Berikan Kontribusi Pada Pendidikan, Mahasiswa FISIP Dirikan Komunitas Mengajar di Lamongan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
LANA (kerudung hitam baju merah) bersama komunitas mengajar Lamongan ketika mengadakan seminar di Lamongan. (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Mahasiswa sebagai calon penerus bangsa memiliki peran penting untuk turut berkontribusi secara langsung dalam mengatasi berbagai masalah di Indonesia. Kontribusi tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara mulai dari pengabdian hingga membuat komunitas. Hal itulah yang dilakukan oleh Lana Faiqoh Zahiroh, mahasiswa jurusan Sosiologi itu dengan mendirikan sebuah komunitas mengajar bersama dengan mahasiswa asal universitas lain yang diberi nama Komunitas Mengajar Lamongan (KML).

Ketika ditanya apa alasan utama serta motivasinya dalam mendirikan komunitas itu, Lana sapaan karibnya mengungkapkan jika banyak potensi anak muda yang bisa dimanfaatkan untuk membantu masalah pendidikan di Lamongan. Selain itu, kebanyakan anak muda tersebut juga mengambil jurusan yang berkecimpung di dunia pendidikan.

“Alasannya karena melihat potensi anak-anak muda yang banyak memilih jurusan di bidang pendidikan dan selaras dengan banyaknya permasalahan yang ada di pelosok desa,” ungkapnya pada Selasa (18/02/20).

Walau masih berjalan satu setengah tahun, tetapi sudah banyak yang dilakukan komunitas mengajar itu. Mulai dari mengajar di beberapa sekolah pelosok, mengadakan seminar pendidikan, mengadakan try out SBMPTN, workshop, seminar kewirausahaan hingga membuat pelatihan public speaking. Untuk anggota internal komunitas juga terdapat beberapa kegiatan seperti upgrading, malam keakraban (makrab), KML berbagi dan lain-lain.

KEGIATAN komunitas mengajar Lamongan di salah satu sekolah dasar. (Foto: istimewa)

Setiap kali kegiatan, komunitas mengajar tersebut akan membuka open donation yang nantinya hasil donasi akan digunakan untuk membeli alat tulis-menulis. Selain dalam bentuk alat tulis-menulis, terkadang Komunitas Mengajar Lamongan juga memberikan bantuan dalam bentuk uang yang bisa dimanfaatkan untuk membeli fasilitas pendidikan lainnya.

Ada beberapa kendala yang dihadapi ketika mengelola komunitas tersebut. Pertama masalah komunikasi, Lana menuturkan karena anggota komunitas kebanyakan adalah mahasiswa dan pekerja yang tersebar di berbagai kota yang membuat komunikasi berjalan lebih sulit. Kedua, terkait tempat untuk berkumpul yang belum tersedia bagi komunitas mengajar itu.

Di akhir wawancara, Lana berharap agar Komunitas Mengajar Lamongan dapat menjadi salah satu wadah yang membantu mencerdaskan anak bangsa sehingga bisa mengangkat nama Lamongan menjadi lebih baik. Ia juga berharap dengan adanya komunitas itu dapat mengubah mindset orang tua yang menganggap bahwa pendidikan cukup sampai dijenjang SMA (sekolah menengah atas). (*)

Penulis: Dita Aulia Rahma

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu