Alumnus UNAIR Jadi Juru Bicara Penanganan Virus Corona

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Achmad Yurianto juru bicara Presiden RI untuk penanganan dan pencegahan Virus Corona. Yuri merupakan alumnus Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR angkatan 1990. (Dok. setkab.go.id)

UNAIR NEWS – Menanggapi Virus Corona yang mulai menyebar ke Indonesia, pemerintah mengambil langkah sigap. Salah satunya adalah dengan menunjuk dr. Achmad Yurianto sebagai juru bicara untuk penanganan dan pencegahan Virus Corona. Penunjukkan itu secara resmi dilakukan oleh Presiden Joko Widodo, pada Selasa (3/3/2020) kemarin.

“Pemerintah telah menunjuk jubir resmi untuk penanganan corona, yakni Dr Achmad Yurianto. Dia itu Sesditjen P2P Kemenkes,” kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3/2020) mengutip Kompas.com.

Nantinya semua informasi menyangkut penanganan Virus Corona akan terkonsentrasi pada satu juru bicara, Dokter Achmad Yurianto alumnus Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR angkatan 1990 yang juga pernah menjabat sebagai Komandan Resimen Mahasiswa Universitas Airlangga tahun 1986-1988. Laki-laki yang kerap disapa Yuri itu bertugas menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan Virus Corona.

Sebelumnya, dokter kelahiran Malang, 11 Maret 1962 itu kerap menghadapi awak media untuk memberi penjelasan terkait virus asal Wuhan tersebut. Dia juga adalah salah satu sosok penting di balik pemulangan ratusan WNI dari Cina akibat virus mematikan itu.

Yuri saat ini bertugas sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan. Sebelum bertugas di Kementerian Kesehatan, dia memulai karir di dunia militer sebagai Perwira Utama Kesehatan Daerah Militer V Brawijaya pada 1987.

Sosok Yuri memang cukup lama dikenal sebagai dokter anggota militer.  Dia sempat menjabat Kepala Kesehatan Kodam Pattimura dan memimpin Batalyon Kesehatan Kostrad. Tidak hanya itu, ia juga pernah menjalani misi sebagai dokter Batalyon Infanteri 745/Sampada Yudha Bakti yang ditugaskan ke Dili Timor Timur pada tahun 1991.

Karir Yuri kian menanjak setelah diangkat menjadi Wakil Kepala Rumah Sakit tingkat II Dustira Bandung Jawa Barat pada 2006. Ia kemudian menjabat sebagai Wakil Kepala Kesehatan Daerah Militer IV Diponegoro Semarang pada tahun 2008, Kepala Kesehatan Daerah Militer XI Pattimura Ambon Maluku pada tahun 2009, dan Kepala Dinas Dukungan Kesehatan Operasi Pusat Kesehatan TNI pada 2011.

Pada tahun 2015, Yuri diminta oleh Menteri Kesehatan Nila Moeloek untuk menempati posisi Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan hingga tengah tahun 2019.

Dokter yang berusia 58 tahun itu, saat ini terus melakukan koordinasikan proses observasi kesehatan para WNI yang dijemput dari berbagai negara yang menjadi episentrum virus Covid-19. Selanjutnya, dalam rangka penanganan virus, Yuri juga meminta semua pihak menahan diri untuk menyampaikan informasi soal status penularan Virus Corona.

“Ini akan kita koordinasikan lagi pada daerah agar sekali lagi, bahwa pada ranah medis, biarlah medis yang mengumumkan. Jangan kemudian diumumkan orang lain. Takutnya nanti bias enggak karu-karuan,” ujar Yuri di Kantor Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2020) mengutip Kompas.com. (*)

Penulis : Erika Eight Novanty

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu