Obat TBC Harus Diminum Sesuai Indikator Kepatuhan Regimen Terapi Obat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh suara com

Kesembuhan pasien penyakit kronis memerlukan kerjasama antara penyedia jasa layanan kesehatan dengan pasien yang ditunjukkan oleh perilaku kesehatan berupa kepatuhan pasien dalam minum obat. Pengetahuan dan kepatuhan pasien dalam pengobatan merupakan faktor penentu keberhasilan terapi, termasuk pangobatan pada penyakit tuberkulosis (TB) paru. Kepatuhan pasien dalam pengobatan TB merupakan kunci dalam pengendalian penyakit TB. Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang sebagian besar (80%) menyerang paru. Bakteri bersifat sulit ditembus oleh zat asam pada pewarnaan identifikasi dahak secara mikroskopis sehingga disebut basil tahan asam (BTA). Bakteri ini dapat bertahan hidup pada tempat gelap dan lembab serta dormant (tertidur sampai beberapa tahun) dalam jaringan tubuh.

Gejala penyakit TB pada orang dewasa yaitu batuk berdahak selama tiga minggu atau lebih, batuk darah atau pernah batuk darah. Gejala lain berupa sesak nafas, nyeri dada, badan lemah, berat badan menurun, rasa kurang enak badan, berkeringat di malam hari walaupun tanpa kegiatan, serta demam meriang lebih dari sebulan. Pengobatan TB dilakukan dengan obat antituberkulosis (OAT) kombinasi tetap dosis (KDT) dengan jangka panjang yang terdiri dua tahap, yaitu tahap intensif dan tahap lanjutan. Terapi OAT KDT tahap intensif dilakukan selama dua bulan pertama dengan kaplet berwarna merah berisi empat macam obat yaitu Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, dan Ethambutol. Sedangkan tahap lanjutan dilakukan selama empat bulan berikutnya dengan kaplet berwarna kuning yang berisi Isoniazid dan Rifampisin. Potensial risiko terapi OAT KDT jangka panjang yaitu ketidakpatuhan pasien dalam minum obat, biaya terapi obat, dan efek samping obat sehingga membutuhkan peran apoteker dalam terapi obat melalui asuhan kefarmasian pada pasien.

Apoteker menjelaskan manfaat obat, efektivitas pengobatan, keamanan minum obat, dan kepatuhan minum obat sesuai regimen (aturan) terapi obat dengan lima indikator yaitu tepat dosis, tepat frekuensi, tepat interval, tepat waktu minum obat dan tepat durasi terapi.

Penelitian dengan tujuan untuk menentukan tingkat kepatuhan terapi OAT KDT pada pasien TB dengan indikator kepatuhan regimen terapi obat telah dilakukan di seluruh puskesmas Kota Surabaya. Penelitian ini dilakukan di Kota Surabaya mengingat Kota Surabaya menempati peringkat pertama dalam jumlah kasus TB terbanyak di Provinsi Jawa Timur.

Penelitian ini dilakukan satu kali pengamatan (cross-sectional) menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner self-report yang diberikan kepada 249 pasien TB di seluruh puskesmas di Kota Surabaya. Kuesioner ini menggunakan skala Guttman yang terdiri dari pernyataan tentang perilaku kepatuhan pasien dalam minum OAT KDT dengan pilihan jawaban ya atau tidak. Pengisian kuesioner ini didampingi oleh peneliti setelah pasien menerima penjelasan sebelum persetujuan dan mengisi persetujuan mengikuti penelitian. Pengumpulan data dilakukan selama 3 bulan dari bulan Juli hingga September 2018. Analisis data menggunakan Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 18 untuk Windows.

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data bahwa 103 (41,37%) pasien dari total 249 pasien TB yang memenuhi kepatuhan regimen terapi OAT KDT dengan lima indikator.  Pasien minum OAT KDT seharusnya dengan memenuhi semua indikator regimen terapi obat yaitu tepat dosis, tepat frekuensi, tepat interval, tepat waktu minum obat dan tepat durasi terapi. Kriteria tepat dosis yaitu obat diminum sesuai jumlah kaplet yang dihitung berdasarkan berat badan pasien. Tepat frekuensi yaitu obat diminum dalam satu kali waktu.

Tepat interval yaitu obat diminum pada waktu (jam) yang sama agar jarak (interval) antar waktu minum obat selalu sama. Tepat waktu minum yaitu obat diminum sesuai karakteristik penyerapan obat pada saat perut kosong yaitu 2 jam sebelum makan atau 4 jam setelah makan. Tepat durasi obat yaitu terapi obat sesuai jadwal pengambilan obat di puskesmas dan dilakukan sampai tuntas.


Kepatuhan pasien TB dalam minum OAT KDT harus dilakukan sesuai indikator regimen terapi obat yaitu tepat dosis, tepat frekuensi, tepat interval, tepat waktu minum obat dan tepat durasi terapi. Obat tidak hanya sekedar diminum saja tetapi harus memperhatikan sifat karakteristik obat agar obat memberikan manfaat maksimal untuk mematikan basil tahan asam sebagai penyebab penyakit tuberkulosis.  


Penulis : Yuni Priyandani1*, Abdul Rahem1, M.Djunaedi1, Umi Athiyah1, M.B.Qomaruddin2, Kuntoro2

1 Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

2 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga

Link terkait artikel di atas: http://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijfmt&volume=13&issue=4&article=139

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu