Diagnosa Kebuntingan dan Kematian Embrio Dini dengan Pemeriksaan Kadar Progesteron Kambing Lokal

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI kambing lokal. (Foto: Istimewa)
ILUSTRASI kambing lokal. (Foto: Istimewa)

Selama ini deteksi kebuntingan pada kambing masih menggunakan metode konvensional, yaitu berdasar tidak kembalinya birahi setelah perkawinan. Kejadian ini bergantung dari ketepatan saat mendeteksi birahi menggunakan pemancing pejantan.

Metode deteksi kebuntingan yang biasa dilakukan, yaitu palpasi pada perut. Namun, teknik ini harus didukung dengan petugas pemeriksa kebuntingan yang terampil dan berpengalaman guna mendapatkan diagnosa kebuntingan yang tepat. Metode ini memiliki kekurangan, yaitu dapat dilakukan apabila kebuntingan berusia 60-70 hari dengan ketepatan 70 persen sehingga kambing tersebut baru diketahui bunting setelah melewai 2-3 siklus birahi. Metode ini kurang efektif dan efisien dalam pengelolaan manajemen reproduksi sehingga dibutuhkan deteksi kebuntingan yang akurat, efisiensi dalam waktu dan biaya, sehingga peternak mendapat keuntungan. 

Korpus luteum pada kambing diperlukan untuk mempertahankan selama kebuntingan.  Korpus luteum pada kambing yang normal mengandung 270 mikrogram progesteron, sedangkan kadar progesteron di dalam korpus luteum kurang dari 100 mikrogram tidak dapat mempertahankan kelangsungan hidup dari embrio. Pengaruh hormon progesterone pada kambing dimulai pada hari ke-3 setelah ovulasi dan akan mencapai puncaknya pada hari ke 15-17 dari siklus birahi dan pengaruh progesteron akan jelas terlihat saat embrio mengalami implantasi pada selaput lendir uterus.

Pada hari ke-14 sampai ke-19 setelah perkawinan, apabila terjadi kebuntingan maka zygote mampu mengirim suatu signal ke ovarium berupa LH-like untuk mempertahankan kebuntingan. Selain itu, substansi ini mampu mengaktifkan enzym steroidogenesis untuk membentuk estrogen, progesterone, dan testosteron. Adanya peningkatan aktivitas kerja enzym inhibitor prostaglandin syntetase didalam ovarium menyebabkan korpus luteum akan tetap dipertahankan sehingga pada hari ke 21 setelah perkawinan, kadar progesteron akan tetap tinggi di dalam darah dan kadar progesteron yang tinggi ini tetap dipertahankan hingga akhir kebuntingan, sedangkan menjelang kelahiran kadar hormon progesteron akan turun sampai tingkat basal. Hormon progesteron yang tinggi tidak hanya disebabkan kebuntingan, tetapi dapat disebabkan adanya korpus luteum persisten sehingga perlu diketahui kadar progesterone untuk kebuntingan.

Sebanyak 20 ekor induk kambing lokal dilakukan sinkronisasi birahi menggunakan PGF2α dengan dosis 4 mg/ekor sebanyak dua kali selang waktu 11 hari. Setelah penyuntikan PGF2α kedua, induk kambing birahi dilakukan cervical inseminasi menggunakan semen segar kambing etawa dengan konsentrasi 85 X106 . pengambilan darah melalui vena jugularis sebanyak 5 ml untuk pemeriksaan kadar progesterone dengan Radio immunoassay (RIA)

Hasil penelitian dari kadar progesterone sebelum bunting pada induk kambing bunting beranak tunggal dan bunting kembar sebesar 0,84 ± 1,47 ng/ml hingga 1,56 + 1,27 ng/ml. Kadar progesteron pada hari ke 14 dan 21 setelah cervical inseminasi buatan dapat digunakan untuk mendiagnosa kebuntingan secara dini pada kambing local, yaitu masing-masing 2,25 + 0,16 ng/ml dan 2,91 + 0,51 ng/ml pada kambing bunting dengan anak tunggal, 2,64 + 0,56 ng/ml dan 3,61 + 0,13 ng/ml pada kambing bunting dengan anak kembar dua   2,89 +  0,83 ng/ml dan 4,05 +  1,23 ng/ml pada kambing bunting dengan anak kembar tiga dan 3.08 ± 0,72ng/ml dan 4.39 ± 1.21 ng/ml pada kambing bunting dengan anak kembar empat. Kadar progesterone 6 hari setelah melahirkan pada induk kambing beranak tunggal dan kembar < 1 ng/ml.

Berdasar hasil analisis dapat disimpulkan diagnosa kebuntingan pada umur kebuntingan muda mempunyai arti ekonomis yang sangat besar bagi para peternak dalam usaha pemberantasan dan pencegahan penyakit yang dapat menyebabkan kemajiran. Selisih kadar progesteron pada hari ke 14 dan 21 setelah cercical inseminasi buatan dapat digunakan untuk mengetahui adanya kematian embrio secara dini. Sebaliknya selisih kadar progesteron pada hari ke 21 dan 14 setelah cervical inseminasi buatan dinyatakan sebagai terjadi implantasi terlambat.

Kami berpendapat bahwadalam pelaksanaan program inseminasi buatan (IB) maupun transfer embrio, salah satu cara yang cepat dan tepat untuk mendiagnosa terjadinya kebuntingan secara dini adalah melalui pengukuran kadar progesteron. Sedangkan untuk mengetahui adanya kematian embrio secara dini akan menyebabkan kadar progesteron menurun sampai ketingkat basal. (*)

Penulis: Prof,Dr. Wurlina,MS.,drh

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://ivj.org.in/archives/showpage.ashx?ArticleID=9283

Wurlina, Imam Mustofa, Mas’ud Hariadi, Erma Safi tri and Dewa Ketut Meles. (2019). Diagnosis of Single and Twin Pregnancy, and Early Embryo Mortality Through Progesterone Level Test on Local Does. Indian Vet. J., November 2019, 96 (11) : 42 – 44

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu