Ekspresi Inhibition Checkpoint Molecules (ICs) pada infeksi HBV dan HCV dan implikasinya terhadap Anti-viral Immunotherapy

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
foto: Istimewa
foto: Istimewa

Untuk bertahan melawan infeksi virus, tubuh manusia dilengkapi dengan sistem imunitas bawaan dan adaptif yang kompleks. Deteksi patogen dan aktivasi selanjutnya dari imunitas bawaan pada akhirnya akan mengarah pada pengembangan imunitas adaptif yang sangat spesifik, termasuk B-sel dan T sel spesifik virus. Setelah deteksi epitop antigenik yang disajikan oleh APC (Antigen Presenting Cell) ke sel-T reseptor (TCR), sel T teraktivasi, proliferasi, dan diferensiasi menjadi sel T spesifik virus efektor. Sel T spesifik virus yang diaktifkan kemudian memperoleh kemampuan untuk menghasilkan protein sitokin.

Namun, aktivasi sel T dan diferensiasi menjadi sel efektor akan memprovokasi kerusakan sekunder pada jaringan inang. Karena itu, fungsi efektor T sel juga dicontrol oleh mekanisme regulasi negatif untuk menjaga keseimbangan antara pembersihan virus dan pembatasan efek patologi dari respons imun. Regulasi negatif fungsi sel T dapat berasal baik dari lingkungan eksternal, seperti lingkungan jaringan tolerogenik, sel T regulator (Treg), dan sitokin penghambat (IL-10 dan faktor pertumbuhan β [TGF-β]), atau dari regulasi jalur intrinsik, termasuk inhibition checkpoint molecules  (ICs) yang diekspresikan pada permukaan membrane sel T.

Beberapa jenis ICs yang sudah diteliti di antaranya programmed cell death 1 (PD-1), T-cell immunoglobulin and mucin domain-containing molecule 3 (TIM-3), cytotoxic T lymphocyte antigen 4 (CTLA-4), CD244 (2B4), lymphocyte activation gene 3 (LAG-3), and T-cell immunoglobulin and immunoreceptor tyrosine-based inhibitory motif (ITIM) domain (TIGIT). Molekul-molekul ini secara kolektif memiliki efek penghambatan untuk membatasi tingkat dan durasi aktivasi sel T.

Pada infeksi kronis HBV dan HCV, terjadi exhaustion pada sel T sehingga menyebabkan infeksi yang berkepanjangan. Inhibisi molekul ICs telah digunakan sebagai opsi terapi yang menjanjikan di Indonesia beberapa infeksi virus kronis, termasuk HIV. Terutama, inhibisi PD-1 telah diteliti untuk mengobati infeksi HBV dan HCV kronis.

Selain digunakan sebagai target terapi, molekul ICs juga memiliki potensi sebagai biomarker prognostik untuk infeksi virus kronis, termasuk memantau perkembangan penyakit dan respons terhadap terapi. Pada infeksi HCV kronis, polimorfisme gen CTLA-4 dikaitkan dengan respons berkelanjutan terapi IFN / ribavirin (PEG-IFN / RBV).

Terapi antivirus yang berhasil untuk HBV dan HCV bekerja dengan menekan replikasi atau menghilangkan virus dari hepatosit. Karena keadaan exhaustion pada sel-T didorong oleh paparan yang berkepanjangan terhadap antigen virus, maka eradikasi atau penurunan jumlah antigen yang dapat diinduksi oleh terapi antivirus standar mungkin mengembalikan fungsi efektor khusus virus dan sel T memori. Percobaan in vivo pada hewan coba menunjukkan bahwa pemberian ribavirin secara dini dapat mencegah terjadinya exhaustion pada sel T dan mencegah terjadinya infeksi kronis.

Peran dari molekul ICs pada pathogenesis infeksi kronis HBV dan HCV: sebagai personalised anti-viral therapy, sebagai bio-marker saat infeksi, dan biomarker saat terapi berlangsung

Pemahaman akan regulasi ekspresi molekul IC pada sel T sangat penting untuk memberikan dasar pengetahuan akan mekanisme biologi aktivasi sel T selama infeksi virus akut dan kronis, serta selama proses terapi antivirus. Pada aplikasinya, ekspresi molekul IC juga dapat digunakan sebagai biomarker untuk infeksi HBV dan HCV kronis, termasuk memantau perkembangan penyakit dan respons selama masa terapi antivirus. Informasi mengenai molekul IC juga menyediakan dasar untuk pengembangan inovasi baru untuk antivirus berbasis imunitas yang bersifat personalized therapy dengan memanipulasi jalur reseptor penghambat, baik dengan inhibisi tunggal atau ganda serta dalam kombinasi dengan sitokin atau vaksinasi terapeutik, 137 untuk meningkatkan kemampuan sel T spesifik virus untuk menghilangkan infeksi virus. (*)

Penulis: Rizka Oktarianti Ainun Jariah, Prodi DIII Teknik Laboratorium Medis, Fakultas Vokasi

Tulisan diadaptasi dari jurnal ilmiah :

Expressions of inhibitory checkpoint molecules in acute and chronic HBV and HCV infections: Implications for therapeutic monitoring and personalized therapy

Link: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/rmv.2094

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu