Menguak Rahasia Seks Pria Diabetes

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Tribunnews.com

Seks merupakan bagian penting dari hubungan manusia dewasa. Tidak terpenuhinya kebutuhan seks dapat menimbulkan rasa bersalah dan penolakan sehingga menyebabkan permasalahan dalam pola hubungan pasangan, tak terkecuali pada pria diabetes. Disfungsi seksual pria diabetes dengan komplikasi lebih tinggi terjadi, ditemukan sekitar 90% pria diabetes mengalami gangguan fungsi seksual (Demyttrnaere, 2002; Thakur, Bhargava, Praznik, Loeppert & Dixit, 2009). Dua masalah seksual utama dialami pria diabetes yaitu disfungsi ereksi (35.8%-82%) dan ejakulasi diri (30%-70%) (Zweifler, et al., 1998; Fedele, et al., 2000; Jackson, 2004; Solomon, 2003; Potts, 2004; Benson, Ost, Noble & Lakin, 2009; Benson, et.al., 2009).

Perubahan kemampuan seksual menyebabkan masalah yang lebih kompleks, tidak hanya berefek pada fisik namun juga psikis klien. Perasaan tidak aman, rasa bersalah, penurunan keintiman, rendah diri, merasa gagal dalam pernikahan, rasa bersalah, malu untuk mendiskusikan muncul pada pria diabetes. Kompleksitas masalah disfungsi seksual pada pria ini disebabkan oleh berbagai hal, termasuk di dalamnya pandangan tentang seksualitas dan disfungsi seksual yang dialami.

Eksplorasi mendalam dilakukan pada 7 pria diabetes, didapatkan perbedaan pandangan tentang seksual dan disfungsi seksual. Pria memandang apa sebenarnya seksualitas, fungsi seksual dan seksual yang sehat. Pria diabetes menganggap bahwa seks merupakan hal penting dalam hidupnya, sebagai kebutuhan primer setelah makan dan minum serta sebagai keharusan bagi pria untuk tetap bugar fungsi seksualnya. Pria diabetes ini memaknai seksual sebagai aktifitas berhubungan badan, bahwa fokus seksualitas pada pria adalah area genital dalam arti berhubungan badan.

Pandangan tentang seksualitas yang sehat menjadi titik tolak pemikiran pria. Dimensi fisik dan psikologis pria menjadi fakta kebenaran tentang kesehatan seksual. Pria sehat adalah pria yang bangga dengan seksualitasnya, kepercayaan diri dan kekuatan. Sebagai kebutuhan primer, seks yang sehat merupakan dambaan semua pria dan akan meningkatkan semangat hidup, ketika terjadi kesulitan dan disfungsi maka hidup pria bagai kiamat dan terjadi perubahan signifikan yang sangat berpengaruh pada fisik dan psikis pria, serta merubah pola kesejahteraan hidupnya. Hal ini didukung hasil penelitian saat ini yang mengatakan bahwa partisipan memandang disfungsi seksualnya membuat tidak semangat bekerja, tidak ada harapan dan kebahagiaan setelah pulang bekerja.

Pria diabetes meyakini suatu kebenaran bahwa seksualitas pada pria adalah kepuasan seks. Kepuasan seks meliputi keterampilan bercinta, pengetahuan, kekuatan dan sebagainya. Ketika mereka mengalami kesulitan ereksi atau ejakulasi dini, maka mereka tidak dapat memuaskan istrinya sehingga muncul perasaan tidak menjadi pria sejati.

Fakta lain mengatakan bahwa pria mempunyai rentang pemahaman yang luas tentang seksual yang normal. Seksual yang normal dipahami dalam bentuk fisik yang normal (ukuran penis); fungsi seksual pada tubuh (ereksi dan ejakulasi); bahkan fantasi seksual merupakan hal normal. Jika pada akhirnya terjadi perubahan, maka mereka merasa terganggu dan sangat membahayakan kehidupannya. Inilah yang terjadi pada partisipan, mereka memandang disfungsi seksual yang dialaminya sebagai gangguan atas kebutuhan primer dalam hidupnya dan berdampak psikologis pada dirinya. Disfungsi seksual telah memutar balikkan hidupnya, membuat hidupnya berbahaya karena menyebabkan sikap istrinya berubah. Luka kaki dan regulasi gula darah tidak teratur yang dialaminya tidak menjadi prioritas hidupnya saat ini, tetapi seksual sajalah yang menjadi prioritas karena respon istri menyakiti dirinya, integritas dan harga diri sebagai laki-laki dan suami menjadi tak ada gunanya.

Namun, tidak semua pria diabetes menganggap bahwa seksual adalah kebutuhan utama, terdapat beberapa partisipan dalam penelitian mengatakan bahwa seksual bukanlah segala-galanya, rumah tangga tidak hanya tergantung pada seks dan hubungan seksual, hubungan suami istri tidak akan berubah dengan adanya kekurangan dalam berhubungan seksual, bahkan mengatakan seks tidak lagi penting bagi kehidupannya karena sudah mempunyai keturunan.

Secara jelas disampaikan bahwa kehidupan seksual mereka memang bermasalah karena sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan istri, tidak mampu ereksi dan mengalami ejakulasi dini, namun kehidupan rumah tangga tidak sekedar memikirkan kebutuhan seksual ataupun tergantung pada seksual semata, tetapi masih ada hal lain yang lebih penting dan perlu dipikirkan, antara lain bentuk kasih sayang; perhatian; saling asah asih dan asuh. Tak terkecuali adalah alasan utama adanya komitmen tinggi dalam berumah tangga bahwa janji pada Tuhan adalah yang utama.

Pada akhirnya, rahasia seksual pria diabetes telah terkuak, bahwa seksual adalah kebutuhan primer juga sekunder. Jika terjadi gangguan maka terjadi perubahan kehidupan, kebutuhan utama dan perubahan psikologis. Walau sebenarnya gangguan itu juga tidak terlalu mengganggu sebagian partisipan, tetap diharapkan adanya persepsi positif dan dukungan pasangan untuk membuat pria diabetes dapat beradaptasi atas disfungsi yang dialami.

Penulis: Hafna Ilmy Muhalla, S. Kep., Ns., M. Kep., Sp. Kep. M.B.

Informasi detil penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami:

https://www.indianjournals.com/ijor_AdvanceSearch/summary.aspx?query=3&mode=gen

Muhalla Hafnailmy. 2019. How Diabetic Men Perceive Sex and Sexual Dysfunction. Indian Journal Of Public Health Research & Development. Volume: 10   Issue: 8   Pages: 2616-2620. ISSN: 0976-0245  Online ISSN: 0976-5506.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu