Berawal dari Kurangnya Air Bersih, 3 Mahasiswa UNAIR Raih Juara 1 LKTIN IESCO 2.0

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Nilna Maulida, Husnul Hotimah, dan Widya Puspitasari saat meraih juara 1 LKTIN di Universitas Darussalam Gontor. (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Akhir tahun lalu, warga Kabupaten Sampang, Madura mengalami krisis air bersih. Akibatnya, masyarakat setempat terpaksa menggunakan air kotor yang didapat dari Waduk Klampis. Mereka menggunakan air kotor itu untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci, masak, hingga minum.

Bertolak dari permasalahan di atas, tiga mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR), yakni Nilna Maulida mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris, Husnul Hotimah mahasiswa Ekonomi Islam, dan Widya Puspitasari mahasiswa Biologi berinisiatif untuk mengantisipasi terjadinya krisis air bersih melalui penelitian dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) di Universitas Darussalam Gontor. Melalui judul ‘AENGUMAT: Optimalisasi Wakaf melalui Halal Water Treatment dengan Memanfaatkan Biji Moringa Oliefera di Sampang Madura’, berhasil meraih juara 1 dan mengalahkan 10 tim dari berbagai universitas di Indonesia.

Dalam lomba bertajuk IESCO 2.0 itu, Nilna, salah satu anggota tim memaparkan bahwa tim mereka fokus untuk membuat halal water treatment yang sesuai dengan standar fatwa MUI dari Waduk Kalmpis. Halal water tersebut merupakan salah satu cara untuk menyiasati musim kemarau mendatang, sehingga warga tidak perlu menggunakan air kotor lagi. Selain itu, dia juga menambahkan bahwa sumber uang pembangunan halal water treatment itu berasal dari wakaf produktif masyarakat.

“Jadi sebenarnya titik utamanya adalah wakaf, karena kita ingin mengoptimalkan wakaf melalui halal treatment tadi,” jelasnya.

Lebih lanjut, dalam lomba yang dilaksanakan pada Jumat hingga Rabu (7-11/01/2020) itu, Nilna mengaku sempat mengalami kesulitan dalam berdiskusi untuk mempersiapkan lomba. Pasalnya, salah satu anggota mereka, yakni Husnul sedang melakukan program exchange di Malaysia.

“Kita bertiga yang berasal dari fakultas berbeda sulit bertemu karena kesibukan masing-masing. Tapi Alhamdulillah kita masih bisa mendapatkan hasil maksimal meskipun hanya berdiskusi lewat chat,” ungkapnya.

Terakhir, Nilna menceritakan bahwa pengalaman LKTIN kali ini berbeda dengan sebelumnya, pasalnya, IESCO itu dilaksanakan di Pondok Pesantren. Sehingga dia dan dua temannya bisa merasakan suasana tinggal di pesantren. “Jadi lombanya itu khusus akhwat, kita disana tidak boleh ketemu laki-laki kecuali ustadz. Suasana itu kebawa sampai selesai lomba, saya jadi malu sendiri kalo ketemu sama laki-laki,” pungkasnya.

Penulis : Nikmatus Sholikhah

Editor  : Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu