Perbandingan Potensi Terapi Antara Metabolit Sel Punca Mesenkimal Okuli dan Non Okuli

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh gaya tempo co

Kerusakan sel punca limbus (SPL) dan niche sel punca limbus mengakibatkan terjadinya limbal stem cel deficiency (LSCD) yang sering mengakibatkan terjadinya kekeruhan dan neovaskularisasi pada kornea. Kasus LSCD paling sering terjadi pada trauma kimia basa dengan manifestasi  penurunan tajam penglihatan. Pada kasus LSCD derajat berat, 75 % niche SPL mengalami kerusakan dan memerlukan terapi tranplantasi SPL. 

Sel punca mesenkimal (SPM) memiliki kemampuan berdiferensiasi dan regenerasi pada multi organ. SPM limbus dan adiposa memiliki kemampuan berdiferensiasi menjadi sel epitel kornea pada kondisi tertentu.  SPM mensekresi berbagai macam faktor bioaktif  salah  satunya adalah  metabolit.  Metabolit SPM terdiri dari anti inflamasi, growth factor, dan berbagai macam sitokin yang berperan sebagai terapi regenerasi pada permukaan okuli dan memiliki peran dalam pempertahankan kondisi niche limbus.  Keuntungan dari metabolit SPM adalah bersifat, aselular, memiliki reaksi imunitas yang rendah dan bisa diproduksi masal. Namun ketersedian dan kultivasi donor yang sehat  masih menjadi tantangan. 

SPM adiposa diisolasi dari jaringan adiposa dengan metode asepsis.  Jaringan adiposa 2×2 cm, yang kemudian diisolasi secara enzimatis menggunakan metode oleh Zhu et al (2013) yang dimodifikasi. Karakterisasi sel fenotip SPM menggunakan ekspresi CD 105, CD 90, CD 73 dan CD 45. SPM limbus diisolasi dari jaringan korneosklera kelinci jantan yang kemudian di isolasi secara enzimatis menggunakan metode oleh Komaratih et al (2013) yang dimodifikasi. Karakterisasi sel fenotif SPM limbus menggunakan ekspresi p63.

Untuk mendapatkan metabolit, SPM adiposa dan SPM limbus di inkubasi dalam media terkondisi  dan dipanen dalam waktu 48 jam kemudian difilter menggunakan 0,45 μm milipore dan disimpan dalam suhu -800 C

Induksi pada trauma basa niche limbus dilakukan dengan cara sel SPM yang dikultur pada 96 multiwell plate selama 24 jam hingga mencapai konfluensi 80%. 24 jam setelahnya, sel diberikan perlakuan 20ul of 6.25mM NaOH selama 1 menit  dan dibilas dengan PBS sehingga terjadi kerusakan lebih dari 50 % pada  sel punca limbus. Untuk proliferasi sel, sel punca limbus yang sudah rusak kemudian diberi perlakuan  25 % metabolit SPM adiposa, 50 % SPM adiposa, 25 % SPM limbus, dan 50 % SPM limbus.  Kemudian di inkubasi dengan 10 μl of 0.45mg/mL of tetrazolium solution selama 4 jam dan dianalisis  menggunakan microplate reader.

Untuk migrasi sel secara invitro, dilakukan dengan kultur sel SPM kedalam media kultur kemudian dilakukan metode scratch assay menggunakan ujung pipet dan di beri perlakuan metabolit SPM limbus dan adiposa.  Setelah 48 jam migrasi sel dianalisis menggunakan  metode Freshney (2000).  Dengan bantuan mikroskop sel media kultur difoto dan dianalisis menggunakan  software image J. 

Secara umum pada penelitian ini, didapatkan peningkatan proliferasi dan migrasi sel SPL pada kelompok yang mendapat perlakuan SPM limbus dan adiposa dibanding kelompok kontrol.  Proliferasi dan migrasi sel tertinggi terjadi pada kelompok yang mendapat perlakuan  metabolit  50 % SPM limbus.  SPM dikenal memiliki efek anti inflamasi dan sebagai regulator angiogenik. Penelitian yang dilakukan oleh Ye et al pada kasus trauma kimia pada hewan model tikus, penggunaan SPM sumsum tulang secara topikal dan sub konjungtiva mengurangi peradangan dan timbulnya pembuluh darah baru pada kornea. Pada penelitian ini, secara invitro, SPM adiposa lebih efektif menghambat sekresi VEGF dibanding SPM limbus. Melihat potensi SPM adiposa tersebut, sehingga  bisa menjadi acuan sebagai salah satu sumber SPM non okuli yang menjanjikan untuk terapi regnerasi pada kornea.   

Penulis: Evelyn Komaratih1, Yuyun Rindiastuti1, Yohanes Widodo Wirohadidjojo2, Delfitri Lutfi1, Nurwasis1, Fedik A. Rantam3, Nora Ertanti3 and Cita R. S. Prakoeswa4 

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

A COMPARATIVE STUDY ON THE THERAPEUTIC POTENTIAL OF OCULAR AND NON-OCULAR STEM CELL SECRETOME ON ALKALI- INDUCED LIMBAL STEM CELL NICHE DAMAGE http://www.connectjournals.com/all_toc.php?bookmark=CJ-033216&&%20volume=19&&%20issue_id=Supp-02&&%20issue_month=December&&%20volume_year=2019

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu