Peringati Hari Kusta Internasional, Departemen/SMF Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNAIR/RSUD Dr. Soetomo Adakan Penyuluhan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ketua acara, dr. Medhi Denisa Alinda, Sp.KK (kiri) bersama seorang mahasiswa Program Pendidikan Spesialis (PPDS) saat memberikan tips latihan untuk penderita kusta. (Foto: Nabila Amelia)

UNAIR NEWS – Dalam rangka memperingati Hari Kusta Internasional yang jatuh pada Minggu (26/1) lalu, Departemen/SMF Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga/RSUD Dr. Soetomo, menyelenggarakan penyuluhan kesehatan. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan pemahaman terkait kusta di kalangan pasien.

Bertempat di Departemen/SMF Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo, acara ini dilaksanakan pada hari Selasa (4/2). Menurut ketua acara, dr. Medhi Denisa Alinda, Sp.KK, dalam kesempatan itu, pihaknya mengusung tajuk Stop Stigma, Stop Prasangka, Stop Diskriminasi. Sebab, di lingkungan masyarakat, penderita kusta masih dipandang negatif.

Penyuluhan tersebut dihadiri Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (PERDOSKI) Surabaya, dr. Ary Widhyasti Bandem, Sp.KK; Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian RSUD Dr. Soetomo, Prof. Dr. dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Sp.KK(K); Kepala Departemen Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo, Dr. dr. M. Yulianto Listiawan, Sp.KK(K) beserta staf, dan seorang perwakilan Departemen Kulit Universitas Muhammadiyah Solo.

“Sebelum pelaksanaan penyuluhan, kami juga sempat mengadakan talkshow di salah satu radio Surabaya dengan staf kami sebagai narasumber. Kemudian, kami membagikan bunga dan pamflet yang berisi informasi seputar kusta di bagian poli pada 26 Januari lalu. Tujuannya untuk memberikan pengetahuan terkait kusta pada masyarakat luas,” ujarnya.

Pada penyuluhan kusta yang ketiga ini, pihaknya melibatkan lima mahasiswa dari Program Pendidikan Spesialis (PPDS). Sementara total pasien yang berpartisipasi sebanyak dua puluh orang. Dia menuturkan bahwa penyuluhan itu menjadi ajang pertemuan sekaligus wadah bagi para pasien untuk mengutaran keluh kesahnya selama menjalani pengobatan. “Seringkali kita melihat kasus penderita kusta yang dikucilkan di masyarakat karena dianggap berbahaya. Apalagi jika melihat penderita dengan kondisi tubuh yang sudah mengalami kecacatan. Oleh karena itu, kami sebagai tenaga kesehatan berupaya untuk menyadarkan bahwa kusta tidak menular secara cepat dan bisa disembuhkan,” sebutnya.

Departemen/SMF Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga/RSUD Dr. Soetomo adakan penyuluhan penyakit kusta. (Foto: Nabila Amelia)

Dalam penyuluhan itu, dr. Medhi yang bertindak sebagai pemateri menjelaskan apabila kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae dan menyerang saraf tepi, kulit, serta jaringan tubuh lainnya kecuali saraf pusat. Kusta bisa menyebar melalui sistem pernapasan atau kulit yang tidak utuh. Namun, perlu kontak dalam waktu yang lama dan erat. Sumber penularannya dari penderita yang tidak diobati.

Meskipun begitu, dr. Meidhi menegaskan jika kusta bisa disembuhkan melalui berbagai upaya. Ia berpesan agar para penderita segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami beberapa gejala seperti mati rasa, bercak kemerahan, bercak putih, luka yang tidak sembuh, atau bahkan cacat di tubuh. Penderita yang sudah mendapatkan obat dan menggunakannya minimal dua minggu tidak bisa lagi menularkan kuman penyebab kusta.

“Usai memaparkan materi, kami mengadakan games dan membagikan sejumlah tips latihan yang dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien kusta sebagai bagian dari upaya pengobatan. Di antaranya adalah latihan peregangan pada area mata, wajah, dan persendian serta mengoleskan minyak guna membersihkan kulit mati,” imbuh dr. Meidhi.

Ditemui pada sebuah kesempatan, Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian RSUD Dr. Soetomo yang juga aktif meneliti penyakit kusta, Prof. Cita Rosita menegaskan, apabila ke depan koordinasi antara akademisi, peneliti, klinisis, dan instansi kesehatan harus ditingkatkan. Hal itu meliputi distribusi hasil penelitian, termasuk promotif dan preventif.

“Dari sisi masyarakat pun harus bisa menjaga kesehatan diri, keluarga maupun lingkungan agar tidak tidak mengalami kondisi disregulasi imunitas yang berkepanjangan dan jatuh sakit. Dengan kata lain, kuman boleh ada tetapi badan kita tetap sehat. Segera ke dokter bila ada tanda awal bercak dan mati rasa. Yang terpenting, hilangkan sikap negatif terhadap pasien, karena eliminasi kusta tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nabila Amelia

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu