Cerita Mahasiswa FKM Lakukan Pengabdian Dari Raja Ampat Hingga Malaysia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
MUFIDAH Anisah ketika melakukan pengabdian di Raja Ampat pada tahun 2019. (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Mufidah Anisah merupakan salah satu mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2017. Mahasiswa yang akrab disapa mufidah tersebut memulai perjalanan pengabdian pada tahun 2019 tepatnya di Tambora. Tak disangka setelah melakukan pengabdian tersebut, ia terus menambah pengalaman hingga menembus luar negeri.

Berawal dari cita-citanya membangun rumah sakit di pelosok negeri, mufidah merasa perlu untuk mengetahui keadaan Indonesia yang sebenarnya. Dengan cara pengabdian itulah ia bisa mengetahui bahwa ada beberapa bagian Indonesia yang masih membutuhkan tangan-tangan pemuda untuk merubah daerah tersebut menjadi lebih baik.

Pengabdian yang dilakukannya di Raja Ampat lebih berfokus pada masalah kesehatan lingkungan dan masalah ekonomi. Sedangkan pengabdian di Malaysia lebih melihat bagaimana kondisi orang Indonesia yang tinggal di Malaysia. Selain kedua tempat tersebut, Mufidah juga pernah melakukan pengabdian di Nusa Tenggara Barat dan Jember.

Melalui berbagai pengabdian yang ia lakukan setahun terakhir, ia mengambil banyak sekali manfaat dan pelajaran yang dapat dipetik. Menurutnya, dengan melakukan pengabdian mahasiswa bisa menyalurkan ilmu yang didapat dalam perkuliahan kepada masyarakat secara langsung. Tidak hanya itu, masyarakat sasaran pengabdian juga merasakan manfaat yang luar biasa dengan adanya kegiatan tersebut.

“Manfaatnya pengabdian itu banyak banget, kita bisa tau apa yang dibutuhkan orang-orang dari ilmu yang kita punya. Masyarakat sendiri merasa senang dan punya semangat baru karena dengan pengabdian mereka merasa dipahami juga dicintai oleh sesama warga Indonesia lewat orang-orang yang datang ke mereka,” ucapnya pada Senin (10/02/20).

Mufidah juga menceritakan hambatan yang harus ia lalui setiap kali melakukan pengabdian. Hambatan yang paling terasa menurutnya adalah dari segi perjalanan yang memakan waktu berhari-hari dan dari segi bahasa yang setiap daerah memiliki logat tersendiri untuk berkomunikasi.

Dia berpesan bahwa sebagai mahasiswa, pengabdian itu penting dilakukan. Pengabdian memberikan makna lebih dimana mahasiswa dapat belajar diberi dan memberi, belajar untuk didengar dan mendengar juga belajar untuk mencintai diri sendiri dan mencintai Indonesia.

“Pengabdian bukan sekadar kita merasa bahwa kita berada di posisi yang lebih tinggi kemudian datang ke pelosok untuk memberi sesuatu. Namun pengabdian lebih dari itu, dimana kita belajar diberi dan memberi, belajar untuk mendengar dan didengar, belajar untuk mencintai diri sendiri dan mencintai NKRI,” tandasnya. (*)

Penulis: Dita Aulia Rahma

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu