Enkapsulasi Kombinasi Primakuin dan Klorokuin sebagai Sediaan Liposom untuk Antimalaria

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI liposom. (Foto: Istimewa)
ILUSTRASI liposom. (Foto: Istimewa)

Malaria merupakan penyakit endemik daerah sub-tropis dan tropis yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Anopheles sp. betina yang terinfeksi Plasmodium sp. Tahapan penyakit malaria sangat kompleks. Dan, di antara tahapan tersebut, fase hepatik (liver) merupakan titik awal perkembangan infeksi malaria di dalam tubuh yang dapat berkembang menjadi infeksi fase eritrositik (darah), bahkan fase serebral (otak) yang mematikan. Sampai saat ini, terapi pengobatan untukinfeksi malaria fase hepatik masih terbatas pada penggunaan Primakuin. Namun, durasi pengobatan yang panjang serta toksisitas obat yang tinggi membatasi efektivitas terapi menggunakan obat ini.

Penggunaan kombinasi terapi Primakuin bersama dengan Klorokuin dilaporkan dapat meningkatkan efektifitas terapi Primakuin melalui hambatan metabolisme obat yang dapat menurunkan efek toksiknya. Selain itu, penggunaan kombinasi kedua obat ini dapat ditujukan sebagai terapi ganda. Di mana Primakuin ditujukan untuk terapi infeksi fase hepatik, sementara penggunaan Klorokuin diharapkan dapat memberikan efek pencegahan terhadap kemungkinan terbentuknya infeksi fase eritrositik.

Pada infeksi malaria fase hepatik, parasit yang masuk ke tubuh secara spesifik hanya akan menyerang sel hepatosit daripada sel-sel lainnya di liver. Dengan demikian, hantaran obat spesifik untuk sel hepatosit akan bermanfaat guna peningkatan efektifitas terapi serta penurunan toksisitas Primakuin dan Klorokuin. Karena itu, untuk meningkatkan hantaran dan efikasi kedua obat tersebut, liposom akan digunakan sebagai pembawa obat.

Liposom merupakan nanopartikel dengan bentukan vesikel, yakni partikel berukuran nanometer yang memiliki membran tersusun atas lipid dengan inti fase air. Pembuatan formula tunggal liposom Primakuin dan liposom tunggal Klorokuin dilakukan sebagai pengembangan awal formulasi liposom kombinasi Primakuin dan Klorokuin.

Pembuatan liposom memiliki beberapa titik kritis yang sangat mempengaruhi keberhasilan proses pemasukan atau penjebakan, yang popular disebut “enkapsulasi”, obat ke dalamnya. Suhu dan waktu inkubasi, serta rasio obat:lipid ternyata sangat berpengaruh terhadap efisiensi penjebakan obat dan pelepasan obat dari liposom. Efisiensi penjebakan obat semakin besar seiring dengan peningkatan suhu inkubasi.

Adapun dengan waktu inkubasi liposom-obat selama 20 menit, dihasilkan liposom dengan efisiensi enkapsulasi relatif lebih tinggi dibandingkan yang lain. Pada optimasi penentuan rasio obat:lipid untuk pembuatan liposom Klorokuin, peningkatan rasio obat:lipid meningkatkan efisiensi enkapsulasi obat. Hal ini berbanding terbalik dengan hasil yang ditunjukkan oleh liposom Primakuin, dimana efisiensi enkapsulasi akan semakin besar apabila rasio obat:lipid semakin kecil.

Dari hasil tersebut diatas, suhu inkubasi yang optimal adalah 60°C dengan waktu inkubasi selama 20 menit, dengan rasio obat:lipid liposom Klorokuin adalah 1:3, sedangkan pada liposom Primakuin adalah 1:10 yang memiliki efisiensi enkapsulasi paling tinggi. Kondisi optimal ini digunakan untuk pembuatan liposom kombinasi primakuin dan klorokuin.

Setelah dikombinasi, efisiensi enkapsulasi obat liposom tunggal Primakuin dan liposom tunggal Klorokuin menunjukkan hasil yang lebih besar dibandingkan kombinasinya. Namun, profil pelepasan liposom kombinasi menunjukkan pelepasan yang relatif lebih lambat dibandingkan dengan liposom tunggalnya. Penggunaan kombinasi Primakuin dan Klorokuin dalam liposom menurunkan efisiensi enkapsulasi masing-masing obat serta memperlambat pelepasannya.

Penulis: Andang Miatmoko, Ph.D., Apt.

Informasi detail mengenai penelitian ini dapat dilihat lebih jelas pada link berikut:

https://www.degruyter.com/view/j/afpuc.2019.66.issue-2/afpuc-2019-0009/afpuc-2019-0009.xml

Miatmoko A, Hartono R., Zahro SM, Ann uryanti F, Hendradi E, 2020, Dual loading of primaquine and chloroquine into liposome, European Pharmaceutical Journal; 66(2):18-25. https://doi.org/10.2478/afpuc-2019-0009

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu