The Bladder Pill, Aplikasi teknologi nirkabel pada Pengukuran Tekanan Urodinamika

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Medkes

Jutaan orang di dunia menderita gangguan saluran kemih, atau paling sering disebut sebagai beser. Keluhan beser, secara medis dikenal sebagai overactive bladder (OAB). Gangguan ini ditandai dengan gejala utama urgensi, yaitu keinginan kencing yang tidak bisa ditunda. Gejala lain yang seringkali menyertai berulang kali buang air kecil (frekuensi), serta buang air kecil berulang di malam hari (nokturia). OAB dapat dialami pada segala usia, mulai kanak-kanak hingga dewasa dan lanjut usia. Secara umum, keluhan OAB makin kerap didapatkan seiring pertambahan umur. Keluhan OAB dapat dipicu oleh infeksi atau didasari gangguan persarafan, namun demikian pada sebagian besar kasus OAB tidak ditemukan penyebab tertentu.

Untuk mengukur tingkat gangguan dari keluhan OAB, dan sejauh mana Urodinamika adalah pemeriksaan terbaik untuk mengevaluasi gangguan saluran kemih bagian bawah. Pemeriksaan ini terutama berdasarkan pengukuran tekanan dalam saluran kemih yang menggunakan kateter, atau suatu selang yang dimasukkan dalam saluran kemih. Selang kateter ini menimbulkan rasa tidak nyaman, rasa ada benda asing yang terus menerus melalui daerah sensitif kompleks otot penutup saluran kemih. Hasil dari pemeriksaan ini juga tidak selalu dapat ditindaklanjuti, di mana hingga 40% temuan pemeriksaan tidak sesuai dengan keluhan ataupun keluhan yang dialami tidak terjadi pada saat dilakukan pemeriksaan. Oleh karena itu dalam standar pelaksanaan pemeriksaan urodinamika, pemantauan berkelanjutan disarankan untuk mengontrol kualitas, menegakkan diagnosis yang tepat, serta mengenali dan mengatasi masalah saat pengukuran dengan segera. Pada penderita di mana keluhan tidak dapat dijawab dengan pemeriksaan urodinamika ini, maka bisa dilakukan pemeriksaan urodinamika yang lebih panjang, atau umum disebut ambulatory urodynamics. Pemeriksaan ini kembali menggunakan kateter yang telah disebutkan sebelumnya, namun dengan dihubungkan alat perekam kecil portable yang mudah dibawa.

Dari hasil riset kolaborasi multidisiplin antara teknik elektronika dengan biomedika kedokteran, khususnya bidang urologi, membawa hasil suatu alat Bladder Pill yang terus menerus dikembangkan. Tujuan pengembangan adalah menerapkan teknologi untuk menghasilkan instrumen pengganti kateter dalam mengukur tekanan kandung kencing. Asal mula alat ini dari miniaturisasi sensor tekanan, yang dikenal sebagai bentuk micro-electro-mechanical system. Teknologi kedua adalah proses kemasan biokompatibel yang dalam hal ini menggunakan jenis silikon khusus, yaitu jenis polydimethylsiloxane (PDMS).

Berbagai versi terdahulu dari alat Bladder Pill masih menggunakan teknologi konvensional, keping memori untuk penyimpanan data dan baterai tanam. Kedua hal ini dapat diatasi dengan teknologi nirkabel, yaitu induksi elektromagnet. Baterai tanam digantikan dengan kumparan elektromagnet kecil, sehingga diameter tidak lebih besar dari diameter kateter 16 Fr yang umum digunakan. Selain untuk komunikasi data, elektromagnet ini juga berfungsi induksi tenaga listrik (wireless inductive power). Keseluruhan fungsi ini dimungkinkan dengan kumparan melingkar yang besar. Kumparan ini berlapis bahan lycra/neoprene sebagaimana pakaian olahraga agar nyaman untuk pemakaian berkepanjangan.

Pengujian dilakukan dengan pengukuran serentak dengan kateter, diawali dari kolom air dan dan dilanjutkan pengujian pada hewan. Pengujian hewan, baik pada saat fungsi menyimpan air seni maupun saat berkemih, mencerminkan semua bentuk perubahan tekanan yang penting untuk karakterisasi fungsi kandung kemih. Dari hasil pengujian ini, alat Bladder Pill menunjukkan kesetaraan dengan dua jenis kateter urodinamika yang dipakai secara luas, yaitu kateter dengan medium transmisi air maupun udara. Dalam pemeriksaan berulang sampai dengan lima kali episode berkemih berturut-turut, alat ini menunjukkan pengukuran baseline yang stabil dibandingkan dengan kateter. Hasil ini menunjukkan bahwa pengembangan Bladder Pill telah mencapai tahap yang siap untuk diuji coba pada manusia.

Singkatnya, gangguan berkemih adalah keadaan yang mengganggu kualitas hidup puluhan juta manusia di seluruh dunia. Untuk dapat memeriksa saluran kemih secara obyektif, maka pengukuran tekanan adalah tolok ukur standar yang digunakan. Pada penelitian ini, telah berhasil ditunjukkan bahwa teknologi nirkabel dapat diterapkan untuk pengukuran tekanan kandung kemih dengan keunggulan pada durasi dan stabilitas pemeriksaan. Dengan demikian, Bladder Pill siap untuk dikembangkan lebih lanjut menuju suatu pemeriksaan fungsi dari saluran kemih secara jangka panjang tanpa ketidaknyamanan.

Penulis: Mohammad Ayodhia Soebadi, dr., Sp.U
Detail tulisan ini dapat dilihat di:

https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0225821

Soebadi MA, Bakula M, Hakim L, Puers R, De Ridder D. Wireless intravesical device for real-time bladder pressure measurement: Study of consecutive voiding in awake minipigs. PLoS One. 2019;14(12):e0225821. Published 2019 Dec 2. doi:10.1371/journal.pone.0225821

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu