Urgensi Bangun Kesadaran untuk Membatasi Konsumsi Garam pada Lansia di Wilayah Pesisir

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Jawa Pos.com

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskuler yang prevalensinya terus meningkat dan berkontribusi meningkatkan angka kesakitan dan kematian. Hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi hipertensi usia dewasa di Indonesia sebesar 34.11% dan semakin meningkat dengan bertambahnya usia. Konsumsi garam berlebih dihubungkan dengan kejadian hipertensi dan hampir seluruh populasi di dunia menunjukkan asupan garam yang melebihi rekomendasi. Masyarakat daerah pantai tergolong kelompok yang rentan menderita hipertensi dikaitkan dengan konsumsi garam berlebihan terkait dengan pekerjaan mengasinkan ikan maupun wilayah geografisnya. 

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan asupan garam dan program-program yang telah dijalankan terbukti efektif dan efisien. Berbagai negara telah terbukti sukses menurunkan konsumsi garam pada populasinya. Pelayanan kesehatan masyarakat turut berperan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan mengedukasi serta memberikan kesadaran untuk mengurangi asupan garam yang berlebihan. Studi ini dilakukan untuk menilai asupan garam pada masyarakat lanjut usia yang berpartispasi di posyandu lansia sebagai salah satu program kesehatan masyarakat wilayah Kenjeran Surabaya

Studi dilakukan secara cross sectional pada 51 perempuan usia lebih dari 45 tahun yang tinggal di pesisir kenjeran Surabaya dengan tujuan mengidentifikasi asupan garam pada perempuan usia dewasa lanjut yang berpartisipasi dalam program kesehatan masyarakat. Dilakukan pengumpulan urin 24 jam untuk menilai kadar natrium atau garam dalam urin dan pengukuran tekanan darah yang dilakukan pada pagi hari. Partisipasi subyek dalam program kesehatan masyarakat dilihat dari jumlah kunjungan selama 3 bulan terakhir, sedangkan tingkat kesadaran dengan menanyakan langsung apakah saat ini mereka menghindari atau membatasi konsumsi garam dalam makanannya.

Hasil studi menunjukkan rerata asupan garam adalah 6,16±3,48 g/hari dan hanya 11,8% subyek yang mengonsumsi garam <3 g/hari. Namun demikian, sebagian besar subjek (62,8%) mengonsumsi garam <6 g/hari. Kesadaran untuk membatasi konsumsi garam pada penelitian ini dikaitkan dengan kadar natrium yang rendah dalam urin. Hal tersebut dikaitkan pula dengan tingkat partisipasi  aktif subyek mengikuti program kesehatan masyarakat melalui berbagai program yang ada seperti edukasi gizi yang diberikan.

Rerata konsumsi garam yang masih melebihi rekomendasi WHO sebesar 5 g/hari serta prevalensi hipertensi yang masih cukup tinggi (37,3%) menunjukkan masih perlunya berbagai strategi yang komprehensif untuk menurunkan konsumsi garam dan tekanan darah pada masyarakat wilayah pesisir. Peran akses serta program kesehatan masyarakat perlu terus digalakkan untuk mengedukasi masyarakat dalam menngkatkan kesadaran untuk membatasi konsumsi garam. 

Penulis: Farapti, dr., M.Gizi

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di Journal of Nutrition and Metabolism

https://www.hindawi.com/journals/jnme/2020/8793869/

Farapti F, Fatimah AD, Astutik E, Hidajah AC, Rochmah TN. Awareness of salt intake among community dwelling elderly at coastal area: The role of public health access program. Journal of nutrition and metabolism 2020(2):1-9. doi: https://doi.org/10.1155/2020/8793869

Berita Terkait

Nuri Hermawan

Nuri Hermawan

Leave Reply

Close Menu