Cegah Risiko Anemia pada Perempuan Menstruasi dengan Zat Besi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi sumber enfa.co.id
Ilustrasi sumber enfa.co.id


“Gejala kekurangan zat besi dilihat dari kondisi anemia atau tidak. Sedangkan gejala anemia yaitu pucat, pusing, mudah mengantuk, letih dan lesu,” jelasnya.

UNAIR NEWS – Menstruasi merupakan peristiwa yang terjadi pada reproduksi perempuan, di mana darah keluar dari vagina. Darah keluar bersama lapisan dinding rahim yang luruh akibat tidak dibuahi. Durasi siklus menstruasi pada setiap perempuan berbeda–beda, tapi umumnya terjadi selama 28 hari dengan lama menstruasi 4 hingga 6 hari. Jumlah darah yang keluar rata-rata sebanyak 20–60 ml.

Ketika menstruasi terjadi tentunya kemungkinan perempuan mengalami anemia sangatlah besar karena kehilangan banyak darah. Anemia merupakan kondisi di mana tubuh kekurangan sel darah merah. Karena itu, perempuan menstruasi dianjurkan untuk mencukupi kebutuhan nutrisinya dengan baik agar tidak terjadi anemia.

Dr. Lestari Sudaryanti, dr., M.Kes. yang merupakan dosen D3 Keperawatan Fakultas Vokasi (FV) Universitas Airlangga (UNAIR) mengatakan bahwa perempuan yang sedang menstruasi dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang tinggi zat besi agar terhindar dari risiko anemia. “Karena saat menstruasi, perempuan kehilangan darah yang berpotensi menyebabkan anemia”,ujarnya. Maka mengkonsumsi makanan tinggi kandungan zat besi sangat baik untuk proses pergantian darah yang hilang saat menstruasi,” paparnya.

Zat besi adalah komponen protein yang ditemukan di dalam sel–sel darah merah yang disebut haemoglobin. Haemoglobin memiliki fungsi untuk mengikat oksigen dan mendistribusikannya ke seluruh tubuh.

Jadi, apabila perempuan mengalami anemia saat menstruasi akan mempengaruhi aktivitasnya sehari–hari. Kebutuhan zat besi setiap manusia berbeda bergantung usia dan jenis kelaminnya. Kebutuhan zat besi yang dibutuhkan seorang perempuan pada usia 14 hingga 18 tahun adalah sebanyak 15 mg/hari sedangkan pada usia 19 hingga 50 tahun adalah sebanyak 18 mg/hari.

Perempuan yang mengalami anemia saat menstruasi dapat dilihat dari beberapa gejala antara lain kadar zat besi dibawah normal, pucat, pusing, lebih mudah merasa ngantuk, terlihat letih dan lesu.

“Gejala kekurangan zat besi dilihat dari kondisi anemia atau tidak. Sedangkan gejala anemia yaitu pucat, pusing, mudah mengantuk, letih dan lesu,” jelasnya.

Selain, dianjurkan untuk mengonsumsi makanan tinggi zat besi seperti sayuran berdaun hijau contohnya kangkung serta daging yang berwarna merah. Perempuan yang menstruasi juga dianjurkan untuk mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang.

“Makanan yang mengandung zat besi, yaitu makanan yang berdaun hijau seperti kangkung atau daging yang berwarna merah dan beberapa jenis lainnya yang sangat baik. Komponen gizi lengkap seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan serat juga harus terpenuhi untuk mencegah risiko anemia pada perempuan yang menstruasi,” pungkasnya. (*)

Penulis: Icha Nur Imami Puspita

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu