PKL Mahasiswa FPK Belajar Olah Polimer Ikan di Negeri Gajah Putih

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PKL Mahasiswa FPK Belajar Olah Polimer Ikan di Negeri Gajah Putih. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Lagi, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Lapangan ke luar negeri. Kali ini sebanyak tujuh mahasiswa FPK UNAIR dari program studi S1 Akuakultur dan Teknologi Hasil Perikanan (THP) serta mahasiswa PSDKU UNAIR Akuakultur berkesempatan belajar di Thailand.

Mahasiswa FPK melaksanakan PKL di Faculty of Fisheries Kasetsart University dengan topik yang berbeda. Prodi Akuakultur topiknya adalah pengaruh pemberian probiotik untuk pakan udang. Sementara prodi THP yakni pengolahan kitin kitosan, minyak ikan, gelatin dan isolasi bakteri asam laktat pada Pla som (makanan lokal Thailand, Red).

FPK UNAIR sudah menjalin hubungan antar universitas di luar negeri yang terhubung dalam ASEAN FEN (Fisheries Education Network), salah satu universitasnya adalah Faculty of Fisheries KU.

Mahasiswa FPK tersebut adalah Arief Rubiana Basarah, Andreiw Yogi Prasetya, Chelsea Permata Jelita, Bernardus Matthew, Indah Aprilia, Lorichika Gustinda Larasati, Elva Nurfaidah, dan Rahma Putri Nurmalia Febrianti. Topik tiap mahasiswa berbeda, beberapa masih perlu mencari bahan-bahan penelitian untuk sampel.

“Sampelku dari udang dan cumi-cumi kering, stok sisa punya dosen. Chelsea kemarin beli Pla som dulu, lalu Matthew mencari ikan tuna di pasar dulu. Lainnya masih tersedia,” ujar Arief.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Arief Rubiana Basarah, selain mendapatkan ilmu serta pengalaman, PKL di luar negeri merupakan momentum untuk merasakan liburan dan belajar budaya di negara tersebut.

“Perbedaan budaya mahasiswa di lab. sana juga berbeda. Di sana gak pakai jas lab, tapi aman-aman saja. Waktu aku menuangkan larutan NaOH, kan panas tuh, meskipun sudah pakai hand glove, gak sengaja tetesannya kena tangan, langsung besoknya aku pakai jas lab,” paparnya.

Lalu  perbedaan fasilitas laboratorium di Kasetsart dengan UNAIR, seperti autoclave yang manual,  membuat Arief terpicu untuk belajar bagaimana menggunakan autoclave manual untuk banyaknya sampel yang dia teliti.

“Waktu sterilisasi alat lab itu juga beda sekali, misal gunting, ose, ditaruh satu nampan besi lalu disemprotkan alkohol dan dibakar hingga apinya mati. Awal sebelum dipakai itu harus sterilkan dulu,” ungkapnya.

Aktivitas mahasiswa di Negeri Gajah Putih tersebut dimulai pada jam 8 pagi hingga jam 4 sore waktu setempat. Tak jarang mahasiswa tersebut mengerjakan penelitian mereka hingga larut malam dikarenakan sampel yang tak sedikit untuk diteliti.

Kepada mahasiswa jika ingin penelitian di luar negeri, Arief menyarankan untuk mengambil metode yang tidak terlalu susah dan tidak terlalu lama. Tak lupa menabung, manajemen waktu, tanggung jawab,  dan yang terpenting adalah menjaga komunikasi antar mahasiswa dan dosen luar negeri. (*)

Penulis : R. Dimar Herfano Akbar

Editor : Binti Q Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu