Tingkatkan Self Efficacy dan Kepatuhan Diet Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Melalui Ethnic Foods Diet Program

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Liputan6.com

Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit yang sangat banyak diderita di Indonesia. Penderita penyakit diabetes mellitus harus sangat memperhatikan makanan yang dikonsumsinya setiap hari untuk menjaga kadar gula darah dalam rentang normal. Makanan yang dikonsumsi sehari-hari dapat dipengaruhi oleh latar belakang budaya yang dimiliki oleh penderita diabetes. Hal ini menjadi kajian yang menarik sehingga FKp Unair melakukan penelitian yang mengangkat fenomena ini.

Ethnic Foods Diet (EFD) adalah program diet dengan menggunakan bahan makanan yang disesuaikan dengan latar belakang budaya. EFD memungkinkan penderita diabetes mellitus untuk menerapkan diet diabetes mellitus, namun menggunakan bahan makanan yang ada di sekitar mereka. Hal ini dapat memudahkan penderita diabetes mellitus tipe 2 untuk menerapkan program diet diabetes mellitus tipe 2 tanpa perlu kesulitan mencari bahan makanan yang tidak terdapat di lingkungan tempat tinggalnya.

Penelitian yang dilakukan berdesain quasi-experimental yang menggunakan pre-test dan post-test dalam pengumpulan datanya. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita Diabetes Mellitus yang berasal dari Suku Sasak. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah berusia 40-60 tahun, tinggal di rumah, tidak memiliki komplikasi, tidak sedang menjalani diet tertentu, mampu berbicara dan menulis, serta berkenan untuk berpartisipasi dalam penelitian. Selain itu, responden dibedakan ke dalam kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, masing-masing 18 orang.

Intervensi yang diberikan pada kelompok perlakuan adalah menerapkan EFD (Ethnic Foods Diet), yaitu menerapkan diet Diabetes Mellitus tipe 2 dengan menggunakan bahan makanan yang biasa dikonsumsi sesuai dengan adat Suku Sasak. Self efficacy dalam penelitian ini dikaji dengan menggunakan kuesioner self efficacy dalam skala Likert. Sementara kepatuhan diet responden diukur menggunakan 24-hour dietary recall yang diisi selama 7×24 jam oleh responden. Kemudian, data yang terkumpul dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test dan Mann Whitney U Test untuk melihat adanya perbedaan antara sebelum dan sesudah dilakukannya intervensi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan responden memiliki self efficacy yang rendah sebelum diberikan intervensi. Sementara itu, hasil post-test menunjukkan bahwa responden yang termasuk ke dalam kelompok perlakuan memiliki self efficacy yang lebih tinggi, sementara responden yang termasuk ke dalam kelompok kontrol masih memiliki self efficacy yang rendah. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa responden pada kelompok perlakuan mampu mencukupi kebutuhan diet penderita diabetes mellitus, sedangkan responden pada kelompok kontrol yang tidak diterapkan ethnic Foods diet tidak mampu mencukupi kebutuhan nutrisi penderita diabetes mellitus. Hal ini menunjukkan bahwa program EFD mampu meningkatkan kepatuhan diet pada penderita diabetes mellitus tipe 2 dengan signifikan.

EFD dapat meningkatkan self efficacy dan kepatuhan diet pada penderita diabetes mellitus tipe 2 di suku Sasak. Hal ini dapat menjadi intervensi baru dalam dunia kesehatan dalam upaya menerapkan diet diabetes mellitus. EFD dapat menjadi alternatif diet baru yang lebih dekat dengan masyarakat, yaitu dengan memanfaatkan latar belakang suku dan budaya masyarakat sehingga lebih mudah untuk diikuti dan diterapkan.

Penulis: Eka Misbahatul M

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

https://e-journal.unair.ac.id/JNERS/article/view/16642/pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu