Hubungan Antara Karakteristik Skeletal dan Gigi pada Pasien dengan Maloklusi Kelas II

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi maloklusi. (Sumber: Dictio Community)

Di era modern saat ini, kebutuhan dan permintaan akan perawatan ortodonti semakin meningkat. Masyarakat menjadi semakin sadar akan penyimpangan gigi, terutama dengan kelainan bentuk wajah karena hubungan rahang yang tidak harmonis yang sangat mempengaruhi penampilan. Selain itu, gigi yang tidak teratur dan hubungan rahang yang tidak harmonis akan sangat memengaruhi sistem pengunyahan, pencernaan, dan artikulasi.

Oklusi adalah kontak maksimum dari hubungan antara gigi rahang atas dan gigi rahang bawah selama posisi istirahat mandibula. Sedangkan, segala macam penyimpangan dari oklusi ideal disebut maloklusi. Prevalensi maloklusi di berbagai negara masih cukup tinggi.

Di Indonesia, prevalensi maloklusi mencapai 80% dari populasi. Pada saat yang sama, sebuah penelitian di Seoul pada 2012, menunjukkan bahwa prevalensi maloklusi cukup tinggi sekitar 50,2% dari total populasi dengan usia lebih dari 19 tahun, dengan 33,6% maloklusi kelas II dan 23,6% maloklusi kelas III. Sementara pasien yang membutuhkan pencabutan gigi 60,4% dan bedah ortognatik 6,9%.

Selanjutnya, hasil penelitian Baral menunjukkan bahwa 61,3% ras Arya dan 64% ras Mongoloid memiliki maloklusi kelas I.3 Maloklusi kelas II divisi 1 adalah 25,2% ras Arya dan 17,9% ras Mongoloid. Sedangkan maloklusi kelas II divisi 2 memiliki prevalensi lebih rendah sekitar 5,3% dari ras Arya dan 2,5% dari ras Mongoloid, dan kelas III maloklusi adalah 8,2% dari ras Arya dan 15,6% dari ras Mongoloid.

Maloklusi dapat disebabkan oleh abnormalitas susuan gigi atau tulang. Maloklusi gigi diklasifikasikan menurut hubungan molar permanen pertama. Klasifikasi maloklusi menurut metode klasifikasi Angle. Selain itu, maloklusi skeletal dapat ditentukan dengan berbagai analisis sefalometrik. Pola maloklusi skeletal kelas II ditentukan profil wajah dan karakteristik gigi. Pasien dengan maloklusi skeletal kelas II, dapat dipastikan memiliki pola maloklusi gigi kelas II. Namun, pasien dengan maloklusi gigi kelas II tidak dapat dipastikan memiliki pola maloklusi skeletal kelas II.

Secara klinis, maloklusi skeletal kelas II tidak dapat menentukan apakah mandibula terlalu jauh ke belakang ke rahang atas atau maksila terlalu jauh ke depan disbanding mandibula. Beberapa hasil penelitian sebelumnya masih belum dapat mengungkapkan karakteristik dentofasial dari kelas II divisi 1. Pendapat dari ortodontis sebelumnya juga ambigu dan bahkan kontradiktif.

Mc Namara menyimpulkan bahwa retrusi mandibula adalah karakteristik utama dari maloklusi kelas II dan jarang ditemukan pada maksila protrusi. Sebaliknya, Rothstein mengatakan mandibula paling sering ditemukan dalam kisaran karakteristik posisi normal, ukuran, dan bentuk. Sementara Rosenblum menemukan bahwa 56,6% subjek dengan maloklusi kelas II memiliki maksila penonjolan dan hanya 26,7% memiliki mandibula retrusion.

Pengetahuan tentang variasi hubungan gigi terhadap pola skeletal pada individu dengan oklusi yang baik, akan mendukung untuk menentukan tidak harmonisnya maloklusi. Maka dari itu perlu dipahami variasi hubungan pola skeletal terhadap pola gigi untuk mengungkap kompleksitas maloklusi, di mana kondisi gigi dapat memengaruhi kondisi skeletal yang semakin parah. Berdasarkan alasan ini, diharapkan untuk memahami hubungan antara pola gigi dan tulang pasien dengan maloklusi skeletal kelas II.

Dalam penelitian ini, pola maloklusi skeletal kelas II dan karakteristik gigi diukur. Pola karakteristik gigi yang diukur meliputi: bentuk lengkung gigi; jarak gigit; tumpeng gigit; bentuk, lebar, dan panjang lengkung gigi; dan tinggi inter-premolar dan lengkungan molar. Frekuensi tertinggi bentuk lengkung gigi tiruan rahang atas adalah bentuk-v dengan 52,3%, diikuti oleh bentuk omega dengan 30,8%, bentuk persegi dengan 12,3%, dan bentuk parabola dengan 4,6%.

Hasil yang sama ditemukan di rahang bawah, keunikan bentuk lengkung gigitiruan tertinggi adalah v-shape dengan 55,4%. Sedangkan bentuk persegi dengan 23,1%, bentuk omega dengan 20% dan bentuk parabola dengan 1,5%. Lengkungan parabola normal jarang ditemukan pada maloklusi skeletal kelas II, karena penyempitan lengkung gigi anterior lebih banyak ditemukan pada rahang atas dan rahang bawah oleh para peneliti. Terdapat korelasi antara pola skeletal kelas II dan karakteristik gigi, SNA berkorelasi positif dengan lebar interpremolar maksila dan SNB berkorelasi negatif dengan tinggi interpremolar mandibula.

Ada berbagai karakteristik skeletal dan gigi yang berkorelasi dengan ras Deutromalayu (etnis Jawa) yang membuat kompleksitas dentokraniofasial dalam maloklusi skeletal kelas II. (*)

Penulis: I Gusti Aju Wahju Ardani

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di

http://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2019/12/30.D18_791_Ardani.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu