RSUD Dr. Soetomo Ambil Langkah Cepat Sosialisasikan Corona ke Tenaga Medis Se-Jawa Timur

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SOSIALISASI kesiapsiagaan menghadapi infeksi virus corona di Gedung Diagnostic Center, Lantai 7, Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo pada Minggu (2/2/20). (Foto: Dimar Herfano)
SOSIALISASI kesiapsiagaan menghadapi infeksi virus corona di Gedung Diagnostic Center, Lantai 7, Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo pada Minggu (2/2/20). (Foto: Dimar Herfano)

UNAIR NEWS – Setelah menjangkiti 20 negara di berbagai benua, virus corona atau Novel coronavirus telah resmi ditetapkan oleh World Health Organization (WHO) sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau situasi darurat global. Meski hingga kini Indonesia belum menemukan satupun pasien positif corona, namun tenaga kesehatan dan Kementerian Kesehatan tidak mau tinggal diam.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), pimpinan RSUD Dr. Soetomo, hingga akademisi Fakultas Kedokteran UNAIR menggelar sosialisasi kesiapsiagaan bagi seluruh rumah sakit dan dokter spesialis paru-paru di Jawa Timur pada Minggu (2/2/2020). Bertempat di Gedung Diagnostic Center, Lantai 7, Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo, Dr. Joni Wahyuhadi dr., Sp.BS(K) selaku Direktur RSUD Dr. Soetomo menyampaikan garis besar dalam penanganan virus corona.

“Beberapa hari lalu kami bertemu dengan Kemenkes. Kami menyusun algoritma yang dapat digunakan dalam penanganan virus. Untuk di Dr. Soetomo sendiri kita punya tim, sarana, ruang isolasi, dan sistem. Menyusul sosialisasi ini kita akan membentuk aplikasi diskusi agar tenaga medis se-Jawa Timur bisa berkomunikasi dengan intensif atas kasus-kasus suspect yang mungkin terjadi,” ujarnya.

Coronavirus atau 2019-nCoV (Wuhan CoV) sendiri merupakan jenis virus baru yang karakteristik dan vaksinnya belum diketahui lebih lanjut. Pada materi pertama Dr. Resti Yudhawati, dr., Sp.P(K), pakar pulmonologi dan respirasi dari Fakultas Kedokteran UNAIR menjelaskan mengenai gambaran umum virus yang berasal dari Wuhan tersebut.

“Virus corona pada dasarnya telah diketahui sejak lama. Namun, selama ini virus ini hanya menyebabkan common cold akibatkan konsumsi hewan-hewan seperti kelelawar. Hingga muncul kasus pneumonia misterius yang menjangkiti orang-orang yang berhubungan erat dengan Huanan Seafood Market, China,” ungkapnya.

Dr. Resti menjelaskan bahwa virus ini menjadi berbahaya karena telah mengalami rekombinasi dan mutasi dari hewan pembawanya, yakni kelelawar yang menjadi komoditi pasar di Huanan. “Corona tingkat fatality-nya belum separah MERS dan SARS. Akan tetapi virus ini tetap memiliki potensi peningkatan fatality jika virus mengalami rekombinasi dan mutasi,” ujar Dr. Resti.

Deteksi dan Tatalaksana

Dr. Soedarsono, dr., Sp.P(K)  mengungkapkan bahwa diperlukan persepsi yang sama bagi seluruh tenaga medis demi penanganan yang tepat dan cepat atas virus corona. WHO sendiri menyarakan agar setiap negara menerapkan empat langkah pengendalian wabah, yakni deteksi dini, isolasi, penanganan kasus, dan pelacakan kontak.

“Manifestasi klinis dari virus corona terkadang tidak spesifik, seperti demam, batuk, nyeri otot, nyeri tenggorokan, malaise, dan sakit kepala. Tapi, gejalanya kemudian merujuk pada pneumonia, ARDS, sepsis, dan syok septik” katanya.

Deteksi dini sendiri pada dasarnya hanya pada dua poin, yakni gejala infeksi pernafasan akut dan gejala pneumonia. Namun, pada pasien usia lanjut terkadang tidak menunjukkan gejala khas, kecuali telah menunjukkan tanda pneumonia.

Dr. Soedarsono kemudian juga mengimbau tenaga medis mampu mengklasifikasi dengan tepat setiap suspect virus corona. Apakah mereka nantinya dalam pemantauan atau pengawasan. “Hendaknya kita tidak berlebihan dan panik. Jika memang pasien tidak menunjukkan tanda-tanda berarti, jangan langsung dirujuk ke rumah sakit pusat. Ada mekanisme pengawasan, pemantauan, dan komunikasi risiko yang bisa dilakukan oleh tiap rumah sakit rujukan,” ungkapnya.

Sementara, itu dalam sesi terakhir, Winariani Koesoemoprodjo, dr., Sp.P(K), MARS, FCCP mengingatkan pentingnya kebersihan bagi pencegahan dan pengendalian virus corona. Pencegahan tersebut meliputi etika batuk, penggunaan masker, cuci tangan, hingga manajemen limbah rumah sakit yang harus sistematis dan sesuai prosedur. “Dunia belum memiliki vaksinnya, maka hal paling baik yang bisa dilakukan semua pihak adalah menghindari hal-hal yang memungkinkan infeksi,” katanya. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu