Kanker Paru Karsinoma Bukan Sel Kecil

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh hello sehat

Kematian akibat kanker paru-paru menempati urutan kedua pada pria 21,8% dan keempat pada wanita 9,1%. Kejadian ini terkait dengan jumlah kebiasaan merokok pada pria yang lebih besar daripada wanita. WHO membagi kanker paru menjadi 2 kelas berdasarkan biologi, terapi, dan prognosis, yaitu kanker paru tipe karsinoma sel kecil dan kanker paru karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK). Kanker paru-paru ini adalah jenis yang paling umum, yang lebih dari 85% dari semua kanker paru-paru, yang terdiri dari karsinoma non-skuamosa (adenokarsinoma, karsinoma sel besar, dan jenis sel lainnya) dan karsinoma sel skuamosa (epidermoid). Adenokarsinoma adalah jenis kanker paru yang paling umum di Amerika Serikat dan merupakan jenis sel yang paling sering pada orang yang tidak merokok.

Terapi anti kanker yang saat ini berkembang menghambat kerja EGFR, salah satunya adalah inhibitor tirosin kinase (TKI) yang bekerja di intraseluler. Gefitinib dan Erlotinib adalah dua TKI EGFR yang memiliki mekanisme yang sama dan kemanjuran klinis yang hampir sama pada kanker paru-paru karsinoma bukan sel kecil [Ettinger D et al., 2015]. Pemberian Gefitinib dengan dosis 250 mg per hari adalah dosis efektif minimum yang merupakan sepertiga dari dosis maksimum yang dapat ditoleransi, sementara erlotinib dengan dosis 150 mg per hari adalah dosis maksimum yang dapat ditoleransi sehingga aktivitas biologis erlotinib pada standar dosis mungkin lebih tinggi daripada gefitinib [Hidalgo M et al., 2001; Baselga J et al., 2002].

Di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, menggunakan terapi EGFR TKI sejak 2012 melalui asuransi kesehatan yang ditanggung pemerintah. Tidak ada data di RSUD Dr Soetomo yang membandingkan kemanjuran gefitinib dan erlotinib.

Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan desain kohort retrospektif. Penelitian ini melibatkan pasien dengan diagnosis kanker paru-paru yang dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Indonesia mulai Januari 2016 hingga Agustus 2018. Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah pasien yang telah didiagnosis dengan KPKBSK tertentu berdasarkan hasil histopatologis, dengan mutasi umum EGFR, stadium penyakit IIIA ke atas, belum pernah menerima terapi sistemik untuk KPKBSK sebelumnya, dan memiliki setidaknya satu tumor atau lesi yang dapat diukur.

Pasien yang tidak memiliki data lengkap serta efek samping obat yang menyebabkan terapi EGFR TKI diubah atau dosisnya diubah secara permanen, tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah rekam medis pasien dan hasil CT scan toraks. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling untuk memperoleh 211 pasien tetapi yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 94 pasien.

Untuk menentukan kemanjuran gefitinib dan erlotinib dapat dilihat berdasarkan nilai progression-free survival (PFS) dan overall survival (OS). Hasil penelitian ini dalam hal PFS dan OS yang rendah tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan bila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya. Ini dapat disebabkan oleh perbedaan besar dalam jumlah sampel dari kedua kelompok sehingga ada bias yang luas dan standar deviasi yang lebih luas. Kisaran kelangsungan hidup bebas perkembangan dan durasi kelangsungan hidup keseluruhan yang terlalu jauh dalam satu kelompok menyebabkan bias yang luas dan standar deviasi sehingga hasil uji perbandingan tidak berbeda secara signifikan. 

Tingkat kelangsungan hidup yang rendah kontras dengan performance status (PS) pada awal terapi yang menunjukkan kondisi pasien baik sebelum mendapatkan terapi EGFR TKI, ini dapat disebabkan oleh pengaruh subyektivitas penilaian PS yang dilakukan oleh pemeriksa pada pasien kanker paru-paru. Selain itu, kepatuhan juga memengaruhi terapi EGFR TKI.

Penelitian ini adalah penelitian retrospektif yang menggunakan data rekam medis sebagai sumber pengambilan data, sehingga memiliki keterbatasan untuk mengkonfirmasi data yang meragukan, terutama pada pasien yang telah meninggal. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal efikasi antara gefitinib dan erlotinib pada pasien kanker paru-paru karsinoma bukan sel kecil di poli satu atap (POSA) RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Penulis: Dr. Laksmi Wulandari, dr., Sp.P(K), FCCP

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://e-journal.unair.ac.id/FMI/

Afrita Laitupa and Laksmi Wulandari (2019). Efficacy Of Gefitinib And Erlotinib In Non-Small-Cell Lung Carcinoma. The New Armenian Medical Journal, 13(3), p.4-10; https://www.ysmu.am/website/documentation/files/f8447ff6.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu