Olahraga Berlebih Bisa Picu Serangan Jantung, Dosen UNAIR Beberkan Penyebabnya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Bambang Purwanto, dr., M.Kes., Dosen Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR. (Foto: Erika Eight Novanty)
Dr. Bambang Purwanto, dr., M.Kes., Dosen Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR. (Foto: Erika Eight Novanty)

“Ketika kita berolahraga seharusnya kan otot kita yang kontraksi, bukan jantung. Namun, karena terlalu berat, beban ini dialihkan ke jantung,”

UNAIR NEWS – Serangan jantung yang beberapa waktu lalu merenggut nyawa entertainer tanah air Ashraf Sinclair cukup membuat publik was-was. Hal itu menimbulkan banyak pertanyaan dari masyarakat.

Dr. Bambang Purwanto, dr., M.Kes., dosen Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR memberikan penjelasannya. Dia mengatakan bahwa ketika seseorang melakukan olahraga ekstrem ketika kondisi tubuh tidak siap, maka beban yang seharusnya ditujukkan untuk otot beralih ke jantung. Hal itulah yang kemudian akan berpotensi menyebabkan gangguan pada jantung.

“Ketika kita berolahraga seharusnya kan otot kita yang kontraksi, bukan jantung. Namun, karena terlalu berat, beban ini dialihkan ke jantung,” ungkap Dr Bambang ketika ditemui UNAIR News di Departemen Faal FK UNAIR pada Selasa (25/2/2020).

Pada dasarnya, suatu aktivitas yang membebani jantung sangat mudah diketahui. Respons awal ketika jantung menerima beban berat, denyut jantung akan segera naik dengan cepat. Normalnya denyut jantung dalam satu menit adalah 60 hingga 100 detakan.

“Tidak hanya aktivitas olahraga, termasuk juga aktivitas non fisik. Seperti menonton film horor atau hendak tes. Ketika detak jantung meningkat berarti aktivitas tersebut membebani jantung,” ujarnya.

Dokter Bambang mengungkapkan, umumnya perubahan secara fisiologis tubuh akan didapatkan setelah enam minggu masa pelatihan. Sehingga mustahil apabila seseorang menginginkan hasil olahraga dalam waktu yang singkat.

“Rutin berolahraga bukan jaminan terbebas dari resiko serangan jantung. Semuanya sama saja ketika tubuh tidak siap menerima beban aktivitas yang berlebih,” timpalnya.

Dia mengatakan bahwa sebenarnya serangan jantung dapat diantisipasi dengan beberapa hal. Pertama, dengan memerhatikan denyut jantung. Jika pada saat melakukan beban fisik terlalu berat denyut jantung meningkat dengan cepat, sebaiknya segera istirahat.

Cara lainnya dapat diketahui dari hasil pemeriksaan elektrokardiogram (EKG). EKG akan memberi informasi mengenai kondisi jantung dan letak penyumbatan pada pembuluh darah di jantung.

“Sebenarnya ada langkah yang lebih awal lagi, yakni secara rutin mengukur denyut nadi di pagi hari selama satu menit. Kalau bangun tidur saja denyut nadi di atas 100, lebih baik hari itu tidak beraktivitas yang membebani tubuh apalagi jantung,” tandasnya.

Kapasitas denyut jantung sendiri dapat diukur melalui usia. Caranya adalah dengan mengurangi angka tetap, 220, dengan angka usia. Artinya jika seseorang berusia 20 tahun, maka maksimal denyut jantungnya selama satu menit adalah 200 kali.

“Sebaiknya kita berusaha menjauhi batas maksimal ini. Jika denyut jantung lebih dari itu pasti akan bahaya,” katanya.

Dosen FK UNAIR itu menuturkan bahwa nyeri dada setelah olahraga sangat perlu diwaspadai. Jika dalam keadaan itu, tubuh harus segera diistirahatkan senyaman mungkin, lalu kaki diangkat lebih tinggi dari jantung dan segera ke rumah sakit. Mengutip dari referensi olahraga kesehatan, seseorang boleh beraktivitas fisik sampai dengan denyut jantung 85 persen dari denyut jantung maksimal.

“Tapi tentunya kondisi ini berbeda untuk profesional, seperti tentara dan atlet,” pungkas dokter Bambang. (*)

Penulis: Erika Eight Novanty

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu