Kejadian Investasi Cacing Monogenea pada Ikan Kerapu Cantang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh detail PHIL

Ikan Kerapu. merupakan salah satu jenis ikan laut, yang biasanya hidup di karang-karang. Ikan kerapu juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Tidak dapat dipungkiri bahwa ikan kerapu merupakan salah satu jenis ikan yang digemari untuk  dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Ekspor ikan kerapu Indonesia selama tahun 2016 terbilang cukup besar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama  tahun 2016 Indonesia mengekspor kerapu ke berbagai negara dengan nilai mencapai 32,18 juta dolar AS atau sekitar Rp 427 miliar (kurs Rp 13.300).

Provinsi Sumatera Utara merupakan provinsi terbesar yang melakukan ekspor ikan kerapu hidup. Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat 38,09 persen ekspor ikan kerapu hidup asal Indonesia tahun 2016 berasal dari Sumatra Utara. Total ekspor kerapu hidup asal Sumatra Utara mencapai 1,53 juta ekor. Ikan kerapu Indonesia banyak diekspor ke negara-negara China, Singapore, Malaysia, Vietnam dan Thailand.

Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus lanceolatus) adalah jenis ikan laut  yang dihasilkan dari rekayasa hibridisasi kerapu antara kerapu macan betina (Epinephelus fuscoguttatus) dan kerapu kertang jantan (Epinephelus lanceolatus). 

Teluk Lamong Surabaya merupakan salah tempat budidaya ikan kerapu cantang dengan sistem keramba jarring apung. Kendala-kendala yang sering dihadapi dalam sistem budidaya tersebut adalah masuknya patogen  yang melalui jaring apung. Salah satu diantara pathogen yang sering menginfeksi ikan kerapu cantang adalah cacing ektoparasit dari jenis Monogenea.

Cacing Monogenea termasuk kelas Trematoda yang sering menginfestasi permukaan tubuh seperti sirip, ekor, permukaan tubuh bagian kepala, mata, dan insang. Kejadian infestasi cacing Monogenea pada ikan kerapu cantang di keramba jaring apung Teluk Lamong Surabaya menunjukkan total prevalensi sebesar 38% yang terdiri atas infestasi tunggal cacing Pseudorhabdosynochus epinepeli, Benedenia epinepheli dan Neobenedenia girelae masing-masing berturut-turut sebesar 26%, 4% dan 3%, sedangkan infestasi campuran yang terdiri atas Benedenia epinepeli dan Pseudorhabdosynochus epinepeli sebesar 5%.

Dengan adanya infestasi cacing Monogenea pada ikan kerapu cantang tersebut juga ditunjukkan dengan hasil monitoring hasil kualitas air laut di sekitar Teluk Lamong  di bawah standar kualitas air laut untuk biota air. Hal ini menunjukkan adanya polusi dan limbah yang berasal dari pelabuhan di sekitar teluk Lamong , sehingga dengan kondisi kualitas air laut yang rendah dapat menyebabkan ikan stress dan mudah terserang patogen.

Penulis: Prof. Dr Sri Subekti, drh., DEA
IOP Publisihing: i IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 416 920200 012002 doi: 10.1088/1755-1315/416/1/012002 par B / https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/416/1/012002

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu