijodohkan, kami berani bicara dan melawan apabila sedang mengalami sexual harassment,” tutupnya.

Perlu diketahui, diskusi Tuntutan Women’s March bersama Arekfeminis merupakan kegiatan terakhir sebelum acara puncak yaitu Women’s March yang akan diselenggarakan pada Jumat sore (6/3/2020) di Kampus B UNAIR.

Penulis: Pradnya Wicaksana

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu