Minyak Jinten Hitam (Nigella Sativa) Sebagai Imunomodulator

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Hello Sehat

Stres adalah gangguan yang dialami oleh tubuh yang disebabkan oleh stimulus yang berasal dari luar maupun dalam tubuh. Hewan coba yang mudah mengalami stress adalah tikus yang ditunjukkan dengan  saling menggigit temannya, ataupun kerontokan bulu akibat dari menurunnya kondisi tubuh. Penurunan kondisi tubuh akibat stres akan memudahkan terjadinya penularan penyakit infeksi seperti oleh penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman, virus, parasit. Pada keadaan stres akibat penularan penyakit infeksi akan segera diikuti dengan terjadinya reaksi radang yang diikuti dengan perubahan respon imun didalam tubuh baik respon imun yang bersifat nonspesifik maupun yang spesifik.

Perubahan respon imun nonspesifik dicerminkan dari peningkatan peran dan fungsi leukosit, neutrofil, monosit dan limfosit. Monosit didalam tubuh dicerminkan melalui mekanisme fagositosis dan kemotaktis dari makrofag khususnya terhadap partikel molekul protein yang besar seperti fungi, parasit, protozoa maupun berbagai infeksi bakteri dan virus, sedangkan neutrofil mencerminkan respon imun tubuh yang bersifat kemotaktis dan fagositosis khususnya terhadap masuknya berbagai macam infeksi seperti bakteri dan virus, sedangkan limfosit yang merupakan bagian dari leukosit yang mempunyai inti yang bulat besar dan hampir memenuhi seluruh sitoplasma berfungsi sebagai agen fagosit dan pembentukan antibodi yang bersifat seluler yang diperankan oleh sel T dan antibodi bersifat homoral yang diperankan oleh sel B.  Antibodi yang dibentuk oleh sel B dalam bentuk imunoglubulin, sedangkan sel T berperan membantu sel B untuk mengaktivasi makrofag yang merupakan respon imunologis yang bersifat spesifik.

Jinten hitam (Nigella sativa Linn) mengandung minyak volatil berwarna kuning,  protein, asam lemak tidak jenuh seperti asam linolenat, asam linoleat, asam oleat, asam palmitat, asam stearat, dan asam miristat. Selain itu juga mengandung asam amino seperti albumin, globulin, lisin, leusin, isoleusin, valin, glisin, alanin, fenil alanin, arginin, asparagin, sistin, asam glutamat, asam aspartat, prolin, serin, threonin, tryptofan, dan tyrosin, gula reduksi, alkaloid, asam organik, tanin, resin, glukosida toksik, metarbin, melathin, serat, mineral seperti: Fe, Na, Cu, Zn, P, Ca, dan vitamin seperti asam ascorbat, tiamin, niasin, piridoksin, asam. Minyak volatile dan minyak campuran yang terkandung dalam jinten hitam (Nigella sativa) yakni nigellicine, nigellidine, nigellimine-N-oxide, thymoquinone, dithymoquinone, thymohydroquinone, nigellone, dan juga dalam bentuk thymol, 7 hydroxy-coumarin, alpha-hedrin, steryl-glucoside.

Penelitian ini menggunakan Tikus dibuat stress dengan diinfeksi kuman Salmonella typhimurium dengan konsentrasi 105 kuman/0,5 ml yang diberikan secara intraperitoneal sebanyak 0,5 ml. Setelah 4 hari masa inkubasi dan tikus telah menderita demam untuk digunakan sebagai perlakuan. Tikus sebanyak 125 ekor dibagi menjadi dalam 5 kelompok sehingga tiap kelompok terdiri dari 25 ekor (dalam 1 kandang berisi 5 ekor tikus).

Tiap kelompok dibagi dalam 5 kali pengamatan yakni hari ke 2, ke 4, ke 6, ke 8 dan ke 10 terhadap respon imun bawaan (innate immunity) yakni total Leukosit, jumlah hitung jenis Leukosit (Eosinofil, Basofil, Neutrofil, Limfosit, Monosit) dan makropag teraktivasi.  Kelompok tersebut yaitu: Kelompok Kontrol negative: Kelompok tikus sehat hanya diberi vehiculum penelitian yakni cmc 0,5% sebanyak 0,5 ml./ml per hari secara peroral, selama 10 hari, Kelompok T0 : Kelompok tikus di kondisikan tertular Salmonella typimurium dengan konsentrasi 105 bakteri / ml dengan dosis 0,25 ml/ ekor secara intraperitoneal, dan selanjutnya hanya diberi vehiculum saja sebanyak 0,5 ml/hari/ secara peroral selama 10 hari, Kelompok T1:

Kelompok tikus yang di kondisikan tertular Salmonella typimurium dengan konsentrasi 105 kuman/ ml, dengan dosis 0,25 ml/ekor  secara intraperitoneal, dan selanjutnya diberi ekstrak minyak jinten hitam  dengan dosis 12.60 mg/200 gram bb/ hari/ secara per oral selama 10 hari, Kelompok T2: Kelompok tikus yang dikondisikan tertular Salmonella typimurium dengan konsentrasi 105 kuman/ ml dengan dosis 0,25 ml secara intraperitoneal, selanjutnya diberi ekstrak minyak jinten hitam dengan dosis 18.90 mg/200 gram bb/hari secara per oral selama 10 hari, Kelompok T3 : Kelompok tikus yang dikondisikan tertular Salmonella typimurium dengan konsentrasi 105 kuman/ml dengan dosis 0,25 ml secara intraperitoneal, selanjutnya diberi ekstrak minyak jinten hitam dengan dosis 25.20 mg/200 gram bb/hari secara peroral selama 10 hari.

Selanjutnya mulai hari ke 2, 4, 6,  8, dan ke 10 masa pemberian ekstrak minyak jinten hitam pada masing-masing kelompok tikus diambil 5 ekor untuk diambil darahnya, selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap parameter yang akan diamati yakni jumlah total  dan hitung jenis leukosit (Eosinofil, neutrofil, limfosit dan monosit) serta makropag teraktivasi.

Hasil analisis menunjukkan bahwa  ekstrak minyak Jinten hitammampu mempertahan respon imun kearah normal terhadap total leukosit dan hitung jenis leukosit serta jumlah makrofag teraktivasi, Dari hasil  penelitian ini dapat disimpulkan bahwa minyak jinten hitan (Nigella Sativa) dapat digunakan  sebagai imunomodulator   melalui stabilisasi  total  dan hitung jenis leukosit serta jumlah makrofag teraktivasi.  

Penulis: Prof. Dewa Ketut Meles,MS.,drh

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://ivj.org.in/archives/showpage.ashx?ArticleID=9349

Dewa K. Meles, Erma Safitri1,Wurlina, Imam Mustofa, Suherni Susilowati and Desak K.S.C. Putri (2020). Immunomodulatory Activity of Black Jinten Oil (Nigella sativa) as Macrophage Activator for Salmonella typimurium Infected Rat. Indian Vet. J., January 2020, 97 (01) : 12 – 14

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu