Terapi Rat Bone Marrow Mesenchymal Stem Cell pada Sel Endotel Tikus Rat yang Diinduksi Carbon Black Terhadap Ekspresi VEGF

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Nakita.id

Partikulat Matter (PM) adalah salah satu parameter polutan di udara. Unsur partikulat dapat mempengaruhi kesehatan manusia sebagai reseptor dalam menyebabkan gangguan pada sistem respirasi. Carbon black merupakan salah satu Partikulat Matter yang mengkontaminasi lingkungan dengan warna kehitaman dan dapat melewati barrier plasenta serta bersifat sitotoksik, teratogenik dan sebagai pemicu inflamasi.

Efek yang ditimbulkan oleh polutan tergantung dari besarnya induksi dan lama waktu induksi yang dapat memengaruhi kesehatan maternal perinatal. Pada plasenta terdapat sel makrofag yang secara khusus berperan dalam barrier plasenta dan bersama-sama dengan sel trophoblas berperan dalam pembentukan pembuluh darah dengan mengekskresikan angiogenic growth factor (VEGF). VEGF berperan dalam pembentukan jaringan vaskular dalam perkembangan corpus luteum, regenerasi endometrium dan meningkat pada masa penyembuhan luka terutama dalam fase granulasi. Pada kasus teratogenik, pemberian RBM-MSC dapat menekan terjadinya imflamasi, apoptosis dan cacat kongenital.

Sebanyak 48 ekor tikus betina bunting dibagi menjadi enam kelompok perlakuan. Identifikasi ekspresi VEGF metode immunohistokimia dengan penentuan ekspresi VEGF yang dapat diketahui dari jumlah perubahan warna kecoklatan dibandingkan dengan kontrol (Buchwalow and Bocker, 2010). Data yang didapat dianalisis secara non parametrik dan analitik parametrik. Analisis non parametrik menggunakan Uji Kruskal Wallis dan dilanjutkan dengan Uji Mann Whitney.

Hasil penelitian ekspresi VEGF, dengan induksi carbon black dosis 532 mg/m3 pada umur kebuntingan minggu ke-2 dibandingkan dengan kontrol menunjukkan adanya perbedaan nyata dalam ekspresi VEGF. Demikian pula dengan pemberian induksi carbon black dosis 532 mg/m3 pada umur kebuntingan minggu ke-3 juga menunjukan hasil yang signifikan dibandingkan dengan kontrol. Usia kebuntingan pada minggu ke-2 (hari ke 6-11) secara fisiologis normal plasenta pada tikus telah terbentuk cukup sempurna dan telah terbentuk barier plasenta. Barier plasenta ini juga telah bekerja optimal dalam menahan laju invasi agen asing (dalam hal ini adalah carbon black) yang masuk plasenta melalui darah. Selain itu umur kebuntingan ini pada plasenta tikus memiliki sistem regenerasi pembuluh dara dan vaskularisasi yang baik. Sistem regenerasi vaskularisasi dari plasenta tikus cukup tinggi difungsikan juga untuk menahan invasi inflamasi, dikarenakan tipe plasenta tikus yang memiliki percabangan yang sangat komplek di daerah labirin plasenta.

Pada hasil penelitian pada perlakuan induksi carbon black dosis 532 mg/m3 yang diterapi RBM-MSC pada umur kebuntingan minggu ke-2 tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata dalam ekspresi VEGF dibandingkan dengan perlakuan yang hanya di induksi dengan carbon black dosis 532 mg/m3. Demikian pula dengan pemberian induksi carbon black dosis 532 mg/m3 yang di terapi dengan RBM-MSC pada umur kebuntingan minggu ke-3 juga menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan yang hanya di induksi dengan carbon black dosis 532 mg/m3. Hal tersebut mengindikasikan bahwa dalam pemberian terapi RBM-MSC yang dilakukan sekali dengan dosis 1×106 sel/ 0,1 ml pada hari ke-11 dan ke-17 yang kemudian sehari berikutnya dilakukan euthanasia dan pembedahan kurang memberikan efek yang signifikan dalam menghambat pembentukan VEGF. Sifat immunosupresan RBM-MSC terhadap sel Hofbauer yang menghambat pembentukan FGF dan VEGF yang diketahui sebagai pendorong terjadinya angiogenesis.

Hasil pemeriksaan histopatologi menunjukkan angiogenesis sudah berkurang di hari ke 14. Angiogenesis diduga terjadi lebih cepat sehingga respon vaskuler dan seluler berlangsung lebih cepat. RBM-MSC mengungkapkan sejumlah faktor proangiogenik dan protein yang memodulasi migrasi sel endotel yang memungkinkan terjadinya tissue repair atau perbaikan jaringan pada jaringan yang mengalami kerusakan. RBM-MSC menyebabkan proliferasi sel endogen, menstimulasi angiogenesis, menghambat respon inflamasi dan respon imun juga mengurangi apoptosis lebih lanjut. RBM-MSC  juga mampu menstimulasi VEGF, HGF, G-SCF, yang berperan dalam proses penyembuhan cedera.

Berdasarkan hasil penelitian ini, dampak terapi RBM-MSC dalam menekan respon inflamasi, nekrosis dan apoptosis efek induksi carbon black pada plasenta dengan dosis 1×106 sel/ 0,1 ml belum terlihat sehingga perlu dilakukan pemberian terapi RBM-MSC sebelum pemaparan (sebagai terapi preventif) dan membutuhkan waktu + 14 hari setelah pemberian terapi untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Penulis : Bodhi Agustono

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di

https://ivj.org.in/users/members/viewarticles.aspx?Y=2019&I=798#

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu