17 Mahasiswa FST UNAIR Tanam Mangrove di Pulau Ketam

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Penanaman pohon bakau di pesissir Pulau Ketam oleh salah satu delegasi UNAIR pada Senin (3/02/20). (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Keberadaan hutan bakau di daerah pesisir penting sebagai benteng pertahanan terhadap ombak laut. Tidak hanya itu, hutan bakau juga bermanfaat sebagai penyedia habitat bagi ribuan spesies, sekaligus menstabilkan garis pantai, serta mencegah erosi. Hanya saja, beberapa kelompok masyarakat mengalihfungsikan sebagai pemukiman, salah satunya di pulau Ketam.

Dari permasalahan tersebut, 17 mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR yang tergabung dalam International community service (ICS) atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan di Management & Science University (MSU) Malaysia mengadakan My Blue Forest Initiative 2.0. Kegiatan diikuti juga oleh mahasiswa MSU bekerja sama dengan Organisasi Pencinta Alam di Pulau Ketam, pada (3/02/20).

Army Justitia, S.Kom., M. Kom., selaku pembimbing menuturkan bahwa pemilihan pulau Ketam sebagai tempat community service karena tempatnya yang tidak terlalu jauh dan mudah dijangkau transportasi. Selain itu, keberadaan hutan mangrove tidak terlalu diperhatikan oleh masyarakat sekitar.

“Mereka (masyarakat, red) terus membuka lahan untuk dijadikan tempat tinggal. Jika hal ini terus dilakukan, maka akan mengancam keberadaan dan kelestarian di Pulau Ketam,” imbuhnya.

Kegiatan tersebut terdiri dari dua agenda, yakni penanaman pohon bakau dan pengembangbiakan benih bakau, yang melibatkan 2 kelompok delegasi UNAIR dan MSU.

Army, mengungkapkan bahwa, sekitar 50 pohon bakau berhasil ditanam dalam penanaman pohon bakau. Sedangkan benih bakau yang berhasil disemai sekitar 100 benih bakau.

Pohon bakau yang ditanam berjenis bakau Kurap (rhizopora mucronata) dan Bakau Minyak (rhizopora apiculata). Hal itu karena di Pulau Ketam hanya jenis bakau tersebut yang dapat tumbuh.

Dengan adanya kegiatan itu, lanjutnya, diharapkan kelestarian lingkungan hidup tetap terjaga, terutama hutan bakau di sekitar Pulau Ketam. Serta, dapat mengajarkan kepada generasi selanjutnya mengenai pentingnya kelestarian lingkungan untuk tercipta kehidupan yang berkelanjutan.

“Serta dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar akan pentingnya menjaga kelestarian hutan bakau dengan mengikut sertakan masyarakat sekitar,” pungkasnya. (*)

Penulis : Asthesia Dhea Cantika

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu