Dukungan Model Kurikulum Pendidikan Dokter terhadap Kapasitas Retensi Mahasiswa Kedokteran

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi ilmu kedokteran. (Sumber: Warta Tribunnews)

Ilmu kedokteran terus berkembang secara pesat. Sehingga diperlukan sebuah kurikulum pendidikan dokter yang menunjang proses pembelajaran mahasiswa kedokteran untuk mencapai standar yang telah ditetapkan. Saat ini banyak model kurikulum yang dikembangkan dan digunakan dalam pendidikan kedokteran. Namun, pengembangan model kurikulum yang baru harus disertai dengan proses evaluasi untuk mendapatkan umpan balik dan penyesuaian kurikulum secara berkala.

Penelitian ini dilaksanakan pada suatu institusi pendidikan kedokteran program sarjana kedokteran yang menjalankan dua model kurikulum sebagai bagian masa transisi mengikuti proses redesign kurikulum. Kurikulum lama dimana materi diberikan dalam 1 semester penuh bersamaan dengan modul terintegrasi, dan kurikulum baru yang menggunakan sistem kluster (1-2 mata kuliah dasar yang diberikan dalam jangka waktu tertentu) dan blok sistem-organ.

Saat ini, masih belum ada studi yang membandingkan secara head-to-head antara kurikulum lama dan kurikulum baru dalam hal kapasitas retensi. Sehingga hal ini yang menjadi dasar kami dalam melakukan studi tersebut untuk mencari tahu model kurikulum manakah yang mendukung mahasiswa kedokteran dalam hal kapasitas retensi.

Kami menggunakan dua kelompok mahasiswa (tahun ke-2 dan tahun ke-3) sebagai sampel pada penelitian ini. Mata kuliah yang dipilih adalah Patologi Klinik. Topik ini merupakan salah satu materi ilmu kedokteran dasar dan diberikan pada waktu yang relatif bersamaan kepada kedua kelompok tersebut.

Pada kelompok pertama (mahasiswa tahun ke-3), mata kuliah Patologi klinik diberikan selama 14 minggu bersamaan dengan 7 mata kuliah lainnya. Sedangkan pada kelompok kedua (mahasiswa tahun ke-2), mata kuliah Patologi Klinik diberikan selama 6 minggu bersamaan dengan 1 mata kuliah lainnya. Beban materi yang diberikan dan metode penilaian ujian antara kelompok pertama dan kedua adalah sama.

Tes retensi dilakukan 5 bulan setelah kedua kelompok selesai menjalani mata kuliah Patologi Klinik. Tes ini terdiri atas 25 soal pilihan ganda yang mencakup keseluruhan materi Patologi Klinik. Jawaban benar akan diberikan nilai +1 dan tidak ada penalti untuk jawaban kosong atau salah. Perbedaan yang mendasar antara tes retensi dengan ujian akhir mata kuliah adalah pada tes retensi, pertanyaan-pertanyaan yang diujikan bertujuan untuk menguji pemahaman mahasiswa terhadap materi Patologi Klinik. Tes ini tidak menilai kemampuan mahasiswa dalam menghafal topik tersebut.

Tes retensi diikuti oleh 280 mahasiswa, terdiri atas 138 mahasiswa tahun ke-3 dan 142 mahasiswa tahun ke-2. Dari hasil tes tersebut, didapatkan bahwa rerata nilai tes retensi pada kelompok pertama lebih tinggi secara signifikan daripada kelompok kedua (10.93±3.57 vs 8.56±3.19, p<0.0001). Selain itu, kami juga membandingkan persentase penurunan nilai akhir patologi klinik terhadap nilai tes retensi materi. Kami mendapatkan bahwa persentase penurunan nilai akhir patologi klinik kelompok pertama lebih rendah secara signifikan daripada kelompok kedua (34.02±19.74 vs 41.90±20.61, p=0.001).

Berdasarkan hasil diatas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan retensi pengetahuan tentang patologi klinik mahasiswa pada kelompok pertama lebih baik daripada kelompok kedua. Beberapa hal yang kami duga menyebabkan perbedaan antara kelompok pertama dan kelompok kedua adalah: (1) Beban materi dan waktu yang tersedia, (2) Jumlah mata kuliah yang dilaksanakan secara bersamaan, dan (3) Faktor lain yang mempengaruhi pengalaman belajar individual.

Terkait beban materi dan waktu yang dibutuhkan untuk memprosesnya, terdapat sebuah teori cognitive load yangdicetuskan oleh Merriënboer et al (2010). Disebutkan bahwa otak manusia hanya memiliki kapasitas yang terbatas untuk menyimpan sejumlah informasi sesaat (working memory) dalam jangka waktu tertentu. Agar sebuah informasi dapat diproses menjadi ingatan jangka panjang, diperlukan proses repetisi sehingga working memory tidak diabaikan atau dilupakan, namun diubah menjadi long-term memory.

Adanya variasi dalam jumlah kursus yang diberikan secara paralel dapat pula mempengaruhi kemampuan retensi mahasiswa. Dengan jumlah kursus yang semakin banyak, diharapkan mahasiswa dapat mengintegrasikan ilmu yang didapatkan dari satu kursus ke kursus lainnya sehingga mereka mendapatkan gambaran umum dari materi yang mereka pelajari.

Selain itu, faktor lain yang berperan adalah pengalaman belajar individual. Hal ini dapat dikelompokkan lebih lanjut menjadi : (1) Faktor individual yang terdiri atas motivasi, rutinitas belajar, dan kebiasaan mengulang materi setelah kuliah; (2) Faktor pengajar seperti gaya mengajar, tuntunan yang diberikan pengajar, dan pemanfaatan instrument dalam proses mengajar; (3) Lingkungan belajar; dan (4) Faktor lainnya seperti masalah keluarga atau masalah kesehatan.

Akhir kata, model kurikulum kedokteran mungkin memiliki dampak yang signifikan terhadap kemampuan kapasitas retensi mahasiswa kedokteran. Agar memiliki kemampuan retensi yang lebih baik, kita harus mempertimbangkan beban materi dan waktu yang diberikan untuk memprosesnya. (*)

Penulis : Jovian Philip Swatan, Fundhy Sinar Ikrar Prihatanto, Nancy Margarita Rehatta, dan Atika Artikel jurnal dapat diakses melalui laman berikut :

https://doi.org/10.3946/kjme.2019.145

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu