Pakar UNAIR: Informasi Jika Terjadi Serangan Jantung Disuruh Batuk Itu Hoax

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
AGUS Subagjo dr, Sp.JP(K)FIHA Pakar Ilmu Jantung dan Kardiologi sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran UNAIR. (Foto: Erika Eight Novanty)
AGUS Subagjo dr, Sp.JP(K)FIHA Pakar Ilmu Jantung dan Kardiologi sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran UNAIR. (Foto: Erika Eight Novanty)

“Kalau kita lihat di media sosial banyak beredar bahwa ketika terjadi serangan jantung penderita harus batuk sekuat tenaga. Kalau jantungnya berhenti mendadak, ya bagaimana bisa batuk,”

UNAIR NEWS – Belakangan ini media ramai memuat informasi mengenai serangan jantung. Sejumlah pesan singkat mengenai pertolongan pertama serangan jantung pun mulai simpang-siur menghiasi room chat sosial media seperti Facebook dan Whatsapp.

Informasi itu seperti anjuran untuk batuk dengan kencang dan berulang; batuk harus terus dilakukan sampai bantuan datang atau sampai detak jantung terasa kembali normal; menarik nafas dalam setiap kali sebelum batuk. Bukan hanya itu, dalam pesan singkat tersebut, juga dijelaskan bahwa menarik nafas panjang dan dalam akan menarik banyak oksigen ke paru-paru sehingga batuk dapat menekan jantung dan membuat darah tetap tersirkulasi.

Selain itu, penderita serangan jantung juga diminta tetap menjaga kesadaran dengan cara menggaruk-garuk jari kelingking dengan ibu jari. Informasi tersebut disampaikan secara detail hingga sekilas tampak meyakinkan.

Pakar Ilmu Jantung dan Kardiologi Agus Subagjo dr, Sp.JP(K)FIHA mengungkapkan bahwa informasi itu adalah hoax, tidak benar. Meskipun tercantum sejumlah nama alumni Fakultas Kedokteran; Ikatan Dokter Indonesia (IDI); bahkan Cardiologist.

“Kalau kita lihat di media sosial banyak beredar bahwa ketika terjadi serangan jantung penderita harus batuk sekuat tenaga. Kalau jantungnya berhenti mendadak, ya bagaimana bisa batuk,” ungkap dosen Fakultas Kedokteran UNAIR itu.

Kepada tim UNAIR News, Dokter Agus membenarkan bahwa jika terjadi henti jantung mendadak, penderita harus segera mendapatkan bantuan hidup dasar atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR). “Jika ternyata terjadi henti jantung mendadak karena fibrilasi ventrikel, maka harus segera diberi kejut listrik. Jika terjadi di luar rumah sakit pertolongan pertama yang dapat diberikan adalah dengan melakukan CPR atau pertolongan bantuan hidup dasar,” terang dia.

Jika tanda-tanda serangan jantung muncul seperti  rasa nyeri dada yang tidak hilang dengan istirahat atau obat, maka harus segera ke UGD agar segera dideteksi jenisnya. Sehingga apabila benar serangan jantung, dapat segera diantisipasi apabila terjadi henti jantung mendadak.

Pada intinya, lanjut Dokter Agus, penderita serangan jantung harus segera mendapatkan pertolongan yang cepat dan tepat agar tidak terjadi komplikasi. “Jika jantung tidak dialiri darah selama lima menit, risikonya akan meninggal. Tetapi yang juga penting untuk diselamatkan adalah sel otak. Karena dia (sel otak, Red) hanya memiliki daya tahan untuk tidak ada oksigen selama tiga menit,” tandasnya.

Perlu diketahui, serangan jantung adalah kondisi di mana terjadi penyumbatan pada pembuluh darah koroner secara mendadak. Pembuluh darah koroner adalah salah satu sistem pembuluh darah vital yang memberikan makan otot jantung. (*)

Penulis: Erika Eight Novanty

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu